Dolar AS Mengamuk, Ini Faktor Penyebabnya

0
3436

Jakarta, namalonews.com- Sejak awal tahun 2018 ini, nilai dolar Amerika Serikat (AS) terus menunjukkan penguatan terhadap rupiah. Nilai US$ 1 hampir menembus Rp 13.900,-. Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo, menyampaikan bahwa terdapat tiga faktor yang menjadikan nilai tukar rupiah tidak stabil dan terus mengalami pelemahan.

“Bahwa yang kita hadapi sejak awal tahun, yang terlihat tekanan terhadap stabilitas, khususnya nilai tukar itu memang lebih karena perubahan kebijakan di Amerika Serikat yang memberikan berdampak yang sangat berpengaruh ke seluruh negara, termasuk salah satu di antaranya adalah Indonesia,” jelas Perry ketika berada di Kementerian Keuangan, Jakarta, hari Senin 28 Mei 2018.
Selain itu, Perry juga mengatakan bahwa tiga faktor yang menyebabkan kenaikan nilai dolar AS ini juga tidak berdampak pada rupiah saja, melainkan juga berpengaruh terhadap mata uang sejumlah negara berkembang. Faktor pertama peneyebab mengamuknya Dolar AS adalah rencana kenaikan suku bunga The Fed.
“Beberapa pelaku pasar memperkirakan lebih agresif lagi, karena perekonomian AS semakin membaik, inflasi akan semakin tinggi, sehingga pelaku pasar memperkirakan Fed Fund Rate kemungkinan naik 4 kali meskipun probabilitas lebih banyak 3 kali. Hal ini mendorong kenaikan suku bunga di Amerika Serikat,” kata Perry, Gubernur BI yang baru.
Perry melanjutkan, faktor kedua penyebab mengamuknya nilai dolar AS adalah kebijakan fiskal negara Amerika Serikat yang lebih ekspansi, seperti penurunan tarif pajak untuk penghasilan korporasi, serta peningkatan belanja infrastruktur. Hal seperti ini tentunya akan menyebabkan defisit fiskal Amerika Serikat membengkak dan butuh pendanaan yang baru.
“Awal mula kami memperkirakan US treasury bond sekitar 2,75. Akan tetapi, sejak Februari overshooting 3,2% dan sekarang 3,1%. Itu menjawab kenapa terjadi capital reversal, dan pembalikan modal dari negara maju maupun emerging market lari ke Amerika Serikat. Pada saat itu pula, mata uang dolar AS menguat ke seluruh mata uang dunia, termasuk Indonesia” jelas Perry.
Kemudian, faktor yang ketiga yang menyebabkan menguatnya dolar AS adalah resiko yang berasal dari sejumlah geopolitik yang terjadi. Salah satunya adalah ketidakpastian yang terjadi karena perang dagang antara Amerika Serikat dengan China.
Menurut Perry, tiga faktor inilah yang menyebabkan dolar AS mengamuk terhadap rupiah maupun nilai mata uang lainnya dari berbagai negara berkembang.
“Inilah yang menjadi penyebab tidak hanya subung AS naik dan dolar kuat, tetapi juga premi resiko di global itu juga naik,” lanjut Perry.
Dalam amukan dolar Amerika Serikat terhadap rupiah, Perry masih optimis dan yakin bahwa ketahanan ekonomi nasional cuku[ kuat menghadapi tekanan eksternal seprti itu. Menurutnya, ketahanan ekonomi Indonesia cukup kuat melawan tekanan eksternal saat ini, maupun juga tekanan eksternal beberapa tahun sebelumnya seperti krisi Yunani pada bulan Oktober 2011, taper tantrum pada bulan Mei 2013, revisi growth China pada tahun 2015, serta brexit.
Menteri Keuangan, Sri Mulyani dan Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, Bersama Atasi Gejolak Dolar AS
Pada hari Senin kemarin, Menteri Keuangan, Sri Mulyani, mengumpulkan beberapa menteri dan pimpinan lembaga sektor keuangan untuk melakukan konferensi pers. Pejabat tersebut antara lain adalah Darmin Nasution selaku Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Ketua Wimboh Santoso selaku Dewan Komisioner OJK, Ketua LPS Halim Alamsyah, dan Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo.
Darmin Nasution mengatakan bahwa konferensi pers hari Senin pagi kemarin membahas mengenai penguatan koordinasi guna stabilisasi dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Selain membahas hal tersebut, konferensi pers juga membahas mengenai kebijakan Amerika Serikat (AS) yang membuat nilai tukar dolar AS perkasa terhadap rupiah belakangan ini.
“Tekanan stabilitas pada nilai tukar rupiah lebih berasal dari ketetatan likuiditas dan resiko ekonomi global, karena inisiatif dan perubahan kebijakan di Amerika Serikat, penguatan koordinasi kebijakan lebih diarahkan untuk memprioritaskan stabilitas jangka pendek, dan memprioritaskan jangka pendek dengan tetap mendorong pertumbuhan pada jangka menengah,” terang Darmin di ruang Mezzanine, Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat.
Dalam menyikapi perkembangan global, Darmin mengatakan, pemerintah melalui Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, OJK, dan LPS terus meningkatkan kewaspadaan dan berkoordinasi untuk mengambil kebijakan yang akan menjaga stabilitas ekonomi nasional Indonesia.
Menurut Darmin, dalam jangka pendek, fokus koordinasi kebijakan akan diprioritaskan pada penguatan stabilitas ketahanan ekonomi nasional terhadap tekanan global, di antaranya pada nilai tukar, inflasi rendah, serta defisit fiskal yang sehat.
“Hal ini ditempuh melalui penguatan bauran kebijakan Bank Indonesia, kebijakan fiskal oleh Kementrian Keuangan, ketersediaan bahan pokok strategis, perkembangan sektor riil pada umumnya dan juga penguatan pengawasan lembaga keuangan oleh OJK. Dan tentu saja, menjaga dan mempersiapkan langkah yang perlu diambil oleh LPS,” tutup Darmin.
Dolar AS Mengamuk, Positif bagi Pariwisata
Disamping memberikan dampak yang negatif bagi stabilitas perekonomian nasional Indonesia, penguatan niali Dolar AS terhadap rupiah justru dapat memberikan efek yang positif bagi pariwisata. Naiknya nilai Dolar AS hingga angka Rp 14.000 bisa jadi kabar buruk bagi pelaku industri tertentu, namun lain halnya dengan industri pariwisata.

“Jadi kami melihat, dari pelemahan rupiah ini terdapat sisi positifnya juga bagi industri pariwisata. Penguatan Dolar AS dan pelemahan rupiah akan menjadikan kita lebih murah karena berlibur ke Indonesia itu lebih valuable untuk mereka. Tidak bermaksud kita mau mensyukuri rupiah melemah, tapi kan kita harus mengantisipasi hal itu,” ujar Hariyadi Sukamdani, Ketua Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Hotel ketika menghadiri acara di Grand Sahid Jaya Jakarta.
Dengan menguatnya Dolar AS tentunya akan memberikan imbas pada nilai Rupiah. Bagi wisatawan asing, penguatan Dolar AS pun memberi kesempatan bagi mereka untuk mendapat nilai lebih saat berwisata di Indonesia, karena tentunya lebih murah.
Hal itu pun juga dimanfaatkan oleh Hariyadi melalui program Hot Deals yang merupakan kerjasama antara PHRI dan Kementrian Pariwisata.
“Kita punya paket-paket Hot Deals yang menjadi jauh lebih menarik. Sudah kita buat harganya Hot Deals, ditambah lagi ada pelemahan nilai rupiah, jadi ini menurut saya, ini sisi positif untuk mengejar,” jelas Hariyadi di acara Launching Jakarta Ramadhan Hot Deals (JHSR) 2018.
Dalam acara launching ini, Staf Ahli Menteri Pariwisata bidang Ekonomi dan Kawasan Pariwisata, Anang Sutono juga turut hadir bersama Hariyadi. Menurutnya, pihak Kementrian Pariwisata akan turut mendukung program Hot Deals yang dilaksanakan oleh PHRI.
“Saya percepat program Hot Deals di mana tadi saya sudah lakukan mapping di Milestones,” kata Anang pada kesempatan tersebut.
Sebagaimana diungkapkan oleh Hariyadi dan Anang, penguatan Dolar AS terhadap rupiah bisa dilihat positif bagi kaca mata pariwisata.
“Jadi saya mau kasih message, bahwa di balik dinamika ini terdapat sesuatu yang positif untuk pariwisata kita. This is the good time untuk kita promosi,” tutup Hariyadi mengenai sisi positif penguatan dolar AS terhadap rupiah.

Penulis: Sulis Sutrisna/ Berbagai Sumber

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here