Memaknai Ucapan Terimakasih Jokowi Kepada SBY Tulus Atau Sindiran

0
153

Jakarta, namalonews.com- Atas selesainya pembangunan Bandara Kertajati, Majalengka Presiden Joko Widodo (Jokowi) berterimakasih kepada Presiden SBY. Yang jadi pertanyaan banyak orang adalah, apakah ucapan terimakasih Jokowi itu mengandung sindiran?
Diketahui bahwa Jokowi menyampaikan rasa terimakasihnya melalui akun instagram, Kamis 24/5/2018 kemarin. Dalam ucapan terimakasihnya tersebut ada kata ‘satu dekade’ sebagai sebuah keterangan durasi pengerjaan proyek ini hingga rampung.
Beginilah tulisan Jokowi dalam akun instagram-nya itu,”Saya ucapkan terima kasih kepada Pak Susilo Bambang Yudhoyono, Pak Ahmad Heryawan dan jajarannya, yang sudah mencanangkan sejak lebih dari satu dekade lalu.”
Djayadi Hanan selaku Direktur Eksekutif Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) menilai bahwa kalimat Jokowi tersebut memang dapat dimaknai dengan berbagai macam anggapan.
Pertama, kamilat yang ditulis Jokowi dapat dimaknai sebagai ucapan yang memang benar- benar tulus, lurus dan tanpa ada tendensi untuk menyentil siapapun.
“Ungkapan terimakasih itu bisa memang merupakan ucapan terimakasih dan penghargaan karena ide membuat bandara yang jauh dari Bandung, in the middle of nowhere itu termasuk ide yang berani, dan Jokowi hanya melanjutkan saja,” kata Djayadi.
Yang kedua, kalimat Jokowi adapat juga dimaknai sebagai satire dalam bentuk yang halus. Artinya, proyek Bandara Kertajati ini tidak jadi-jadi selama satu dekade dan dapat diselesaikan oleh Jokowi pada waktu beberapa tahun saja.
“Bisa juga itu satire, suatu sindiran bahwa membangun bandara kok memerlukan waktu yang demikian lama. Hanya dalam waktu tiga tahun, pemerintahan Jokowi bisa menuntaskannya,” kata Djayadi.
Eva Kusuma Sundari sebagai Sekretaris Badan Pelatihan dan Pendidikan DPP PDIP menilai bahwa Jokowi bermaksud memberi tempat bagi rekan-rekan politik Partai Demokrat yang berada di belakang SBY.
Selama ini politikus Demokrat dinilainya selalu menganggap bahwa Jokowi hanya meneruskan proyek Presiden SBY semasa menjabat. Sekalian, nama Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan juga ikut disebut. Ini membuat suasana politik menjadi lebih adem.
“Presiden Jokowi mengubah cara komunikasi dan berbagi kredit poin,” kata Eva.
Lebih dari itu, proyek infrastruktur memang menjadi target dari Nawacita untuk dapat membangun infrastruktur masif. “Termasuk juga pelabuhan dan bandara yang baru, multiyears, maupun yang mangkrak. Yang penting tersedia banyak dan berfungsi, bermanfaat untuk menggerakkan manusia dan modal,” kata Eva.
Ketua DPP Partai Demokrat Didik Mukrianto juga menilai proyek Bandara Kertapati adalah bagian dari cetak biru Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI). Tentu dalam pembangunan infrastruktur yang sebesar ini tak bisa diselesaikan dalam waktu yang singkat dan sekejap saja. Dia tak berpandangan ada unsur satire dalam ucapan terima kasih Jokowi ke SBY.
Pembangunan infrastruktur tidak bisa secara instan dibangun tanpa melalu kajian, perencanaan, pematangan, persiapan awal dan pelaksanaan. Bandara Kertapati ini perencanaannya sudah mulai disusun sejak 2011 melakui MP3EI.
Hal ini dinai benar apabila Jokowi menghaturkan terima kasih kepada SBY dan Heriyawan karena Presiden dan juga Gubernur menjadi bagian dan secara bersama merumuskan dan mengeksekusi pelaksanaan MP3EI.
PDIP juga menilai ucapan terima kasih ke Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) adalah sebuah sikap negarawan dari Presiden Joko Widodo (Jokowi). Hal itu karena Jokowi dinilai menghargai jasa para pendahulunya.
“Itu ucapan yang tulus dari Presiden Jokowi kepada Pak SBY sebagai pendahulunya yang telah meletakkan dasar pembangunan Bandara Kertajati. Juga kepada Pak Aher (Ahmad Heryawan) gubernur. Memang seharusnya begitu sebagai negarawan berterima kasih kepada yang punya gagasan awal,” kata Ketua DPP PDIP Bidang Kemaritiman Rokhmin Dahuri.
Saat dihubungi secara terpisah, Hendrawan Supratikno yang menjabat sebagai Ketua DPP PDIP menyebut bahwa ucapan terimakasih dari Jokowi ke SBY harus dimaknai sebagai ucapan yang tulus. Hendrawan mengatakan hal itu sebagai upaya membudayakan saling mengapresiasi serta menyempurnakan kebijakan publik.
“Kita harus memaknainya sebagai ucapan yang tulus, dan berusaha membudayakan kebiasaan untuk saling memberi apresiasi dan saling mengisi. Koreksi dilakukan dalam konteks menyempurnakan optimasi kebijakan publik,” ujarnya.
Tak lupa Hendrawan juga turut mengingatkan bahwa pentingnya haluan negara yang menjadi wacana MPR dalam 5 tahun terakhir. Ia juga mengatakan bahwa menikmati keberhasilan sebagai suatu kerja bersama itu akan lebih membanggakan.
“Kebersinambungan pembangunan antarperiode, antargenerasi pemimpin, itu semua harus kita pelihara. Itu sebabnya kami secara serius menyampaikan arti penting negara memiliki haluan negara. Ini sudah menjadi wacana utama MPR RI dalam 5 tahun terakhir ini,” ucap Hendrawan.
“Menikmati keberhasilan sebagai suatu hasil kerja bersama dan krida kebersamaan, terasa lebih indah dan membanggakan,” sambungnya.
Jika kita kembali tengok kebelakang, pencanangan pembangunan Bandara Internasional Kertajati ini dilakukan pada akhir periode Presiden Megawati. Itu artinya sudah dimulai sejak 15 tahun lalu. Akan tetapi harus diingat, dalam membangun sebuah bandara tidak seperti proses membangun rumah. Dibutuhkan feasibility study yang memakan waktu cukup lama.
Study kelayakan ini sudah mencakup berbagai macam aspek, azas manfaat, recovery, pendanaan. Karena tujuan pembangunan tersebut harus mempunyai manfaat secara ekonomi. Pencarian sumber dana dan lebih dari itu system pengelolaan dimana Bandara harus mempunyai income untuk dapat menutup biaya investasi.
Untuk mempersiapkan feasibility study bandara taraf internasional hingga detail design untuk pelaksanaan pembangunan diperlukan waktu paling tidak 5 tahun. Menyangkut keputusan pembangunan serta sumber dana pembangunan masih butuh koordinasi lintas sektoral hingga penganggaran dan disetujui oleh DPR juga perlukan waktu panjang.
Lalu soal masalah tehnis pelaksanaan, baik itu izin prinsip atau izin lokasi juga IMB juga perlu waktu, belum lagi menyangkut pembebasan tanah. Ditambah dengan waktu pelaksanaan konstruksi yang pastinya akan memakan waktu beberapa tahun.
Pembangunan Bnadara seperti ini sifatnya multi year mulai dari perencanaan sampai dengan pelaksanaanya bisa jadi bukan tergantung dari periode jabatan presiden dan kebetulan selesai pada era Jokowi.
Berbeda jika kita bandingkan dengan proyek monorel di DKI yang semula dijadikan Icon kampanye pilpres 2014, proyek tersebut adalah proyek swasta yang rencananya memakai dana pinjaman dari China, proyek ini dapat disebut gagal karena kemungkinan tidak ada perbankan yang bersedia menjadi garantor pinjaman China tersebut.
Dosen Program Studi Pascasarjana Komunikasi Universitas Indonesia Dr. Firman Kurniawan menyebutkan bahwa ada tiga kelompok besar dalam sistem sosial masyarakat terkait pelaksanaan Pilpres 2019. Yaitu para pendukung Jokowi, kelompok oposisi dan mereka yang masih menunggu para kontestan Pilpres 2019.
Bagi merekayang mendukung Jokowi, ucapan terima kasih presiden tersebut dimaknai sebagai pernyataan yang tulus atau di maknai sebagai upaya untuk memperluas dukungan dengan cara yang positif.
Sedangkan bagi kelompok oposan, makna ucapan terima kasih presiden dipandang sebagai sindiran atau satite. Bahkan bisa melebar sebagai bentuk kritik kepada pemerintahan sebelumnya terkait infrastruktur dan utang luar negeri.
Dan untuk kelompok ketiga, tentu akan menikmatinya sebagai bagian dari kontestasi dan nantinya akan memberikan makna yang dominan.
Oleh sebab itu, menurut Firman, ucapan terima kasih Jokowi kepada SBY dapat dimaknai dengan bebas, apakah itu tulus atau sindiran, tergantung dari pihak penafsir pesan.

Penulis: Sulis Sutrisna/ Berbagai Sumber

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here