Dollar Terus Menanjak, Masyarakat Kian ‘Sesak Napas’

0
1322

Jakarta, namalonews.com- Bank Indonesia pernah memperkirakan bahwa nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) pada akhir tahun ini berada di level Rp 13.550. Level tersebut lebih tinggi ketimbang patokan pemerintah dalam RAPBN 2018 di posisi Rp 13.500 per dollar AS.

Pada tahun ini, nilai tukar rupiah sudah mengalami depresiasi cukup dalam terhadap dollar Amerika Serikat (AS). Tahun ini, sudah jatuh 7,7% dari awal tahun. Tak terasa, dollar AS sudah naik tinggi.

Rupiah sudah mengalami perjalanan yang panjang sampai pada suatu waktu  dollar AS berada di kisaran Rp 13.000-an. Pada 25 tahun lalu, dollar AS hanya sebesar Rp 2.000 saja. Akan tetapi, kini  dollar AS sudah sudah melesat amat jauh.

Nilai dollar AS berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) kemarin (23/5/2018) tercatat Rp 14.192.

Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menjelaskan bahwa pada akhir tahun tekanan terhadap rupiah akan mereda. Hal ini karena faktor musiman sudah dilewati.

Akhir tahun lalu nilai dollar tercatat di kisaran Rp 13.500. Akhir tahun ini pun berada tidak jauh dari angka itu. Selain itu, asumsi pemerintah di anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) sebesar Rp 13.400.

“Akhir tahun akan kembali mendekati angka asumsi APBN. Itu angka yang cukup fair untuk rupiah akhir tahun,” ujar Josua.

Dia menjelaskan, penguatan dollar AS ini terjadi karena faktor musiman. Pemicunya adalah ekspektasi kenaikan bunga bank sentral AS, neraca perdagangan yang defisit hingga pembayaran dividen untuk perusahaan multinasional.

“Ini menyebabkan permintaan dollar naik,” kata Josua.

Josua menyebut, untuk menjaga kestabilan nilai tukar, bank sentral harus menempuh kebijakan lanjutan, setelah sebelumnya Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 4,5%.

“Bank Indonesia juga harus memperkuat open market untuk mendorong supply dollar. Selain, itu pemerintah juga harus meningkatkan ekspor dengan kualitas yang lebih baik dan bukan barang mentah,” ujarnya.

Menurut dia, defisit neraca transaksi berjalan ini turut memengaruhi nilai tukar. Josua menjelaskan saat ini current account masih dalam kondisi baik karena masih berada di bawah 3%.

Selain itu, BI juga harus mempertimbangkan kebijakan lain seperti giro wajib minimum (GWM) dan suku bunga.

“Di statement Gubernur BI kemarin mengungkapka bahwa BI akan menempuh langkah berikutnya untuk memperkuat stabilitas, ini juga pasti ditunggu pasar,” ujar dia.

Setelah sempat mencapai Rp 13.000, dollar AS sedikit menjinak dan kembali menyentuh Rp 8.000 pada April 1998. Namun pada Mei 1998, Indonesia memasuki periode kelam. Sampai akhirnya dollar AS menyentuh titik tertinggi sepanjang masa di Rp 16.650 pada Juni 1998. Pasca Orde Baru, Indonesia mengalami masa reformasi. Kepercayaan investor pun sedikit demi sedikit kembali, dan rupiah mulai menguat kembali.

Dolar AS terus melemah, dan mencapai Rp 8.000 pada Oktober 1998. Seiring berjalannya waktu, dolar AS pun kembali menguat.

Memasuki masa krisis finansial global di 2007 akibat krisis subprime mortgage di AS, nilai tukar rupiah sudah berada di kisaran Rp 9.000-10.000.

Pelemahan rupiah justru terjadi setelah krisis finansial berakhir dan mata uang negara-negara barat mulai pulih. Sekitar tahun 2009, dolar AS sudah berada di rentang Rp 11.800 hingga di atas Rp 12.000.

Sayangnya, Indonesia yang ketergantungan bahan bakar minyak (BBM) harus mengimpor dalam jumlah banyak tiap tahun. Pemerintah juga terus memberi subsidi kepada masyarakat sehingga konsumsi BBM tetap tinggi.

Tingginya impor ini memicu neraca perdagangan RI jadi defisit, besar pasak daripada tiang alias terlalu banyak impor ketimbang ekspornya. Akibatnya, secara perlahan dollar AS terus menanjak sampai menembus kisaran Rp 12.000 lagi.

Penulis: Sulis Sutrisna

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here