Mendikbud: Semua Sekolah Mesti Menjadi Sekolah Favorit

0
144

Jakarta, namalonews.com- Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy dalam Sosialisasi Peraturan/Kebijakan Bidang Pendidikan Dasar dan Menengah di Hotel Ciputra, Jakarta, Rabu (30/5), menegaskan bahwa aturan zonasi dalam penerimaan peserta didik baru (PPDB) diterapkan untuk memberantas kastanisasi di antara sekolah-sekolah.

“Semua sekolah baik di kota maupun di daerah mesti menjadi sekolah favorit,” begitu katanya.

“Selama ini di setiap daerah pasti ada namanya sekolah favorit. Sekolah favorit itu menimbulkan sistem kasta, lha masa sekolah jangan sampai munculkan kasta,” imbuh Muhadjir.

Muhadjir juga menyatakan, sistem zonasi selama ini menjadi salah satu cara untuk memperbaiki sistem pendidikan yang selama ini terbangun di setiap daerah dan belum transparan.

“Kita harus mulai bongkar semua. Tidak ada lagi yang menerima titipan apalagi jual beli kursi dalam PPDB,” tegasnya.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) telah mengeluarkan peraturan baru mengenai Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) melalui Peraturan Mendikbud (Permendikbud) Nomor 14 Tahun 2018. Dalam Permendikbud tersebut, zonasi menjadi salah satu unsur utama dalam menerima peserta didik baru mulai jenjang sekolah dasar hingga menengah.

Selain itu, Muhadjir juga mengingatkan agar sekolah terus konsisten menguatkan pendidikan karakter bagi siswa. Seperti pembiasaan sikap dan perilaku positif di sekolah yang dimulai berjenjang mulai dari pendidikan dasar sampai dengan pendidikan menengah.

Mendikbud menambahkan, pendidikan karakter tersebut bisa diwujudkan dengan sistem penerimaan peserta didik baru (PPDB) yang transparan dan tidak diskriminatif. Karena itu, dia berharap dengan diluncurkannya Permendikbud Nomor 14 Tahun 2018 ini bisa menjadi payung hukum dan panduan bagi semua pemerintah daerah dalam mengimplementasikan PPDB yang adil.

Muhajdir meminta kepada para kepala sekolah dan guru untuk mensosialisasikan PPDB tersebut dan memotivasi siswa dengan baik. Jangan sampai ada salah paham yang kemudian menimbulkan masalah di kalangan siswa dan orangtua.

Penulis:  Agus Yanto

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here