Jelang Purna Tugas, Agus Dorong Rp 1000 Jadi Rp 1

0
981

Jakarta, namalonews.com- Mata uang rupiah dinilai memiliki angka nol yang terlalu banyak jika dibandingkan dengan mata uang dari negara-negara lain, sehingga redenominasi atau penyerderhanaan nilai uang dinilai menjadi langkah yang paling efisien dalam menjadi solusi bagi permasalahan ini.

Disampaikan oleh Agus Martowardojo, Gubernur Bank Indonesia (GBI), bahwa saat ini rupiah memiliki nominal yang terlalu banyak. Saat ini di Indonesia, US$ 1 itu kima digit rupiah, dengan kisaran sekitar Rp 13.800,- sampai Rp 14.200,0. nur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo menjelaskan saat ini rupiah memiliki nominal yang terlalu banyak. hal ini menyebabkan misalkan terjadi depresiasi 1%, itu sudah ada pelemahan nilai rupiah Rp 140,-.

“Di Indonesia,US$ 1 itu lima digit rupiah di kisaran Rp 13.800,- sampai dengan Rp 14.200,-. Jadi jika ada depresiasi satu persen saja, itu akan ada pelemahan Rp 140,-,” kata Agus di Gedung DPR, Selasa, 22 Mei 2018.

Agus berharap, di akhir masa jabatannya sebagai Gubernur Bank Indonesia, Komisi XI bisa mendorong rencana pelaksanaan redenominasi mata uang rupiah, yaitu mengurangi jumlah angka nol pada rupiah. Menurut Agus, redenominasi ini berbeda dengan sanering.

“Apabila bisa mendorong redenominasi mata uang, ya jadi jumlah angka nolnya dikurangi. Itu bukan sanering,” ujar dia.

Sanering adalah pemecahan nilai mata uang menjadi setengahnya, sehingga berbeda dengan redenominasi atau penyederhanaan mata uang. Sejak Indonesia merdeka, pemerintah pernah melakukan sanering atau pemotongan nilai mata uang, namun belum dengan redenominasi.

Agus menjelaskan sejak Indonesia merdeka, pemerintah memang pernah melakukan sanering atau pemotongan uang. Sanering memecah nilai mata uang menjadi setengahnya dan ini berbeda dengan redenominasi.

Terkait dengan perencanaan redenominasi mata uang rupiah, Bank Indonesia memang sudah beberapa kali mengajukan rencana adanya redenominasi untu masuk dalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas), namun rencana ini selalu gagal dan kalah dengan program-program lainnya. Agus menjelaskan bahwa saati ini, nilai tukar dolar AS tercatat berada pada kisaran Rp 14.180,- hingga Mei terdepresiasi 1,94%.

Pemangkasan Angka Nol pada Mata Uang Rupiah

Farial, selaku Pengamat Pasar Uang, menyampaikan bahwa redenominasi atau penyederhanaan mata uang rupiah sudah sangat perlu dilakukan. Menurutnya, besarnya nominal rupiah sangat memalukan dalam perekonomian dunia.

Kata Farial, sejak tahun 2010, mata uang Indonesia yaitu rupiah, masuk ke dalam kategori garbage money atau uang sampah. Mata uang Indonesia masuk 10 besar mata uang dengan nilai terendah terhadap dollar AS.

Farial mengatakan bahwa dengan pemangkasan tiga angka nol pada mata uang rupiah dapat membuat volatilitas rupiah terhadap mata uang lainnya tidak terkesan besar. Hal ini juga menjadi salah satu alasan mengapa money changer di negara lain tidak mau menerima rupiah.

“Tidak banyak money changer di negara lain yang mau menerima rupiah, padahal ada penukaran uang Malaysia, Singapura, dan Australia. Hanya ada beberapa tempat yang mau menukar dengan rupiah, alasannya karena nilai naik-turun rupiah yang terkesan besar”, ujar Farial.

Mengomentari terkait dengan penyederhanaan mata uang rupiah, ketua komisi XI, Melchias Marcus mengatakan bahwa untuk melakukan redenominasi atau penyederhanaan mata uang, Indonesia harus belajar banyak dari negara-negara yang telah berhasil melaksanakan redenominasi mata uang. Beliau memberikan contoh negara Turki, menurutnya Indonesia bisa meniru negar Turki yang telah berhasil melaksanakan redenominasi mata uang.

Hal ini didukung oleh ekonom INDEF, Bhima Yudhistira Adhinegara yang mengatakan bahwa redenominasi bisa meniru Turki yang melaksanakan redenominasi pada tahun 2005. Penerapan redenominasi di Turki membutuhkan waktu 10 tahun.

5 Tahun Kepemimpinan Agus Martowardojo

Selain menyinggung terkait dengan perencanaan adanya redenominasi mata uang rupiah, Agus juga menyampaikan hasil kinerjanya selama lima tahun, sejak tahun 2013 – 2018. Pemaparan ini disampaikan oleh Agus jelang purna jabatan di hadapan Komisi XI DPR RI pada hari Selasa, 22 Mei 2018.

Dalam pemaparan tersebut, Agus mengatakan bahwa selama lima tahun, Bank Indonesia berusaha untuk melaksanakan 3 fungsi utamanya. Fungsi yang pertama adalah kebijakan moneter yang kredibel dan konsisten. Fungsi ini diperkuat dengan adanya reformulasi kerangka operasional kebijakan moneter berupa implementasi BI 7-Day Reverse Repo Rate, implementasi Giro Wajib Minimum (GWM) rata-rata untuk memperkuat manajemen likuiditas bank, dan pendalaman pasar keuangan melalui pengayaan instrumen serta transaksi pasar uang.

Fungsi yang kedua adalah memperkuat kebijakan makroprudensial yang kredibel, proaktif, serta surveillance. Fungsi kedua ini diperkuat melalui implementasi Rasio Intermediasi Makroprudensial (RIM) dan Penyangga Likuiditas Makroprudensial (PLM), implementasi center of excellence pengawasan moneter, makroprudensial, sistem pembayaran dan pengelolaan uang rupiah, serta pengembangan ekonomi dan keuangan syariah.

Fungsi yang ketiga adalah kebijakan pengawasan, penyelenggaraan sistem pembayaran, dan proaktif. Fungsi ini diperkuat dengan pelaksanaan sinergi elektronifikasi dengan berbagai program pemerintah, implementasi Gerbang Pembayaran Nasional (GPN), implementasi Fintech Office untuk mengatur dan memantau penerbit teknologi finansial, implementasi ketentuan kewajiban penggunaan rupiah, serta peningkatan jangkauan layanan kas untuk meningkatkan ketersediaan uang di seluruh Indonesia.

Rencana Redenominasi Dilanjutkan Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia 2018

Rencana pelaksanaan redenominasi atau penyederhanaan mata uang rupiah dari Rp 1000 menjadi Rp 1 yang direncanakan oleh Agus Martowardijo, selanjutnya akan dilaksanakan oleh Peey Warijo, selaku Gubernur Bank Indonesia terpilih tahun 2018 – 2023.

Sebelumnya, rencana penyederhanaan mata uang sudah diajukan sejak tahun 2010 saat Bank Indonesia dipimpin oleh Darmin Nasution yang kini menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Perekonomian di bawah kabinet Presiden RI Joko Widodo. Pada saat itu, rencana penyederhanaan mata uang rupiah belum terlaksana.

Pada periode kepemimpinan Agus Martowardijo sejak tahun 2013 – 2018, rencana penyederhanaan mata uang atau redenominasi ini semakin gencar, namun hingga berakhirnya masa jabatan Agus Martowardijo, rencana redenominasi mata uang ini belum terealisasi.

Kini, pada tahun 2018, jabatan Gubernur Bank Indonesia telah beralih kepada Perry Warijo. Adapun perencanaan redenominasi yang sudah direncanakan oleh para Gubernur BI sebelumnya akan beralih menjadi tanggung jawab Perry Warijo. Bagaiama kelanjutan tentang pelaksanaan redenominasi mata uang rupiah, akan dibuktikan dengan kinerja Perry Warijo selama masa jabatannya sebagai Gubernur Bank Indonesia.

Sebelumnya, Dewan Perwakilan Rakyat RI telah menetapkan Perry Warjiyo secara resmi sebagai Gubernur Bank Indonesia beserta Dody Budi Waluyo sebagai Deputi Gubernur BI untuk periode 2018 – 2023. Penetapan ini dilaksanakan dalam Rapat Paripurna yang juga dihadiri oleh Gubernur BI Agus Martowardijo dan para Deputi Gubernur.

Rapat Paripurna tersebut secara musyawarah mufakat menetapkan Perry Warjiyo dan Dody Budi Waluyo sebagai Gubernur B dam Deputi Gubernur BI periode 2018 – 2023. Dengan terpilihnya Dewan Gubernur Bank Indonesia yang baru, Wakil Ketua Komisi XI DPR RI, Hafiz Thohir berharap bahwa Dewan Gubernur BI terpilih dapat menjaga stabilitas perekonomian nasional dalam menghadapi adanya potensi perekonomian global yang bergejolak.

Penulis: Sulis Sutrisna/ Berbagai Sumber

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here