Umar Patek Mengecam Bom Surabaya

0
233

Jakarta, namalonews.com- Umar Patek, sosok pria yang berjenggot panjang ini merupakan orang yang menjadi perhatian publik beberapa tahun silam setelah apa yang telah dilakukannya di Bali. Umar Patek merupakan tersangka terpidana teroris pada peristiwa Bom Bali I. Napi terorisme Bom Bali I ini menjadi narasumber dalam suatu acara yang terkenal yaitu Mata Najwa yang disiarkan di Trans 7 pada hari Rabu, 23 Mei 2018.
Dalam acara Mata Najwa, Umar Patek ditanyai dengan beberapa pertanyaan terkait pendapatnya mengenai bom bunuh diri yang akhir-akhir ini telah terjadi di Surabaya, serta mengenai kejadian di Mako Brimob dan di Riau.
Acara Mata Najwa yang menjadikan Umar Patek sebagai narasumber ini terdiri atas empat segmen. Dalam segmen tersebut, wawancara dengan Umar Patek disiarkan secara langsung dari Lapas Porong, Sidoarjo, Jawa Timur. Di Lapas Porong inilah Umar Patek ditahan atas Bom Bali I yang melibatkan dirinya.
Pada acara yang ditayangkan oleh Trans 7 tersebut, nampak Umar Patek mengenakan pakaian berwarna cokelat, serta memilki jenggot yang lebat dan panjang.
Umar Patek mendapatkan beberapa pertanyaan yang dilontarkan oleh presenter program acara Mata Najwa yaitu Najwa Shihab sendiri. Dalam acara tersebut, Najwa Shihab menanyakan tanggapan Umar Patek terkait dengan peristiwa yang terjadi di Surabaya, Mako Brimob, serta peristiwa di Riau.
Mendengar pertanyaan tersebut, Umar Patek menjawab bahwa Umar turut berduka cita serta berbela sungkawa atas apa yang telah terjadi di beberapa daerah di Indonesia yang berkaitan dengan terorisme.
“Saya turut berbela sungkawa kepada korban beserta keluarga korban, baik yang terjadi di Mako Brimob, Surabaya, maupun di kota-kota lainnya”, kata Umar Patek dalam sesi wawancara bersama Najwa Shihab.
Setelah menyampaikan rasa duka dan menyampaikan turut berbela sungkawa atas bom akhir-akhir ini, Umar Patek juga menyampaikan permohonan maaf kepada publik. Umar Patek memohon maaf kepada korban dan keluarga Bom Bali I, beserta seluruh masyarakat Indonesia.
“Saya memohon maaf kepada para korban dan keluarga korban dari kejadian Bom Bali I maupun Bom malam sebelum natal saat itu”, sambung Umar dalam menanggapi pertanyaan Najwa Shihab.
Ketika itu, Umar Patek juga sedikit mengenang kembali kejadian di Bom Bali I yang melibatkan dirinya sebagai tersangka pengeboman. Umar mengaku bahwa dalam pengeboman di Bom Bali I, awalnya ia tidak setuju dan tidak mau melakukannya.
Ia menambahkan, pada tahun 2005 yang lalu, ia menolak untuk melakukannya, namun kemudian diajak oleh seorang temannya. Ketika ia sampai di Bali, rencana sudah berjalan 95%, sehingga bagaimana pun Bom Bali tetap akan terjadi.
“Saya tidak bersedia melakukan Bom Bali I. Tetapi, saat itu saya diajak oleh sahabat saya, Abdul Matin, kemudian saya datang ke sana 95 persen pekerjaan sudah selesai. Hadir atau tidaknya seorang Hisyam, bom Bali I itu tetap akan terjadi”, terang Umar Patek.
Kembali Umar Patek memohon maaf kepada korban dan keluarga korban atas apa yang terjadi sekitar 13 tahun yang lalu. Ia mengatakan tidak sungkan berkali-kali memohon maaf kepada publik untuk menunjukkan benar-benar bahwa ia merasa bersalah.
Menanggapi pertanyaan mengenai peristiwa bom bunuh diri di Surabaya, Umar Patek mengecam tindakan tersebut. Ia mengatakan bahwa tindakan yang terjadi di Surabaya adalah tindakan yang biadab dan tidak diajarkan oleh ajaran Islam dari madzhab mana pun. Hal ini dikarenakan pada peristiwa di Surabaya itu, melibatkan perempuan dan anak kecil.
Mendengar ucapan Umar Patek dalam menanggapi bom di Surabaya tersebut, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Suhardi Alius yang dihadirkan dalam acara tersebut berkaca-kaca dan merasa bahwa Umar Patek dengan tulus mengatakannya. Suhardi melihat ada kemauan yang baik dalam diri Umar Patek.
“Secara humanis, saya melihat ada sisi humanis dari diri Umar Patek, sekeras apa pun, pasti dapat berubah”, kata Suhardi Alius mengenai Umar Patek.
Dalam acara televisi Mata Najwa ini, Umar Patek juga memeberikan tanggapan terhadap Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Umar mengatakan bahwa BNPT adalah program untuk mantan narapidana dan keluarga narapidana.
Bom Surabaya Melibatkan Anak-Anak dan Perempuan
Seperti yang telah diketahui, bom bunuh diri yang terjadi di Surabaya pada pertengahan bulan Mei kemarin dilakukan oleh satu keluarga teroris, yaitu keluarga Dita Oepriarto. Dalam pengeboman tersebut, Dita membagikan tugas kepada seluruh anggota keluarganya untuk ikut andil dalam pengeboman di tiga gereja di Surabaya.
Istri Ditra, Puji Kuswati, melakukan penyerangan di Gereja Kristen Indonesia di Jalan Diponegoro dengan menggunakan bom bunuh diri yang diikatkan di pinggang. Selain melibatkan seorang perempuan yang merupakan istrinya sendiri, Dita Oepriarto juga melibatkan anak-anak kandungnya. Ia menugaskan kedua putrinya mengikuti ibunya, Puji Kuswati dalam melakukan pengeboman di GKI tersebut. Hal ini lah yang sangat dikecam oleh Umar Patek seperti yang disampaikannya dalam wawancara yang ditayangkan di program televisi Mata Najwa pada hari Rabu, 23 Mei 2018.
Selain itu, bom di Surabaya juga melibatkan dua anak laki-laki Dita Oepriarto. Kedua anaknya ditugaskan untuk melakukan pengeboman di Gereja Santa Maria Tak Bercela. Kedua anaknya tersebut melakukan aksinya dengan mengendarai sepeda motor dengan berboncengan dan memangku bom yang kemudian meledak di area parkir gereja saat dihadang oleh petugas keamanan. Aksi yang melibatkan anak-anak ini, menurut Umar Patek adalah tindakan yang sangat biadab.
Dita Oepriarto sendiri melakukan aksinya dengan menggunakan bom mobil yang ia kendarai sendiri untuk menyerang Gereja Pantekosta Pusat Surabaya. Akibat aksi yang dilakukan oleh Dita sekeluarga, setidaknya 10 orang meninggal dunia dan menyebabkan luka-luka kepada puluhan orang.
Bom Sidoarjo yang Juga Melibatkan Keluarga
Selain bom di Surabaya, bom di Sidoarjo juga melibatkan keluarga teroris. Bom di Sidoarjo terjadi di Rusunawa Wonocolo, Sidoarjo. Pelaku dari bom Sidoarjo adalah Anton Febrianto yang akhirnya ditembak mati karena dianggap membahayakan. Ia membawa saklar bom yang ada di Rusunawa Wonocolo yang kemungkinan siap untuk diledakkan. Pada peristiwa ini, istri Anton meninggal dunia akibat bom yang diledakkannya.
Dari peristiwa ini juga terungkap bahwa dalam keluarga Anton juga sudah ditanamkan pemahaman tentang radikal bebas. Putra-putrinya telah didoktrin dengan ideologi terorisme. Indoktrinasi ideologi terorisme ini dilakukan dengan banyak menceritakan dan memutarkan video tentang jihad atau peperangan-peperangan kepada anak-anak. Disampaikan juga oleh mantan terorisme bahwa indoktrinasi juga dilakukan kepada istri dan anak-anak dengan mengajaknya sering bermain petasan dan bermain perang-perangan. Cara tersebut ditujukan agar anak-anak terbiasa dengan ledakan. Hal ini menunjukkan bahwa terorisme kini melibatkan perempuan dan anak-anak. Tindakan seperti ini adalah tindakan yang biadab, terorisme harus dibersihkan baik dari “pemikiran” hingga para teroris yang telah terbentuk.

Penulis: Sulis Sutrisna/ Berbagai Sumber

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here