Dolar Mulai Jinak, Lengser dari Rp 14.000,-

0
181

Jakarta, namalonews.com- Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) yang sempat mengamuk terhadap rupiah, nampaknya kini sudah mulai jinak. Pada hari Selasa, 29 Mei 2018, dolar AS telah berada di Rp 13.985, dan mulai meninggalkan level Rp 14.000,- yang akhir-akhir ini sempat mengamuk dan bertahan cukup lama.

Sebelumnya, Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo telah mengatakan bahwa terdapat tiga faktor yang menjadi penyebab nilai tukar rupiah tidak stabil dan mengalami pelemahan atas dolar Amerika Serikat.

Apabila dilihat dari data perdagangan Reuters, pagi ini sekitar pukul 10.00 WIB, dolar AS berada di level Rp 13.985, di mana besaran ini lebih rendah dari pada sebelumnya yang sempat mencapai Rp 14.000,-.

Besaran rupiah tersebut lebih rendah dari besaran sebelumnya yang berada di Rp 14.118,-. Sedangkan, posisi tertinggi pekan ini berada di Rp 14.205,- yang terjadi pada hari kemarin, Senin 28 Mei 2018.

Bank Indonesia (BI) sepertinya telah memberikan kebijakan yang tepat dalam menghadapi pelemahan nilai rupiah terhadap dolar AS, sehingga mulai menunjukkan dampak yang positif terhadap penguatan nilai rupiah atas dolar AS. Untuk meredam amukan nilai tukar dolar AS terhadap rupiah yang relatif semakin menguat, Bank Indonesia yang dipimpin oleh Perry Warjiyo memberikan sinyal untuk menaikkan suku bunga acuan atau BI 7 Days Reverse Repo Rate dapat dipercepat sebelum jadwal bulanan pelaksanaan Rapat Dewan Gubernur (RDG).

Bank Indonesia, di dalam siaran pers mengatakan bahwa BI  memutuskan untuk mengadakan Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulanan tambahan yang akan dilaksanakan pada Rabu, 30 Mei 2018. RDG tambahan ini tidak menggantikan RDG bulanan reguler setiap bulannya, sehingga RDG bulanan juga tetap akan diselenggarakan sesuai jadwal. RDG Bulanan tambahan dilaksanakan untuk membahas kondisi ekonomi dan moneter terkini, serta membahas bagaimana prospek ke depannya.

Pada tanggal 17 Mei 2018 yang lalu, Bank Indonesia telah menggelar RDG dan menaikkan suku bunga acuan menjadi 4,5% yang sebelumnya 4,25%. Sementara itu, untuk suku bunga deposit facility juga naik menjadi 3,75%, begitu pula pada suku bunga lending facility yang mengalami kenaikan menjadi 5,25%.

Perry Kembali Menggelar RDG untuk Stabilitas Ekonomi Nasional

Bank Indonesia (BI) menyebutkan ada empat langkah yang menjadi prioritas untuk kembali menjadikan nilai tukar rupiah atas dolar AS stabil. Empat langkah yang dirumuskan BI ini sebagai upaya jangka pendek saja.

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo menuturkan bahwa salah satu upaya yang akan ditempuh otoritas moneter adalah dengan menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulanan tambahan di samping tetap diadakannya RDG bulanan reguler.

“Dalam konteks ini memang dalam jangka pendek Bank Indonesia memprioritaskan kebijakan moneter untuk menstabilkan nilai tukar rupiah atas dolar AS. Fokus kami jangka pendek adalah kebijakan moneter stabilitas nilai tukar,” jelas Perry di Kementerian Keuangan, Jakarta, pada hari Senin, 28 Mei 2018.

Perry menambahkan, RDG tambahan ini akan dilaksanakan pada akhir Mei 2018. Hal ini dilakukan bank sentral untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, bukan karena perekonomian nasional sedang mengalami kondisi darurat.

“Kami sudah menjadwalkan RDG bulanan tambahan pada hari Rabu untuk merumuskan kebijakan ini. Ini bukan RDG emergency, melainkan RDG tambahan,” tambah Perry.

Bank Indonesia  melaksanakan RDG bulanan tambahan adalah untuk merespon cepat dinamika yang tengah terjadi di luar negeri. Dinamika ekonomi luar negeri dapat menyebabkan nilai rupiah kembali tidak stabil apabila tidak diatasi dengan kebijakan yang tepat.

“Dinamika yang sedang terjadi baik di luar negeri, dan terjadi ekspektasi dalam negeri yang cenderung tidak rasional, selain itu ekspektasi rupiah menjadi lebih besar, dan untuk pre-emptive terhadap decision meeting. Itu alasan kita (BI) melakukan RDG bulanan tambahan, sekaligus langkah pre-emptive untuk FOMC tanggal 14 Juni mendatang,” ungkap Perry Warjiyo.

Langkah dari Bank Indonesai yang selanjutnya adalah memperkuat, mengoptimalkan, serta intervensi ganda (dual intervention) yang telah dilakukan sejak 2013. Langkah yang ketiga adalah menjaga kecukupan likuiditas. Kemudian, langkah keempat adalah melakukan komunikasi yang intensif dengan pelaku pasar, perbankan, dunia usaha, dan ekonom untuk membentuk ekspektasi yang rasional.

“Ini untuk menghindari perkiraan nilai tukar yang cenderung terlalu melemah, overshooting dari sisi fundamentalnya. Ekspektasi dibentuk karena kandungan informasi, sedangkan kalau informasinya terbatas, maka ekspektasi akan ke mana-mana,” tutup Perry Warjiyo.

Penyebab Nilai Rupiah Kembali Menguat

Setelah sekian lama bergejolak dan mengamuk nilai mata uang dunia, saat ini nilai dolar Amerika Serikat (AS) nampaknya sudah mulai jinak. Hal ini ditunjukkan oleh nilai rupiah yang saat ini tengah berada di level Rp 13.985 yang berarti telah mulai meninggalkan angka Rp 14.000,-.

Lana Soelistianingsih, Chief Economist Samuel Sekuritas Indonesia mengatakan bahwa melemahnya nilai dolar AS disebabkan oleh faktor eksternal dan internal.

“Jadi, kalau kita lihat perkembangan penguatan rupiah beberapa waktu terakhir, katakanlah sejak Pak Perry dilantik, itu juga terbantu dengan pelemahan US$, jadi yang menguat itu tidak hanya rupiah, melainkan mata uang global juga mengalami penguatan,” kata Lana saat dihubungi di Jakarta, pada hari Selasa, 29 Mei 2018.

Lana juga menyebutkan bahwa dolar Amerika Serikat melemah karena turunnya harga minyak mentah dunia. Selain itu, adanya potensi Arab Saudi dan Rusia yang mau menambah produksi minyak juga menyebabkan pelemahan atas dolar Amerika Serikat. Potensi tersebut menjadikan harga minyak terus turun dan rentang inflasi pun tidak menjadi tinggi kembali.

“Globalnya tidak khawatir dengan inflasi, sehingga mereka juga tidak memburu dolar. itu adalah faktor global yang membantu, itu faktor dari luar negeri,” tambah Lana.

Sedangkan, menurut Lana, faktor dalam negeri yang membantu menguatkan nilai rupiah atas dolar AS salah satunya adalah kebijakan Bank Indonesia yang menaikkan suku bunga acuan BI 7 Days Repo Rate, di mana masih dianggap pasar bahwa pemerintah masih mengelola dan menjaga nilai tukar rupiah.

Selain itu, menurut Lana, penyebab menguatnya nilai rupiah yang berasal dari dalam negeri adalah siklus permintaan dolar di dalam negeri yang sudah menurun, terutama pada kegiatan transaksi ekspor dan impor.

Lana juga menceritakan bahwa permintaan dolar seharusnya tetap tinggi sampai dengan pertengahan Juni 2018. Akan tetapi, karena keputusan pemerintah yang menetapkan libur Lebaran pada pertengahan Juni, maka transaksi atau permintaan dolar dipercepat pada dua minggu terakhir pada bulan Mei 28.

“Jadi, ada percepatan permintaan dolar, masih ingat kan rupiah yang naik setelah suku bunga naik,  tetapi dolar Rp 14.200 itu karena permintaan dolar dipercepat. Transaksi besar dalam eksportir dan importir harus dipercepat sampai sebelum Juni 2018,” tutup Lana ketika memberikan tanggapan mengenai nilai rupiah yang kembali menguat setelah beberapa waktu melemah atas nilai dolar AS.

Penulis: Sulis Sutrisna/ Berbagai Sumber

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here