Ingat Utang dan Pembangunan Negara: Mahathir Batalkan Proyek, Jokowi Malah Kebut Proyek

0
24944

Jakarta, namalonews.com- Perdana menteri  Malaysia, Mahathir Mohamad, membatalkan proyek pembangunan kereta api cepat Malaysia-Singapura yang ditaksir bernilai sekitar Rp 231,2 triliun yang merupakan hasil  bekerja sama dengan perusahaan China. Pembatalan itu dilakukan  karena dalam  pandangan  Mahathir,  proyek tersebut tidak memberi keuntungan bagi negaranya, bahkan membebani keuangan negara. Jalur kereta tersebut memiliki panjang 350 kilometer dengan delapan pemberhentian, yaitu tujuh di Malaysia dan satu di Singapura

Waktu tempuh antara Kuala Lumpur ke Singapura diperkirakan akan menjadi 90 menit lebih singkat dibandingkan jalan darat biasa yang memakan waktu hingga lima jam. Proyek ini diperkirakan rampung pada tahun 2026.

Proyek tersebut  mampu menciptakan 442.000 lapangan kerja dengan dampak ekonomi sebesar 21 miliar ringgit (Rp 73,5 triliun). Namun,  pemerintahan baru Malaysia hasil pemilihan umum tanggal 9 Mei 2018 lalu, Mahathir Mohamad, membatalkan proyek pembangunan kereta cepat Malaysia-Singapura tersebut.

Sewaktu berkampanye sebelum pemilu, Mahathir cukup kritis dan keras terkait dengan investasi perusahaan  Cina di Malaysia. Pada waktu itu, ia menilai bahwa harus ada evaluasi menyeluruh atas seluruh investasi negeri Tirai Bambu itu mengingat dampak ekonomi yang dihasilkannya tidak besar buat Malaysia.

Mahathir mengatakan bahwa pembatalan pembangunan kereta cepat tersebut diperlukan demi mengurangi beban finansial negara. Sebab, kata Mahathir, Malaysia tengah dihadapkan pada jumlah utang yang mencapai 1 triliun ringgit atau setara Rp 3.593 triliun. Sebagai bahan pembanding, utang  luar negeri Indonesia Rp 4.800 triliun.

Itulah sebabnya, tidaklah mengherankan jika kemudian Mahathir menepati janjinya kampanyenya dulu. Dalam sejumlah kampanyenya, dengan bahasa yang diplomatis, Mahathir mengatakan bahwa ia akan mengkaji ulang  proyek pembangunan kereta api cepat yang menghubungkan Singapura dan Malaysia. Janji itu kini ditepati  dengan membatalkan  proyek kereta api cepat yang menghubungkan  Singapura dan Malaysia tersebut.

“Ini keputusan final. Tetapi butuh waktu untuk memprosesnya karena kami memiliki perjanjian dengan Singapura,” kata Mahathir dalam jumpa pers di Kuala Lumpur, Senin (28/5/2018) malam.

“Proyek ini tidak menguntungkan. Proyek ini akan membebani Malaysia dalam jumlah besar. Malaysia tidak akan mendapat keuntungan sama sekali dari kesepakatan ini,” lanjutnya.

Mahathir menyadari kebijakannya membatalkan proyek kereta cepat tersebut akan menimbulkan kompensasi yang harus dibayar. Cuma, pemerintah Malaysia saat ini akan berupaya agar pengeluaran tersebut tidak terlampau besar.

Sementara itu, Presiden Jokowi tetap bersikeras melanjutkan pembangunan proyek kereta api cepat Jakarta –Bandung  yang panjangnya 142 kilometer yang akan menghubungkan empat stasiun yakni Halim, Karawang, Walini dan Tegalluar, Bandung tersebut

Bahkan, Presiden Joko Widodo memastikan bahwa proyek kereta api cepat Jakarta-Bandung tersebut dilanjutkan sampai selesai. Hal itu ia katakan saat bertemu sejumlah pegiat media sosial di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (2/2/2016).

“Beliau bersikeras (melanjutkan proyek kereta cepat) karena percaya masa depan bukan di kendaraan pribadi. Jadi, mesti ditingkatkan transportasi umum,” kata komposer musik sekaligus pegiat media sosial (medsos), Addie M.S., seusai bertemu Presiden Jokowi di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, waktu itu.

Lebih lanjut,  Addie M.S. menuturkan bahwa transportasi umum dipilih Jokowi untuk mengatasi problem klasik kemacetan lalu lintas.

Berdasarkan data Presiden Jokowi, kata Addie, negara menelan kerugian sampai Rp 42 triliun setiap tahun hanya karena kemacetan lalu lintas di DKI Jakarta.

“Kita bisa bangkrut kalau tidak berbuat sesuatu, belum apa-apa sudah ditakut-takuti banjir, gempa,” tambah  Addie.

Penulis: Sulis Sutrisna

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here