Mengenal Pramoedya, Sosok di Balik Minke yang Diperankan Iqbaal Dilan

0
238

Jakarta, namalonews.com- Jagad dunia maya tengah dihebohkan dengan munculnya pembuatan sebuah film yang adaptasi novel karya sastrawan yang bernama Pramoedya Ananta Toer yang berjudul Bumi Manusia.

Pro serta kontra yang berumuculan mulai dari soso Minke yang diperankan oleh artis bernama Iqbaal Ramadhan hingga kekhawatiran apakah novel tersebut berlatar sejarang panjang dapat terakomodasi dengan baik dalam sebuah film yang berdurasi hingga 2 jam tersebut.

Terlepas dari pro dan kontra serta berbagai kehebohan terkait dengan film tersebut, mungkin banyak yang belum mengetahui sosok Pramoedya Ananta Toer yang merupakan sosok dibalik terciptanya sebuah novel yang berjudul Bumi Manusia. Ia dikenal dengan nama Pram yang lahir di Blora, Jawa Tengah pada tanggal 6 Februari 1925.

Pram, dijuluki sebagai Bapak Realisme Sosialis yang semasa hidupnya selalu aktif dalam berbagai Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang telah menelurkan lebuh dari 50 karya sastra dan diterjemahkan ke berbagai bahasa sehingga menjadi bahan ajar fakultas sastra yang ada di Luar Negeri.

Ayahnya yang bernama Mastoer Imam Badjoeri merupakan seorang guru yang awalnya bekerja untuk sekolah dasar di pemerintah, HIS Rembang. Ayahnya tersebut kemudian menjadi kepala sekolah milik dari pergerakan Boedi Oetomo yang ada di Blora. Sedangkan ibunya yang bernama Saidah merupakan anak dari seorang penghulu.

Gaji guru Boedi Oetomo memang sangat kecil, hal tersebut membuat ibunya harus menambah penghasilan dengan cara bekerja di sebuah sawah atau pekarangan rumah warga. Pram merupakan anak sulung. Suasana di Blora memang begitu menyedihkan, apalagi dengan ayahnya yang begitu keras.

Sang ayah merupakan seorang nasionalisme yang sangat keras hati, tampaknya ia sangat kecewa dengan keadaan pergerakannya tersebut. Ia juga sangat kesal karena Pram tidak sepintar yang ia inginkan. Pram sempat tidak naik sekolah hingga tiga kali. Keadaan bertambah buruk ketika ibunya meninggal karena terkena penyakit TBC saat usia 34 tahun. Pram kemudian pergi ke Jakarta.

Segala kegelisahan serta kegaguman kepada sang ibu dan kemarahan ayahnya banyak diwujudkan dalam berbagai karyanya. Ia tampak tidak puas dan marah dengan hidupnya yang hanya memberikan kebahagiaan sejenak.

Beberapa karya utamanya yaitu Perburuan, Kranji-Kranji Jatuh dan Keluarga Gerilya dengan segera menunjukan kegeramannya kepada penguasa. Pram nampak mengenang kala tentara Belanda dengan sewenang-wenangnya pernah membakar sebuah buku koleksi milik ayahnya.

August Hans den Boef dan Kees Snoek di dalam Saya Ingin Lihat Semua Ini Berakhir tahun 2008 mengatakan bahwa berbagai karyanya Pramoedya tersebut telah menciptakan beragam gambaran yang tidak akan terhapuskan mengenai tanah air dan juga sejarahnya.

Inti di dalam karya Pramoedya yaitu nasib dari rakyat. Rakyat yang kehidupan sehari-harinya, rakyat yang bertahan hidup untuk mencari nafkah dan rakyat yang dilukiskan dalam berbagai ambisi yang sering kali dikekang.

Di dalam Perburuan, Pram jelas akan menyuarakan rasa kebencian kepada beberapa orang Indonesia yang menjadi kolaboratir Jepang, sedangkan tokoh Amilah dalam Keluarga Gerilya merupakan tokoh yang diambil Pram dari sosok sang ibu.

Adapun tokoh Wahab yang didasarkan Pram kepada Komandan Wahab yang merupakan seorang pejuang kemerdekaan yang dijatuhi sebuah hukuman mati dari Belanda.

Pram menggambarkan pengalaman ketika dipenjara di sebuah bukit yang bernama Bukit Duri dan Pulau Edam di dalam sebuah roman yang tebal, Mereka yang Dilumpuhkan. Dalam roman tersebut sangat banyak kisah mengenai manusia, banyak kehidupan dan berbagai riwayat kecil dan besar.

Secara keseluruhan dalam roman tersebut, Pram ingin menceritakan bahwa Penjara adalam Universitas bagi para Revolusioner.

Pram juga menampilkan sebuah dunia rakyat jelata yang bagi rakyat Belanda tidak dikenal. Dalam cerita dari Blora tersebut, Pram menampilkan berbagai kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia pada masa yang penuh dengan kekerasan selama dan langsung sesudah masa penjajahan orang Belanda.

Sedangkan dalam Bukan Pasar Malam nampak sebuah kekecewaan dari Pran kepada ayahnya. Meskipun demikian, Pram mengaku bahwa mempelajarai sebuah konsistensi bersikap serta pandangan liberal dari ayahnya tersebut.

Perihal mengenai ideologi, Pram mengatakan bahwa ideologi yang ditanamkan dalam dirinya oleh keluarganya yaitu sikap cinta keadilan, alam, kebaikan dan nasionalisme. Ideologi tersebut sudah ditanamkan dalam diri Pram pada saat masih muda dan hidup sampai saat ini. Jika ia melakukan sebuah kesalahan, maka ia akan mengakui kesalahan tersebut.

Pramoedya telah mengalami berbagai hal, termasuk juga berbagai konflik dengan para seniman dan budayawan lainnya yang bersebrangan dengan Pram.

Ia telah mengalami sebuah penindasan, penghinanan dan perampasan yang tidak patut untuk dialami oleh warga yang merdeka. Namun dalam sepanjang hidupnya, Pram terus terpanggil untuk menulis beberapa karyanya.

Dalam kesempatan yang sama pula Pram mengatakan bahwa ia berharap para pembaca di Indonesia, setelah membaca bukunya akan merasa berani dan dikuatkan. Dan jika hal tersebut terjadi, ia menganggap tulisannya berhasil. Itu merupakan suatu kehormatan bagi seorang penulis terutama bagi Pram.

Kritikus sastra yang bernama Afrizal Malna mengatakan bahwa Pram merupakan seorang yang romantik khas dari generasinya, yang banyak mengalami berbagai kejutan sejaran dan dunia yang baru, yang tiba-tia ada di depannya karena Perang Dunia II.

Afrizal mengatakan bahwa kayanya Indonesia tidak akan melahirkan para sastrawan seperti Pram, karena eranya tersebut sudah berbeda, pandangan dunia sastra juga sedang berubah dengan munculnya berbagai media baru.

Bagi Afrizal, berbagai karya dari Pram merupakan sebuah perspektig sebuah cara bagi bangsa ini dalam melihat berbagai sejarahnya, ditengah berbagai masyarakan masa kini yang memiliki ruang sejarah lain.

Afrizal mengatakan bahwa harapannya bagi generasi masa kini agar dapat melihat berbagai karya dari Pram sebagai sebuah batas dari asal-usul sebagai bangsa Indonesia.

Sesudah kematiannya pada tanggal 30 April 2006 silam, nama Pramoedya Ananta Toer tetap menggema hingga sekarang ini. Sosoknya di dalam berbagai sampul buku yang ditulis August Hans den Boef dan Kees Snoek nampak terlihat garang. Rokok terselip di bagian mulutnya dengan sebuah kacamata yang membingkai wajahnya. Ia tampak begitu keras serta tanggu meskipun hanya menggunakan kaos putih.

Di hadapannya terdapat sebuah mesin tik yang keseluruhannya menggambarkan sosok dari seorang penantang yang tidak pernah menyerah.

Terpilihnya sosok Iqbaal Ramadhan sebagai pemeran Minke dalam film yang berjudul Bumi Manusia banyak menuai pro dan kontra di kalangan netizen.

Banyak yang menilai bahwa Iqbaal dapat menjiwai sosok Minke tersebut. Namun tak sedikit juga ada yang meragukan. Bahkan pemilihan Iqbaal tersebut dipandang bahwa hanya berdasarkan sisi komersil saja.

Seperti yang diketahui publik, pada karakter Dilan dalam film yang berjudul Dilan 1990 itu diperankan oleh Iqbaal yang telah sukses besar. Hal tersebut membuat berbagai orang, khususnya para remaja putri jatuh hati dengan sosok Iqbaal Ramadhan.

Menurutnya, sifat dan gaya Minke dalam novel Pramoedya Ananta Toer tersebut cocok diperankan oleh Iqbaal.

Penulis: Sulis Sutrisna/ Berbagai Sumber

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here