Polisi Cepat Bertindak Jika Korbannya Penguasa

0
187

Jakarta, namalonews.com- Bukan rahasia lagi bahwa jika yang menjadi korban dalam suatu tindak  kejahatan adalah penguasa atau pejabat, aparat penegak hukum atau polisi cepat bertindak. Polisi bekerja dengan cepat sehingga pelaku tindak kejahatan yang korbannya adalah penguasa atau pejabat tersebut dapat ditangkap dalam waktu cepat pula.

Kesigapan aparat kepolisian dalam mengusut tindakan seorang pemuda bertelanjang dada yang memaki-maki Presiden Jokowi  dan  viral pada sebuah video pendek, mendapat apresiasi Koordinator Komunitas Tionghoa Anti Korupsi (KomTak), Lieus Sungkharisma.

Lieus memuji kesigapan aparat kepolisian yang langsung menangkap seorang pemuda  penghina Presiden Joko Widodo dalam waktu tidak sampai 24 jam.

“Salut untuk aparat kepolisian yang sangat sigap bertindak,” kata Lieus, Kamis (24/5/2018).

Dalam video tersebut, seorang pemuda memaki-maki dan menyebut Jokowi sebagai kacungnya dan menantang Kepala Negara untuk menangkapnya dalam waktu 24 jam atau dia akan membunuh presiden.

Dalam video berdurasi tak kurang dari lima menit itu, pemuda berkaca mata itu mengancam Presiden Jokowi sambil telanjang dada.

“Gue tembak lo ya, gue pasung lo,” ujar pemuda itu sambil menunjuk-nunjuk foto Presiden Jokowi dengan tangan kirinya.

Selain mengancam akan menembak, pemuda itu juga menghina-hina Presiden Jokowi dengan kata-kata yang tidak etis.

Kontan saja. Video itu langsung mendapat banyak reaksi. Bersyukur polisi langsung bertindak. Tidak membutuhkan waktu lama, aparat kepolisian langsung menciduk pemuda tersebut.

“Kalau saja terhadap semua ujaran kebencian dan perbuatan penghinaan itu polisi bertindak cepat seperti itu, pastilah kejadian seperti ini tidak terus terulang,” kata Lieus.

Namun, ia juga mempertanyakan atas kasus-kasus penghinaan terhadap sejumlah ulama yang sampai saat ini malah tak jelas.

“Terhadap laporan saya tentang penghinaan terhadap Habib Rizieq, sampai kini tidak jelas apa tindakan polisi. Padahal, laporan itu sudah berbulan-bulan yang lalu saya lakukan,” kata Lieus.

Jadi, tambah Lieus, tindakan kepolisian ini semakin menegaskan bahwa memang ada diskriminasi dalam penegakan hukum di negeri ini.

“Polisi akan bertindak cepat kalau korbannya adalah pihak penguasa atau pendukung penguasa. Sebaliknya, akan bertindak sangat lamban kalau korbannya bukan dari pihak penguasa atau pendukung penguasa,” ujar Lieus.

Dia mencontohkan laporan masyarakat tentang penghinaan seorang warga China bernama David terhadap Tuan Guru Bajang serta laporan atas penghinaan yang dilakukan Sukmawati terkait kumandang azan.

“Semua laporan itu tak jelas ke mana larinya,” jelas Lieus.

Namun demikian, lanjut Lieus, apa pun motivasi dan alasannya, dia berharap masyarakat menghentikan penyebaran ujaran kebencian ataupun cara-cara penghinaan melalui media sosial ini.

“Jangankan kepada kepala negara, terhadap sesama rakyat pun hal itu tidak boleh dilakukan,” ujarnya.

Ditambahkannya, kalau memang kita tidak suka dengan Presiden atau partai yang berkuasa sekarang, maka cara terbaik untuk menunjukkan ketidaksukaan itu adalah jangan pilih lagi presiden dan partai itu pada pemilu dan pilpres 2019 mendatang.

“Tidak boleh dengan cara menyebarkan ujaran kebencian seperti yang dilakukan pemuda  tersebut,” demikian Lieus Sungkharisma.

Penulis: Sulis Sutrisna

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here