Celotehan Aman Abdurrahman yang Dituntut Hukuman Mati

0
182

Jakarta, namalonewa.com- Seorang terdakwa kasus terorisme, Oman Rochman alias Aman Abdurrahman alias Abu Sulaiman bin Ade Sudarman dituntut hukuman mati oleh Jaksa dalam sidang yang mengadilinya pekan lalu.
Karena tuntutan pidana hukuman mati ini, Aman kemudian mengajukan pleidoi pada hari Jumat, 25 Mei 2018 di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Dalam sidang ini, Aman Abdurrahman membacakan sendiri nota pembelaannya.

Dalam menyampaikan pleidoi atau nota pembelaannya di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Aman menyampaikan pernyataan yang membuat para pengunjung sidang terdiam, Aman Abdurrahman mengkafirkan pemerintah Indonesia.

Namun dalam pidatonya dia juga berkata bahwa dirinya belum menyerukan kepada orang-orang yang satu paham dengan dirinya untuk menyerang aparat berwajib Indonesia. “Meskipun saya mengafirkan pemerintah Indonesia beserta aparaturnya, akan tetapi sampai detik ini saya di dalam rekaman kajian atau tulisan yang disebarluaskan, saya belum melontarkan seruan atau ajakan kepada saudara-saudara kami yang hidup di tengah masyarakat ini, untuk mulai menyerang aparat keamanan” kata Aman dalam pembacaan nota pembelaannya.

Aman mengatakan bahwa dirinya belum menyerukan penyerangan tersebut dikarenakan pertimbangan dalil-dalil syar’i karena kondisi dan situasi saat ini yang belum memungkinkan untuk dilakukannya penyerangan.

Aman menambahkan, berbagai aksi teror dan serangan terhadap aparat keamanan yang selama ini telah terjadi di Indonesia bukan atas karena seruannya, melainkan merupakan aksi indvidu para pelaku sendiri, sehingga mereka harus ditanya sendiri siapakah yang menyuruh mereka melakukannya.

Tim Jaksa Penuntut Umum pada sidang pekan lalu, menuntut mati pimpinan Jaringan Ansharut Da‎ulah (JAD), Aman Abdurrahman‎. Hal ini didasari atas pertimbangan bahwa Oman Rochman alias Abu Sulaiman bin Ade Sudarma alias Aman Abdurrahman dinilai mempunyai pengaruh besar dalam beberapa serangan terorisme yang terjadi di Indonesia.

Dalam sidang lanjutan yang agendanya digunakan untuk menyampaikan nota pembelaan Amar Abdurrahman, Amar menyampaikan beberapa hal yang cukup menimbulkan kontroversi. Adapun pernyataan-pernyataan yang disampaikan oleh Aman Abdurrahman dala pembacaan pleidoinya yaitu sebagai berikut:

  • Aman Abdurrahman Tidak Takut Akan Hukuman Mati.

Pada sidang lanjutan untuk pembacaan nota pembelaan, Aman me‎ngatakan bahwa dirinya tidak takut divonis hukuman mati oleh Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Bahkan, dia menambahkan bahwa dirinya telah siap atas vonis hukuman mati yang akan diputuskan oleh Hakim.

Dalam penyampaiannya, Aman mempersilahkan Hakim untuk memberikan vonis hukuman mati atas dirinya.‎ Menurut Aman, apapun hukuman yang akan diputuskan oleh Hakim kepada dirinya merupakan perbuatan yang zalim.

  • Aman Memilih Mati daripada Harus Damai dengan Pemerintah Indonesia

Selain itu, Aman Abdurrahman juga mengaku pernah dikunjungi oleh seorang peneliti bidang kajian Islam asal Srilangka, Prof Rohan. Prof Rohan merupakan peneliti yang bekerja untuk Pemerintah Singapura sekaligus Indonesia dalam mengkaji hal-hal yang berkaitan dengan perkembangan Islam.
Aman ‎mengaku mendapatkan tawaran dari Prof. Rohan untuk berdamai dengan pemerintah Indonesia. Dalam ajakannya, Prof. Rohan memberikan janji-janji manis kepada Aman Abdurrahman. Namun, Aman mengaku menolak tawaran yang diberikan kepadanya untuk berdamai dengan pemerintah. Aman menyampaikan bahwa dirinya lebih memilih keluar dari penjara sebagai mayat atau mati daripada harus berdamai dengan pemerintah. Dalam penyampaiannya itu, Aman tetap teguh pada pendiriannya untuk menolak berdamai dengan pemerintah.

  • Aman Menganggap Kasusnya Adalah Penjeratan Gaya Baru

Aman Abdurrahman turut menyampaikan bahwa dirinya membantah terlibat dalam beberapa aksi teror bom di Indonesia. Aman menganggap kasus-kasus yang dikaitkan dengan dirinya merupakan penjeratan gaya baru yang pertama ada di Indonesia.
Pimpinan JAD atau ISIS di Indonesia tersebut mengaku sama sekali tidak mengetahui perihal teror-teror di Indonesia, mulai dari peristiwa bom di Sarinah, Thamrin, maupun ledakan di Kampung Melayu, Jakarta Timur.
Aman mengelak dengan mengatakan bahwa peristiwa teror itu terjadi saat dirinya sedang diisolasi di Lapas Nusakambangan, sehingga ia mengatakan tidak terlibat dan tidak tahu-menahu perihal teror tersebut.
Aman Mengatakan bahwa DPR Adalah Tuhan Jadi-Jadian
Dalam membacakan pleidoi atau nota pembelaan atas dirinya sendiri, Aman juga mengatakan bahwa anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR RI) adalah Tuhan jadi-jadian. Hal ini dikarenakan, menurut paparannya, DPR membuat peraturan atau kebijakan yang harus dipatuhi oleh rakyat Indonesia.
Aman juga menambahkan, orang-orang yang mengikuti aturan atau kebijakan yang dibuat oleh DPR Republik Indonesia atau Tuhan jadi-jadian menurut Aman, adalah orang yang kafir. Karena menurutnya, orang yang mengikuti kebijakan yang dibuat oleh DPR dan pemerintah sama halnya dengan menyembah atau penganut berhala model baru. Oleh karena itu, Aman menyebut DPR sebagai Tuhan jadi-jadian, dan rakyat yang mengikuti kebijakan DPR dan pemerintah, dianggap kafir olehnya.
Aman Menyebut Orang-Orang yang Terlibat dalam Terorisme di Surabaya Sakit Jiwa
Tak hanya itu saja, dalam pembacaan nota pembelaannya, Aman Abdurrahman mengatakan bahwa orang-orang yang terlibat di dalam aksi terorisme di Surabaya adalah orang yang sakit jiwa. Aman mengatakan bahwa pelaku bom bunuh diri di tiga Gereja di Surabaya yang terjadi pada pertengahan Mei kemarin tidak memahami ajaran Islam dan tuntunan jihad.

Bahkan, pentolan JAD ini menyebut pelaku, dalang, serta orang-orang yang terkait dengan rentetan bom di Surabaya itu merupakan orang-orang yang sakit jiwa dan mengalami frustasi dalam hidupnya. Aman menjelaskan bahwa ajaran Islam manapun serta tuntunan jihad manapun tidak ada yang mengajarkan tindakan seperti itu.
Kapolri: Viralkan Pernyataan Aman Abdurrahman
Kapolri, Tito Karnavian ikut menanggapi atas apa yang disampaikan oleh Aman Abdurrahman dalam pembacaan nota pembelaannya. Tito Karnavian meminta kepada masyarakat, pernyataan-pernyataan Aman diviralkan.
“Tolong, nanti pernyataan Aman Abdurrahma dalam sidang diviralkan,” kata Tito Karnavian saat berada di Mapolda Jambi.
Tito Karnavian menilai bahwa penyataan Aman Abdurahman sangat penting untuk meredam aksi terorisme seperti yang akhir ini terjadi di daerah-daerah di Indonesia, seperti di Surabaya yakni melakukan bom bunuh diri di Gereja, bahkan melibatkan keluarga, istri dan anak-anak.
Dalam pembacaan nota pembelaan, Aman mengatakan bahwa melakukan serangan kepada orang kafir, padahal mereka tidak mengganggu, itu hukumnya haram untuk dilakukan. Terlebih lagi apabila melakukannya dengan melakukan aksi bunuh diri dan melibatkan perempuan dan anak. Menurut Aman, tindakan seperti ini akan menyebabkan masuk ke neraka.
Sebelumnya, dalam sidang yang dilaksanakan pada hari Jumat di Pengadilan Negeri Jaksel, Aman mengatakan bahwa hanya orang yang sakit jiwa yang melakukan aksi seperti yang terjadi di Surabaya.
Aman mengatakan bahwa kejadian teror bom di Surabaya, baik yang melakukan aksinya, orang yang merestuinya, orang yang menamakannya jihad, adalah orang yang sakit jiwa dan frustasi hidupnya.
Aman menyampaikan bahwa kejadian yang dilakukan oleh seorang wanita beserta dua orang anaknya kemudian meledakkan diri di parkiran gereja adalah tindakan yang tidak mungkin terpikirkan atau dilakukan oleh orang yang memahami ajaran Islam dan tuntunan jihad. Bahkan menurutnya, orang yang memiliki akal sehat, tidak mungkin melakukannya.

Penulis: Sulis Sutrisna/ Berbagai Sumber

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here