Heboh Pemprov DKI Olah Limbah Tinja Jadi Air Minum, Yang Benar Saja?

0
163

Jakarta, namalonews.com- Sejak sepekan lalu Perusahaan Daerah Pengelolaan Air Limbah (PD PAL) Jaya menjadi buah bibir. Hal ini terkait dengan kabar bahwa perusahaan milik Pemprov DKI Jakarta itu saat ini tengah mengoperasikan alat yang bernama PAL-Andrich Tech System.

Alat yang merupakan milik PT MJH Lestari Internasional itu telah disebut- sebut dapat mengolah limbah tinja menjadi air bersih yang layak minum.

Sontak saja kabar yang beredar tersebut menuai kontroversi di telinga masyarakat. Disamping karena belum adanya sertifikasi terhadap alat ini, dari sisi higienis juga dinilai belum ada lembaga terkait yang memberikan pernyataan bahwa air hasil olahan limbah tinja tersebut layak untuk diminum.

Oleh sebab itu, maka tak heran jika pihak PD PAL Jaya buru- buru untuk segera meluruskan hal tersebut.

“Sistem pengolahan ini bertujuan untuk memperbaiki kualitas olahan air limbah, jadi tidak diperuntukkan untuk air minum,” tegas Dirut PD PAL Jaya Subekti saat ditemui di kantornya, Jalan Sultan Agung, Jakarta Selatan, Senin (28/5/2018) kemarin.

Penyampaian perihal penegasan ini dirasa sangat perlu. Sebab sebelumnya Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno telah lebih dulu menyatakan hal yang sebaliknya.

Ketika meresmikan pemggunaan alat Instalasi Pemgolahan Air Limbah (IPAL) yang merupakan milik PD PAL Jaya pada Rabu pekan lalu, dirinya mengatakan bahwa mesin tersebut bisa mengolah limbah tinja menjadi air yang siap untuk diminum.

“PD PAL Jaya saat ini punya teknologi Andrich yang bisa mengubah limbah tinja jadi air siap untuk diminum dalam waktu 30 menit. Teknologi kali ini jauh lebih efisien dibanding dengan sistem konvensional. Ini betul-betul sebuah lompatan dan belum pernah terjadi (sebelumnya),” ujar Sandi dalam sambutannya kala itu.

Oleh sebab itu, Subekti juga lanjut menjelaskan bahwa tugas dari PD PAL bukanlah untuk penyediaan air minum untuk warga Jakarta. “Kalau terkait dengan air minum, itu bukan tupoksi kami,” ujar dia saat dikonfirmasi pada Senin petang.

Dirinya mengatakan bahwa PD PAL selama ini punya tugas untuk mengolah air limbah hasil buangan warga Ibu Kota untuk kemudian disalurkan kembali ke lingkungan, akan tetapi sudah dalam kondisi yang bersih.

“PD PAL tugasnya untuk mengolah air limbah menjadi layak buang ke lingkungan. Semakin jernih maka akan semakin bagus bagi lingkungan,” ujar Subekti.

Disamping itu, pengolahan air limbah atau tinja ini ditujukan untuk menjadikan air bersih yang dapat digunakan untuk keperluan sehari-hari, bukan untuk tujuannya diminum.

“Bisa menjadi air bersih yang bisa digunakan untuk utilitas, misalnya untuk cuci mobil,” ujar Subekti.

Lantas, bagaimana bila air dari hasil olahan tinja ini digunakan untuk berwudu? Sampai saat ini juga belum jelas karena memang belum ada fatwa atau keputusan yang dilontarkan dari pihak berwenang seperti Majelis Ulama Indonesia.

Padahal, hal ini menyangkut status tinja yang di dalam Islam merupakan sebuah najis.

“Insyaallah nanti Komisi Fatwa akan membahas mengenai alat pengolahan tinja, sehingga keputusan itu bukan keputusan pribadi tapi itu keputusan komisi,” jelas Ketua MUI DKI Syarifuddin Abdul Gani kepada media Senin petang.

MUI DKI Jakarta juga mengakui, bahwa hingga kini pihaknya belum mengeluarkan fatwa apa pun terkait dengan pengolahan tinja menjadi air bersih seperti yang tengah digalakkan Pemprov DKI Jakarta.

“Fatwa soal itu memang belum ada, kita nanti akan sampaikan ke Komisi Fatwa untuk dibahas secepatnya, insyaallah,” ujar Syarifuddin.

Dia mengatakan, untuk pembahasan lebih lanjut akan dilakukan MUI DKI selekasnya sebab masalah ini akan sangat berdampak bagi umat. Termasuk mengenai sah atau tidaknya berwuduk menggunakan air hasil olahan limbah tinja yang telah diproduksi PD PAL.

“Apakah air tersebut bisa untuk wudu dan sebagainya, nanti akan menjadi fatwa, insyaallah,” tegas Syarifuddin.

Yang pasti, masih harus dilakukan berbagai penelitian lebih lanjut untuk memastikan bahwa air bersih hasil olahan tinja itu memenuhi syarat secara kesehatan dan juga kehalalan dari sisi agama. Tanpa hal itu, sebersih apa pun air hasil olahan limbah tinja ini nantinya akan tetap menuai pro dan kontra.

Dirut PD PAL Jaya Subekti juga mengungkapkan, pengolahan air limbah atau tinja yang menggunakan alat PAL-Andrich Tech System ini bukan digunakan untuk air minum. Pengolahan digunakan agar air tersebut memiliki mutu yang dipersyaratkan.

“Tentu dengan sistem pengolahan air limbah ini tujuannya kami untuk memperbaiki kualitas olahan limbah. Jadi tidak diperuntukkan bagi air minum,” ucap Subekti di kantornya, Jakarta, Senin (28/5/2018).

Sebagaimana telah diatur dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 68 Tahun 2016 tentang Baku Mutu Air Limbah. Maka saat ini air limbah yang diolah dengan menggunakan alat PAL-Andrich Tech System tersebut hanya langsung dibuang dan digunakan untuk memenuhi syarat baku mutu limbah.

Akan tetapi, Subekti mengatakan, dengan tingkat mutu yang dihasilkan dari alat tersebut, air limbah ini dapat digunakan untuk mencuci kendaraan atau untuk menyiram tanaman.

“Kalau dengan sistem itu, siram taman aman, cuci mobil aman. Dengan kualitas baku olahan tadi. Dan kita jauh dari Permen, jauh lebih baik,” jelas Subekti.

Alat PAL-Andrich Tech System itu sampai saat ini masih dalam tahap uji coba. Subekti menyatakan bahwa pihaknya terus melakukan uji coba dengan alat ini agar sempurna.

“Ini kan baru tahapan uji coba. Volumenya juga segitu, baru 50 m3 per hari. Kapasitasnya seperti itu,” dia memungkasi.

Seperti yang kita ketahui bahwa pada Rabu pekan lalu, 23 Mei 2018, Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Salahudin Uno terlihat sumringah.

Meski dirinya sedang berada di lokasi yang jauh dari kenyamanan, yakni di Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT) Duri Kosambi, Cengkareng, Jakarta Barat, Sandiaga terus menerus menebar senyum.

Senyum Sandiaga kian lebar ketika meresmikan mesin Industri Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang diberi nama PAL-Adrich Tech System.

“Hari ini saya terharu. Kalau kita dengar Adrich. Wah Adrich ini kayaknya (nama) Jerman atau Austria gitu ya. Tahu-tahunya Andri dan Chairunnas. Mereka adalah dua putra dari Sumatera Barat kebanggaan kita semua, ternyata dapat menciptakan suatu teknologi yang begitu inovatif dan tepat guna,” kata Sandiaga dalam sambutannya.

Politikus Partai Gerindra ini wajar jika merasa bangga, sebab dengan mesin yang dibawah naungan PD PAL Jaya ini nantinya air limbah tinja hanya perlu diproses 30 menit dan siap untuk dikonsumsi. Sandi juga mengklaim bahwa temuan ini belum pernah ada dan ini adalah yang pertama.

“Biasanya memakan waktu hingga 7 hari dan menjadi air buangan, (sekarang) dalam waktu setengah jam bisa menjadi air yang bisa diutilitas,” kata Sandiaga.

Dia mengatakan, bahwa keunggulan yang dimiliki alat itu yakni dalam waktu 30 menit bisa mengolah 80 m3 limbah tinja menjadi 60 m3 air bersih. “Alat ini tiap hari mengolah 80 m3, kemudian menjadi air yang siap digunakan untuk utilitas 60 m3,” ujar Sandiaga.

Penulis: Sulis Sutrisna/ Berbagai Sumber

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here