Pengakuan Adik Kelas Dita Oepriarto, Pelaku Bom Bunuh Diri

0
290

Jakarta, namalonews.com- Nama Dita Oepriarto sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia akhir-akhir ini. Dita Oepriarto adalah pelaku bom bunuh diri yang meledak di tiga Gereja di Surabaya. Dalam melakukan peledakan bom yang menggemparkan Kota Surabaya, Dita mengajak istri dan putra-putrinya. Peledakan bom bunuh diri ini mengakibatkan beberapa orang meninggal dunia dan puluhan orang terluka, termasuk di antaranya adalah security, dan anggota kepolisian.

Akhir-akhir ini tengah hangat pengakuan seorang netizen, Ahmad Faiz Zainuddin dalam akun facebook miliknya. Dalam postingan panjang yang ditulis di akun facebook pribadinya, Ahmad Faiz mengaku sebagai adik kelas Dita Oepriarto sewaktu di SMA 5 Surabaya dan di FE UNAIR Surabaya meskipun tidak begitu mengenal Dita.

Sebelumnya, Dita Oepriarto meledakkan diri serta mengajak dan membagi tugas dengan seluruh anggota keluarganya untuk melakukan aksi bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya. Dita mengajak Puji Kuswati, istri Dita, kedua anak laki-laki Dita, serta kedua anak perempuannya.

Dalam melakukan aksi pengeboman tersebut, Dita beserta semua anggota keluarganya meninggal dunia dan turut menyebabkan beberapa orang meninggal dunia dan puluhan orang terluka parah.

Menurut Kapolri, Jendral Tito Karnavian, bom bunuh diri yang dilakukan oleh satu keluarga ini dilakukan dengan berbagi tugas. Dita melakukan aksi bom bunuh diri menggunakan mobil untuk menyerang Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS). Ia mengendarai mobil Avanza sendirian, kemudian menabrakkannya ke gedung gereja serta meledakkan diri.

Kemudian, istri Dita, Puji Kuswati melakukan penyerangan di Gereja Kristen Indonesia di Jalan Diponegoro dengan menggunakan bom bunuh diri. Selain itu, Puji Kuswati juga mengajak kedua putrinya untuk melakukan aksi bom bunuh diri tersebut. Bom yang digunakan untuk meledakkan diri tersebut diikatkan di pinggang.

Selanjutnya, kedua anak laki-laki Dita dan Puji Kuswati juga mendapatkan tugas untuk melakukan penyerangan di Gereja Santa Maria Tak Bercela di Jalan Ngagel Madya. Kedua anak laki-laki Dita melakukan aksinya dengan mengendarai sepeda motor secara berboncengan dengan memangku bom. Mereka mengendarai sepeda motor kemudian mencoba menerobos parkiran gereja. Ketika berhenti karena dihadang oleh petugas keamanan Gereja Santa Maria Tak Bercela, bom yang dipangku itu kemudian meledak dan turut menewaskan keduanya.

Pengakuan dan Cerita Ahmad Faiz Zainuddin tentang Dita Oepriarto

Ahmad Faiz Zainuddin melalui akun facebook pribadinya menuliskan pengakuan panjang yang menceritakan tentang dirinya menjadi adik kelas dari Dita, pelaku bom bunuh diri Gereja Surabaya. Selain itu, Ahmad Faiz juga menceritakan mengenai pengalaman dan komentarnya mengenai radikalisme ekstrim yang diketahuinya sewaktu SMA dan kuliah.

Pada postingannya yang berjudul “DARI ISLAM MURAM DAN SERAM, MENUJU ISLAM CINTA DAN RAMAH”, Ahmad Faiz mengaku cukup mengenal Dita Oepriarto karena merupakan adik kelasnya dan pernah bersama-sama menjadi anggota organisasi rohis SMA 5 Surabaya.

Selain itu, menurut Dita, kepribadian Dita mengenai paham radikal bebas sudah terbentuk sejak Dita aktif di kegiatan Organisasi Rohis di SMA.

“Banyak juga orang-orang baik di Rohis, jadi jangan digeneralisir karena ulah Dita ini, termasuk tidak mencurigai aktivitas-aktivitas di kampus”, kata Ahmad Faiz dalam suatu diskusi yang berjudul Setelah Mako Brimob dan Bom Surabaya yang diadakan di Menteng, Jakarta.

Faiz berpendapat bahwa paham radikalisme yang dimiliki oleh Dita tidak diperoleh dari pendidikan dan pergaulan di rohis yang tidak benar, melainkan adanya penyusup yang menanamkan paham radikalisme bebas.

Dalam postingannya, Faiz juga bercerita bahwa apa yang dikhawatirkannya 25 tahun yang lalu akhirnya terjadi. Paham radikalisme yang sudah tertanam pada anak-anak seusia SMA sekitar 25 tahun lalu masih bertahan kuat hingga sekarang dan puncaknya adalah bom di gereja Surabaya.

Faiz bercerita bahwa dulunya dia sering berkeliling dari satu pengajian ke pengajian lain untuk memahami pola pemikiran serta suasana batin dari berbagai aktivis Islam. Ada kelompok aktivis yang mengadakan pengajian dan menentramkan hati. Ada beberapa pengajian yang dapat menggerakkan rasa kepedulian sosial, serta ada yang membantu memahami warna-warni agama Islam dan pola pergerakannya.

Pada pengajian-pengajian yang diadakan oleh beberapa kelompok aktivis Islam tersebut juga terdapat kelompok yang mengajarkan paham ekstrimisme radikalisme bebas. Bahkan acara rekreasinya saja berupa simulasi perang-perangan, kemudian malam harinya digunakan untuk penanaman paham Islam garis keras.

Diantaranya ada juga pengajian yg isinya menyemai benih2 ekstrimisme radikalisme. Acara rihlah (rekreasinya) saja ada simulasi game perang2an. Acara renungan malamnya diisi indoktrinasi islam garis keras”, lanjutan tulisan Ahmad Faiz dalam postingannya di akun facebook.

Dari hasil penjelajahannya ke berbagai kelompok aktivis Islam beserta pengajiannya, yang paling ekstrim menurut Faiz adalah pemahaman versi Dita Oepriarto. Ahmad Faiz berpendapat bahwa paham radikalisme sudah tertanam dengan kuat pada diri Dita sejak 30 tahun yang lalu.

Saya sedih sekali akhirnya ini benar2 terjadi, tapi saya sebenarnya tidak terlalu kaget ketika akhirnya dia meledakkan diri bersama keluarganya sebagai puncak “jihad” dia, karena benih2 ekstrimisme itu telah ditanam sejak 30 tahun lalu”

 

Ahmad Faiz juga memberikan cerita bahwa pada saat itu, di sekolahnya, SMA 5 Surabaya, mengenai perjuangan umat Islam seperti jihad yang menceritakan para mujahid-mujahid yang berjuang dalam peperangan sangat digemari oleh siswa-siswi. Ketua Rohisnya di SMA 5 Surabaya pun juga memiliki pemahaman yang keras terhadap kegiatan-kegiatan di sekolahan. Ketua Rohis pada saat itu, menolak untuk mengikuti upacara karena menganggap hormat kepada bendera merah putih adalah syirik. Kemudian dia juga menganggap menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya merupakan sesuatu yang bid’ah, serta pemerintahan Indonesia adalah thaghut.

Menurut Faiz, pada kala itu, pihak sekolah tidak memberikan tanggapan yang serius terhadap hal ini, dikarenakan pada saat itu belum banyak bom-bom serta teroris, semua paham radikalisme baru sekedar gerakan pemikiran.

Akan tetapi, memahami apa yang disampaikan Faiz, meskipun dulu hanya gerakan pemikiran, namun pemahaman tersebut tertanam kuat, dan terbukti bisa bertahan hingga kini. Bahkan awal pemikiran ini kini telah mampu membawa orang-orang lain masuk ke dalam pemahaman radikal bebas tersebut.

Yg ingin saya katakan, Terorisme dan budaya kekerasan yg kita alami saat ini adalah panen raya dari benih2 ekstrimisme-radikalisme yg telah ditanam sejak 30-an tahun yg lalu di sekolah2 dan kampus2. Saya tidak mengetahui kondisi sekolah dan kampus saat ini, tetapi itulah yg saya rasakan jaman saya SMA dan kuliah dulu”

Dengan ini, dapat dijadikan pelajaran bahwa paham-paham radikal bebas memang harus dibersihkan karena efeknya akan bertahan dan akan menghasilkan suatu tindakan yang merugikan berbagai pihak. Meskipun saat ini hanya sekedar pemikiran, akan tetapi pemikiran akan bertahan dan menghasilkan terbentuknya pihak-pihak yang dapat berbuat seperti apa yang beberapa waktu terakhir terjadi di Sidoarjo dan Surabaya.

Penulis: Sulis Sutrisna/ Berbagai Sumber

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here