Ekonomi Indonesia Stagnasi, Elektabilitasi Jokowi Terpuruk

0
778

Jakarta, namalonews.com- Hingga hari ini pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) masih saja terus  berlangsung.

Bagaimana perkembangan sekilas nilai tukar rupiah terhadap dollar AS di era Presiden Jokowi?

Pada 20 Oktober 2014 atau bertepatan dengan saat Jokowi dilantik sebagai Presiden Republik Inonesia, dollar AS berada pada level Rp 12.030. Posisi tersebut terpantau lebih tinggi. Kemudian, pada 21 Agustus 2013 dollar AS ditukar dengan Rp 11.288.

Sempat menyentuh level Rp 14.710, penguatan dollar AS sempat mereda pada 20 Oktober 2015 yakni di level Rp 13.645. Dollar AS kembali menyentuh level Rp 14.000-an lagi pada 14 Desember 2015 yakni di 14.077.

Sejak saat itu, dollar AS bergerak pada rentang yang tak terlalu jauh dari Rp 13.300-13.400. Kemudian, pada 20 Oktober 2017, dollar AS bertengger di level Rp 13.500 sebelum akhirnya mereda pada 25 Januari 2018 yang tercatat di level  Rp 13.288.

Selanjutnya, gerak nilai tukar rupiah di awal perdagangan Kamis (24/5/2018) menunjukkan penguatan ke level Rp 14.192 per dollar AS dari posisi penutupan sebelumnya di level Rp 14.209 per dollar AS. Namun, penguatan tersebut tidak berselang lama karena, mata uang Garuda  terebut sempat menyentuh level Rp 14.212 per dollar AS.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudistira Adhinegara, memprediksi bahwa pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS akan terus berlanjut hingga akhir Mei, bahkan akhir tahun 2018. Proyeksinya adalah kurs berada di atas Rp 14.000 per dollar AS.

“Pelemahan nilai tukar Rupiah diprediksi akan terus berlanjut hingga akhir Mei 2018 terbuka peluang kurs terdepresiasi hingga Rp14.000 per USD-Rp14.200 per USD,” ujarnya.

Menyusul kian melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS tersebut hingga mencapai RP 14.000 per dollar AS, dalam pandangan pengamat ekonomi politik, Ichsanuddin Noorsy, bisa berpotensi besar menimbulkan krisis yang lebih besar bagi Indonesia.  Nilai tukar rupiah sebesar Rp 14.000 per dollar tersebut menurut Ichsanuddin, merupakan yang terlemah sejak Desember 2015.

Menurut Noorsy, krisis tahun 1997 yang melanda Indonesia disebabkan oleh faktor moneter, krisis tahun 2008 penyebabnya adalah perdagangan, dan krisis yang akan terjadi di tahun 2018 lebih berbahaya.

“Karena krisis yang akan dihadapi di 2018 ini pemicunya sekaligus dua, yakni moneter dan perdagangan,” katanya.

Menurut Noorsy, saat ini pemerintah masih bergantung pada kebijakan impor yang untuk memenuhi kepentingan hajat hidup orang banyak, termasuk pangan dan energi.

“Biaya bahan baku impor untuk makanan, daging dan pangan lainnya akan naik. Otomatis nanti akan ada inflasi, harga-harga naik. Sebentar lagi puasa dan lebaran. Ini mengkhawatirkan karena biaya hidup pasti naik,” kata Noorsy.

Selain itu, Noorsy juga menegaskan dengan makin lemahnya mata uang rupiah, kewajiban pemerintah untuk bayar pokok bunga utang semakin besar.

“Indonesia semakin sulit membayar cicilan dan bunga utang luar negeri. Apalagi utang swasta yang belum dilindungi nilai (hedging) akan naik,” kata Noorsy.

Noorsy sudah memprediksi bahwa perekonomian Indonesia akan mengalami stagnasi sejak tiga tahun lalu. Seharusnya dengan kondisi yang makin parah seperti saat ini, pemerintah harus mulai lepas dari investasi dan tenaga kerja asing.

Atas dasar itu, Noorsy berani menyimpulkan bahwa jika elektabilitas Presiden Joko Widodo yang saat ini relatif masih berada di atas calon presiden (capres) lain akan terus merosot.

Jokowi dinilai Noorsy sudah gagal memenuhi janji Trisakti, salah satunya soal kemandirian ekonomi.

“Elektabilitas Jokowi akan ambruk usai rupiah di angka Rp14 ribu. Menurut saya, #2019GantiPresiden makin menakutkan Jokowi dan dia tidak punya solusi apa pun. Malah, belakangan dia melawan tagar itu dengan tindakan diskriminatif karena panik,” kata Noorsy.

Penulis: Sulis Sutrisna

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here