Sering Kritik Jokowi, Ali Mochtar Malah Dipanggil ke Istana

0
188

Jakarta, namalonews.com- Politikus Partai Golongan Karya, Ali Mochtar Ngabalin tak menyangka jika dirinya pada hari Selasa (22/5) dipanggil oleh Presiden Joko Widodo untuk menghadap ke Istana. Ternyata, saat di Istana, politikus yang sering mengkritik Jokowi ini diminta untuk membantu Presiden yang juga mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut untuk mengurus negara.

Dalam hal ini, Presiden Joko Widodo menunjuk Ali Mochtar sebagai seoarang tenaga ahli utama eselon satu di lingkaran Istana Negara. Jabatan tersebut adalah dibawah koordinasi dari Kantor Staf Kepresidenan. Artinya Ali akan diminta untuk menjelaskan program kerja serta capaian pemerintah pada masyarakat luas.

“Iya, saya jadi tenaga ahli utama untuk KSP,” terang Ali.

Ali menceritakan jika dirinya sebelumnya telah berdiskusi panjang dengan Pratikno selaku Menteri Sekretaris Negara sebelum akhirnya ia dipanggil Presiden Jokowi ke Istana. Karena ia merasa jika dirinya memang mempunyai pengalaman yang cukup, Ali pun menerima tantangan yang diberikan oleh presiden tersebut.

Artinya, Ali nantinya akan menjadi mulut, mata serta telinga dari orang nomor satu di Tanah Air Indonesia tersebut.

“Saya akan menjelaskan soal capaian pemerintah, menjadi mulit, mata dan telinga Presiden, memberikan penjelasan pada publik,” terang Ali saat ditemui pada Rabu (23/5).

Dalam pertemuannya dengan Jokowi tersebut, Ali mengungkapkan jika sejumlah pesan sudah disampaikan oleh salah satu politikus dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan tersebut. Dan dirinya pun mengaku siap untuk mengemban tugas yang akan diberikan oleh Presiden Jokowi tersebut.

Ali menjelaskan jika presiden menyampaikan jika tim yang terdiri dari empat orang tersebut diharapkan dapat membangun satu semangat untuk bekerjasama. Ia mengibaratkannya dengan memainkan orchestra yang harus bisa sejalan agar pesan serta maknya yang disampaikan bisa dimengerti oleh masyarakat kebenarannya secara detail.

Selain itu, harapannya tim terbut bisa menjelaskan kebenaran tentang kerja-kerja serta capaian dari pemerintah yang selama ini dikerjakan tersebut dapat terekspos dan terpublikasi dengan baik.

“Kedua, Presiden juga menyampaikan soal pesan agar jangan sampai kita memperoleh serangan atau apa itu pengertiannya, baru kemudian sibuk membela diri, padahal ya tidak,” terang Ali.

Terkait dengan pekerjaan yang disebutnya sebagai tantangan baru tersebut, Ali secara khusus akan memegang komunikasi untuk bidang politik. Dan ia akan secara rutin melakukan diskusi dengan orang nomor satu di Indonesia tersebut minimal sekali dalam satu pekan.

Selain itu, dijelaskan juga tidak menutup kemungkinan apabila tim ini nantinya juga akan ikut dalam sejumlah agenda lawatan yang dilakukan Jokowi di berbagai daerah.

“Saya juga menawarkan diri supaya pada waktu-waktu Presiden bertemu dengan masyarakat, kalau mungkin ada hal-hal terkait yang perlu dijelaskan, kami bisa menjelaskan,” kata Ali.

Terkait dengan terpilihnya dirinya menjadi salah satu staf yang akan bertugas di bawah Deputi empat KSP yang membidangi komunikasi politik serta diseminasi informasi tersebut, awalnya Ali sendiri menjelaskan jika ia dihubungi oleh Staf Khusus Presiden yaitu Nico Harjanto.

Dalam hal ini, Nico menyampaikan pesan yang diberikan oleh Menteri Sekretaris Negara yaitu Pratikno yang kemudian mengajaknya untuk bergabung demi membantu pemerintah.

“Ya saya berterimakasih, tenaga, pikiran, waktu dan ilmu saya, saya persembahkan ke negara,” jelas Ali soal hal tersbeut.

Ali sendiri mengaku bahwa dirinya memang sering melontarkan kritik terkait dengan pemerintahan yang dipimpin Jokowi tersebut. Akan tetapi, ia beralasan jika ia bersedia masuk ke dalam pemerintahan Jokowi tersebut supaya dirinya bisa menjadi penyambung antara kepentingan pemerintah dan kepentingan ulama juga.

Lagipula, menurut Ali Mochtar, tidak aga yang adabi jika membicarakan soal politik. “Politik itu kan sebenarnya dinamis,” tegasnya.

Ia juga menambahkan bahwa ia pikir awak media yang menemuinya tersebut juga sudah mengetahui jika politik itu memang dinamis. Dan Ia juga menambahkan jika kedinamisan dalam politik tersebut lah yang membuat khasanah politik menjadi kaya.

Terkait dengan kejelasan jabatan dari Ali Mochtar di Istana sendiri, Eko Sulistyo selaku Deputi IV Kepala Staf Kepresidenan menegaskan jika Ali bukan ditunjuk sebagai staf khusus presiden melainkan sebagai tenaga ahli utama untuk bidang komunikasi politik.

“Pak Ali Ngabalin itu diterima sebagai tenaga ahli utama, levelnya itu eselon IB di deputi IV KSP, komunikasi politik. Saya tegaskan jika Pak Ngabalin ini bukan staf khusu presiden,” terang Eko saat ditemui di Gedung Bina Graha, Komplek Istana Kepresidenan pada Rabu (23/5).

Dalam kesempatan ini Eko juga menjelaskan jika fungsi komunikasi politik di Kedeputian IV KSP itu adalah untuk melakukan komunikasi dengan kelompok yang strategis seperti misalnya pondok pesantren, mubaligh, para petani, serikat pekerja dan lain sebagainya.

Lebih lanjut, Eko menjelaskan jika Ali Mochtar Ngabalin ini diangkat melalui SK Kepala Staf Presiden bukan melalui Keputusan Presiden.

“Kalau staf khusus itu (diangkat dengan) dasar hukum Keppres, tetapi dia tegana ahli utama KSP, jadi diangkat oleh SK Kepala KSP,” jelasnya.

Terkait dengan pengangkatan Ali sendiri, Eko menegaskan jika hal tersebut bukan sebuah bentuk konsolidasi politik. Pengangkatan Ali tersebut memang dilakukan dengan berbagai pertimbangan. Salah satunya adalah karena Ali diaggap dapat menjalankan komunikasi politik dengan berbagai kelompok strategis yang ada.

Ali Mochtar Ngabalin sendiri merupakan salah satu politisi konservatif dari Partai Golongan Karya (Golkar). Sosoknya juga dikenal sebagai Direktur Politik untuk tim sukses Prabowo Subianto pada Pemilihan Presiden 2014 lalu.

Pengangkatan pria yang lahir di Fakfak ini memang sempat menjadi sebuah kejutan karena ia diketahui selama ini sebagai sosok dengan sepak terjang yang berseberangan dengan pemerintahan Presiden Jokowi. Seperti yang diketahui, ia sempat beberapa kali memicu kontroversi sejak ia aktif berpolitik.

Salah satu sepak terjangnya yang kala itu menimbulkan kontroversi adalah ucapannya saat Joko Widodo dinyatakan menang dalam Pilpres 2014 lalu dan ia menyebut bahwa dirinya akan mendesak Allah untuk berpihak pada kebenaran dan berpihak pada Prabowo-Hatta.

Ucapannya yang disebut ‘nyeleneh’ tersebut dikatannya saat acara halal bihalal yang dilakukan oleh pendukung pasangan Prabowo-Hatta di rumah Polonia. Saat itu, ia bahkan mengucapkan bahwa ia mendesak Allah untuk menurnkan bala tentaranya untuk menolong Prabowo.

Dan setelah MK menolak banding yang dilakukan oleh Gerindra terkait dengan hasil Pilpres 2014, Ali kembali melontarkan tuduhan yang tidak sedap terhadap sosok Jokowi dan Jusuf Kalla yang terpilih menjadi Presiden dan Wakil Presiden.

“Jokowi dan JK manusia yang otoriter, mari kita gunakan kekuatan 67 juta masyarakat Indonesia untuk menjadi penyeimbang,” katanya kala itu.

Selain itu, dia juga dikenal sebagai sosok yang mendukung Rizieq Shihab. Saat itu, ia mengatakan jika ada yang tidak beres dengan pemerintahan dan penangkapan Rizieq tersebut merupakan upaya pengalihan isu.

Dan sebelum bergabung ke Golkar, sebelumnya ia ada di PBB dan sempat juga bersaing sengit dengan MS untuk menjadi calon Ketum PBB periode 2010-2015.

Penulis: Sulis Sutrisna/ Berbagai Sumber

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here