Abraham Samad Maju Jadi Capres 2019 PKS Nilai Tak Cocok

0
134

Jakarta, namalonews.com- Mantan Ketua KPK Abraham Samad telah menyatakan diri bahwa ia siap untuk menjadi calon presiden pada Pilpres 2019. Langkah yang diambil oleh mantan ketua Komisi Pemberantasan Korupsi ini memang serius.
Abraham Samad telah menyambangi kantor Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang berada di kawasan T.B. Simatupang, Jakarta, Kamis, 24 Mei 2018. Abraham datang dengan memakai baju koko putih dengan peci hitam didampingi ajudannya yang memakai busana senada.
Dirinya tiba di kantor DPP PKS sekitar pukul 13.40. Sesampai di depan pintu masuk, Abraham langsung melemparkan senyum dan menunjukkan dua jari jempol ke awak media yang telah menunggunya. “Halo selamat siang,” katanya.
Setelah Samad menyapa para wartawan, kemudian ia langsung naik dengan menggunakan lift untuk menemui presiden PKS Muhammad Sohibul Iman. “Nanti ya setelah bertemu Presiden PKS,” kata ajudan yang menemaninya itu.
Berdasarkan pada undangan yang telah beredar, agenda Abraham Samad ke DPP PKS untuk bersilaturahmi dengan Presiden PKS Muhammad Sohibul Iman serta jajaran pengurus partai itu. Menurut informasi undangan tersebut, kedatangan Abraham dalam kerangka komunikasi politik yang dijalinnya.
Apalagi sesudah sejumlah relawan yang berada di Palembang, Padang, juga Makassar mendeklarasikan Abraham Samad sebagai calon presiden 2019-2024. Sejak saat itu, Abraham sudah mulai membuka komunikasi politik dengan sejumlah partai politik.
Abraham Samad kini telah melangkah ke markas PKS. Samad merapat ke PKS di tengah rencana pencapresannya. Padahal PKS adalah partai yang dulu pernah coreng-moreng gara-gara KPK pada saat masa kepemimpinan Samad, dirinya pernah mengusut pemimpin partai itu, Luthfi Hasan Ishaaq.
Fahri Hamzah, politisi yang loyal terhadap Luthfi Hasan Ishaaq, ingat betul bagaimana sepak terjang Samad sekitar empat tahun lalu. Samad disebut memiliki dosa terhadap PKS.
“Makanya saya nggak setuju dia jadi capres PKS, karena dia punya dosa yang tidak bisa dimaafkan. Karena PKS hampir bubar gara-gara dia menangkap LHI menjelang Pemilu 2014,” kata Fahri Hamzah kepada detikcom, Jumat (25/5/2018).
Abraham Samad merupakan seorang pria kelahiran 27 November 1966, menjadi Ketua KPK dari tahun 2011 sampai 2015. Sosok Samad memiliki sejarah kelam tersendiri yang membekas di benak Fahri, kaitannya dengan LHI tentu saja.
Memang Fahri menolak pencapresan Samad. Fahri juga telah memiliki kandidat capres atau cawapres, yakni mantan Presiden PKS Anis Matta yang masuk dalam sembilan nama capres PKS. Maka posisi yang cocok untuk Samad yang “berdosa” itu bukanlah sebagai capres atau cawapres, melainkan:
“Samad cocok jadi Jaksa Agung. Nanti kalau Anis Matta Presiden, saya usulkan dia masuk kabinet,” ujar Fahri.
Di sisi lain, dia juga mendukung Prabowo dan memandang koalisi bersama Prabowo (Partai Gerindra) di Pilpres 2019 sebagai kepastian untuk PKS. Bagaimanapun formasinya capres-cawapres hasil koalisi nanti, Fahri rela mendukung Samad sebagai penegak hukum.
“Kalau kita presiden kita usulkan supaya Samad jadi Jaksa Agung. Semoga bisa diterima,” ujar Fahri.
PKS tetap bersikukuh dengan sembilan nama capresnya. Samad akan ditawari kursi menteri, bukan capres-cawapres.
“PKS menerima semua pihak yang silaturahim. Tapi posisi PKS tetap mengajukan sembilan kadernya (kandidat capres),” kata Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera Jumat (25/5/2018).
Usai kamis kemarin dilakukan pertemuan dengan Samad, Presiden PKS Sohibul Iman menyatakan bakal membawa pembahasan pencapresan Samad ke Majelis Syuro, yaitu lembaga tertinggi partai itu. Mardani, yang juga menjadi salah satu dari sembilan kandidat capres PKS, meski peluang Samad untuk menjadi capres-cawapres usungan PKS nol, namun bukan berarti silaturahmi kemarin sia-sia.
“Semua opsi masih terbuka. Komunikasi membuat tiap kita kian dekat dan kian mengenal dan bisa bekerja sama,” ujar Mardani.
Bila opsi pencapresan atau pencawapresan telah tertutup, maka opsi apa lagi yang masih terbuka untuk Samad? Mardani kemudian bicara tentang kursi menteri untuk Samad.
“Kita nggak cuma umumkan capres dan cawapres, tapi sekitar 10 kementerian utama. Sudah tahap finalisasi,” kata Mardani.
Setelah pertemuan yang berlangsung di kantor DPP PKS, Jl TB Simatupang, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Kamis (24/5/2018), Presiden PKS Sohibul Iman menyampaikan pujiannya terhadap niat Samad itu, meski kunjungannya itu tak membahas Pilpres 2019.
Sohibul menyatakan,”Ya saya tahulah Pak Abraham punya keinginan ke sana (pilpres) tapi tidak, nggak ada pembicaraan ke sana, tapi saya mengapresiasi kalau Pak Abraham mau maju, ya saya apresiasi.”
Akan tetapi dalam pertemuan tersebut Sohibul mengingatkan ambang batas pencapresan adalah 20% kursi DPR atau 25% suara nasional. PKS sendiri hanya punya 6%. Jadi PKS tak bisa mengajukan capres sendiri.
“Kita tadi sudah bahas memang di negeri ini ada aturan seperti 20 persen. President threshold saya kira ini satu hal yang memang harus dilewati oleh siapa pun yang nyalon, dan PKS posisinya cuma punya 6 persen,” imbuh Sohibul.
Ketika ditanya apakah PKS akan mempertimbangkan Abraham untuk maju di Pilpres 2019 sebagai cawapres atau capres, Sohibul mengatakan perkara itu bakal dia sampaikan ke Majelis Syuro, lembaga tertinggi partai ini.
“Baru saja ketemu. Kan itu harus ada Majelis Syuro, nanti kita sampaikan di Majelis Syuro,” ucap Sohibul.
“Jadi Pak Abraham bicara pengalaman tentang beliau sebagai Ketua KPK dulu. Beliau melihat ke depan sebetulnya pemberantasan korupsi itu bisa dilakukan,” kata Sohibul seusai pertemuan dengan Abraham.
Samad sendiri menuturkan bahwa pertemuan dengan Sohibul memang tidak membicarakan soal pencalonan di Pilpres 2019. Pertemuan tersebut merupakan silaturahmi dan diskusi untuk menyatukan pandangan terhadap problem kebangsaan yang dihadapi negara ini.
“Dari situ kami bisa lihat apa-apa yang harus kami kerjasamakan, apa-apa yang kami harus bangun agar negeri dan bangsa ini lebih baik,” ujarnya.
Di luar pertemuannya dengan presiden PKS, kini Abraham Samad mulai bergerilya, dan tampaknya bakal terus menjajaki komunikasi dengan pelbagai parpol pada tahun politik ini. Apa golnya?
Langkah Samad meniti jalur politik kian mantap sejak dia mendeklarasikan diri menjadi calon presiden, mengambil tempat di anjungan Pantai Losari, Makassar, pada 7 Mei 2018. Tema orasinya saat itu adalah anti korupsi.
PKS bukanlah partai satu-satunya yang menjadi tujuan Samad dalam gerilya politik ini. Dia akan melangkah ke markas partai lain, yakni Partai NasDem.
“Mungkin saya akan ke NasDem kalau Pak Surya Paloh sudah pulang dari luar negeri,” kata Samad.
Membangun komunikasi politik adalah tujuannya. Soalnya, Samad bukanlah orang parpol, maka yang bisa dia lakukan adalah menyampaikan gagasannya tentang perubahan besar ke arah yang lebih baik.
“Ya saya paham betul bahwa saya bukan orang parpol. Karena itu, cara kita, apa yang kita jalani sekarang, membangun komunikasi politik,” kata Samad.
Gol Samad ada di antara dua gawang, yakni gawang pencapresan dan gawang pencawapresan. Bahkan gawang pencawapresan juga berada di dua capres, yakni Jokowi atau Prabowo. Dia tak berkeberatan menjadi cawapres Jokowi atau Prabowo, asalkan mereka sepakat, ya ayo.

Penulis: Sulis Sutrisna/ Berbagai Sumber

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here