Indonesia import beras yang dengan bandrol Rp. 8. 400/ Kg

0
156

Jakarta, namalonews.com- Negara Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki tingkat kebutuhan beras yang tinggi. Hal ini karena penduduknya yang padat, sedangkan kebutuhan beras masih belum mencukupi. Sehingga pemerintah melakukan impor beras untuk konsumsi yakni 500 ribu ton yang dilakukan selama 2 kali pengiiriman.
Semakin banyak jumlah impor inilah yang membuat pengadaan beras dari luar negeri bisa mencapai 1 juta ton. Kemudian sekitar tanggal 15 Januari 2018 yang lalu pemerintah membuat sebuah keputusan untuk impor beras yakni 500 ribu ton.
Berita ini mulai muncul setelah adanya laporan dari Saigon Times pada 2 April 2018 yang menyatakan bahwa terdapat tambahan ekspor beras dari Vietnam ke Indonesia yakni sebanyak 300 ribu ton. Ketua Vietnam Food Association (VFA), Nguyen Ngoc Nam, menyatakan bahwa impor beras 300 ribu ton tersebut adalah sebuah transaksi ketiga dari sepanjang tahun 2018.
Bahkan lebih lanjut, Saigon Times menyatakan bahwa ada tambahan 200 ribu ton beras dari Thailand, sehingga jumlah impornya genab 500 ribu ton. Hal ini berartitotal Indonesia telah melakukan impor beras sebanyak 1 juta ton.
Terdapat sumber Katadata dalam hal ini mengisyaratkan bahwa tindakan tersebut benar karena ada kebijakan pemerintah untuk mengimpor beras tambahan. Sampai saat ini bentuk alasannya belum disebutkan secara jelas, namun ada kemungkinan impor tersebut dilakukan untuk stabilisasi harga.
Sedangkan dari pihak Direktur Pengadaan Perum Bulog Andrianto Wahyu Adi ketika dilakukan konfirmasi menyatakan menolak berkomentar terkait kebijakan pemerintah melakukan impor. Andrianto kepada Katadata pada Kamis, 25 April lalu, berkata “Masalah importase beras, sumber info satu pintu di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian,”.
Pada tahapan pertama negara Indonesia melakukan impor beras sebanyak 500 ribu ton yang dilakukan dengan 2 kali pengiriman. Diantaranya beras tersebut di datangkan dari negara Vietnam yakni 141 ribu ton dan 55.600 ton, dari negara Thailand 120 ribu ton dan 83.400 ton, dari negara India 20 ribu ton dan 30 ribu ton, sedangkan dari negara Pakistan 50 ribu ton.
Menurut berita dari liputan Bidang Pangan dan Pertanian Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Musdhalifah Machmud tidak mau melakukan konfirmasi. Bahkan beliau hanya mengatakan bahwa dari pemerintah terus melakukan persiapan untuk ketersediaan pangan menjelang Lebaran tiba. Sedangkan Setali tiga uang,  Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita ini tidak memberikan pernyataan apapun terkait hal ini, beliau hanya menggelengkan kepala menanggapi kebenaran isu tambahan impor beras tersebut.
Dwi Andreas Santosa, seorang Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) berpendapat bahwa pemerintah masih terus akan memerlukan tambahan impor beras mencapai 1 juta ton hingga akhir tahun karena untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Hal ini dikarenakan masih kurangnya produksi  beras dan gabah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang tercermin pada tingginya harga.
Lebh lanjut Dwi menjelaskan, walaupun sudah di sokong dengan panen yang sudah berlangsung, namun harga beras di tingkat konsumen masih tergolong relatif tinggi. Pada Selasa, 24 April 2018 menyatakan kepada Katadata “Sepertinya kita masih harus menambah stok dari luar negeri mencapai 1 juta ton,” .
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution menegaskan bahwa pada impor beras di tahapan kedua yakni sebesar 500.000 ton yang mulai masuk ke Indonesia. Walaupun demikian, dia masih belum bisa menjelaskan bahwa ada berapa jumlah yang pasti akan didatangkan ke dalam Indonesia.
Menko Darmin Nasution menyatakan bahwa “Kalau jalan (beras impor masuk ke dalam negeri) sudah,” di Kantor Kementerian Koordinator bidang Perekonomian, Jakarta, Kamis pada tanggal 17 Mei 2018 lalu.
Sedangkan dari Mantan Direktur Jenderal Pajak masih belum bisa untuk menjelaskan terkait sumber impor beras sebesar 500.000 ton dari yang sebelumnya dikabarkan berasal dari negara Vietnam dan Thailand. Bahkan Dia berkata bahwasannya hal tersebut sudah menjadi tugas dari Perum Bulog.
Lebih lanjut menyatakan “Kalau dari mananya, Bulog yang harus kalian tanya,” .
Bahkan dari sebelumnya, Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kemendag Tjahja Widayanti menegaskan bahwa terdapat tambahan izin impor beras yakni sekitar 500.000 ton yang berasal dari negara Vietnam dan Thailand yang tujuannya tidak lain untuk meningkatkan stok beras Bulog.
Karena, dari sebagai BUMN sudah bertugas untuk menjaga ketersediaan pangan, maka dari Bulog harus mempunyai stok yang cukup untuk mengantisipasi apabila ada lonjakan harga pangan seperti beras.
“Bulog harus punya cadangan beras yang mencukupi, jadi supaya bisa cukup sebagai buffer stok,” menegaskan kembali di Kawasan Kasablanka, Jakarta, Kamis 17 Mei 2018.
Walaupun demikian, beliau pun menambahkan bahwa, walaupun saat ini Bulog memiliki stok beras yang lebih dari 1 juta ton, akan tetapi dari stok yang ada tersebut tidak menutup kemungkinan dapat digelontorkan sewaktu-waktu apabila dikaitkan dalam rangka mengendalikan harga. Apalagi pada waktu Ramadan seperti saat ini maka permintaan pangan sudah bisa dipastikan akan terus meningkat. “Ini untuk menjaga saja supaya kita lebih kuat lagi,” katanya menegaskan.
Walaupun demikian, beliau sudah bisa memastikan ketika memasuki Ramadan rata-rata harga beras secara nasional dapat terkendali. Bahkan dari sebagai besar sudah sesuai dengan Harga Eceran Tertinggi (HET) yang di tetapkan oleh Kemendag.
Dari perum Bulog sendiri menyatakan bahwa beras impor yang berjumlah 500 ribu ton tersebut, akan dijual ke masyarakat dengan harga kisaran Rp8.450 per kilogram (kg). Harga tersebut sudah lebih murah, karena di bawah harga eceran tertinggi (HET) beras medium yakni kisaran Rp9.459 per kg.

Direktur Operasional dan Pelayanan Publik Bulog Karyawan Gunarso berharap dengan adanya harga beras yang lebih murah ini bisa lebih menstabilisasi harga beras di pasaran secara umum.

Kelapa Gading di Gudang Divre Bulog, Jakarta, pada Kamis, 24 Mei 2018 menyatakan “Kita jual beras impor premium dengan broken 15 persen Rp8.950 per kg, jadi di bawah HET Rp500 per kg. Kita menggelontorkan untuk wilayah satu,”.
Bahkan beliau menambahkan, dari beras impor tersebut memailiki kualitas berbeda, ada yag kualitas premium, akan tetappi dipasaran diturunkan menjadi kualitas medium. Hal ini sebagai upaya untuk menjamin kestabilan harga beras dan ketersediaannya.
“Beras premium di pasar Rp12.500 per kg, kita jual jauh di bawah harga HET dengan harga jual kita yang komersil tadi itu mampu, mendorong, menekan harga ini di bawah HET,” ujarnya lebih lanjut.
kemudian dari bulog nantinya akan menjual beras jenis premium tersebut ke mitra ritel, pasar tradisional dan Rumah Pangan Kita (RPK). beliau menegaskan kembali bahwa “Kita punya beras kita premium harga dengan harga di bawah HET dan intinya stok harus tersedia dan mengisi pasar-pasar dan konsumen-konsumen, dengan memanfaatkan Rumah Pangan Kita (RPK) yang berjumlah 40 ribu,”
Gunarso kemudian menekankan bahwa saat ini stok beras di gudang Bulog sebesar 1,3 juta ton, beberapa diantaranya terbagi impor 500 ribu ton dan serapan lokal 700 ribu ton. Walaupun demikian beras impor yang masuk baru adalah 482 ribu ton, akan tetapi beras impor ini sudah tersebar ke gudang-gudang yang ada di Indonesia.

Penulis: Sulis Sutrisna/ Berbagai Sumber

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here