BPPTKG: Dua Letusan Merapi Merupakan Pelepasan Gas

0
164

Pada hari Jumat, 1 Juni 2018, Gunung Merapi kembali menunjukkan aktivitasnya. Pada hari Jumat malam, Merapi meletus sebanyak dua kali, yaitu pada pukul 20.24 WIB dan 21.00 WIB. Kedua letusan yang terjadi dengan selisih waktu yang sangat singkat ini merupakan aktivitas dari Gunung Merapi yang sedang mengeluarkan gasnya.

Hanik Humaida selaku Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta mengatakan bahwa dua letusan Gunung Merapi pada Jumat malam adalah hanya karna pelepasan gas-gas saja. Ia menambahkan bahwa hal ini menunjukkan bahwa dalam Gunung Merapi masih terjadi proses pembentukan gas-gas.

Sebelumnya, pada hari Jumat pagi, Gunung Merapi juga telah menunjukkan aktivitasnya dengan kembali meletus pada pukul 08.20 WIB dengan durasi 2 menit. Menurut BPPTKG, kolom letusan Gunung Merapi dengan tinggi sekitar 6.000 meter ke arah barat laut. Letusan ini mengakibatkan terjadinya hujan abu di kawasan sekitar Gunung Merapi.

Karena hal ini, BPPTKG menyampaikan kepada masyarakat supaya tetap tenang dan waspada atas terjadinya hujan abu. BPPTKG juga menghimbau kepada masyarakat agar mengenakan alat pelindung diri (APD) seperti kacamata, jaket, serta masker saat berada di luar rumah. Sampai dengan siang hari, status Gunung Merapi masih tetap waspada atau level II.

Pada beberapa hari sebelumnya, BPPTKG Yogyakarta, juga telah melakukan pengawasan dan pemantauan terhadap aktivitas dan status Gunung Merapi. Menurut Kepala Seksi Gunung Merapi BPPTKG Yogyakarta, Agus Budi Santoso, berdasarkan pantauan yang telah dilakukan, sejak hari Kamis, aktivitas Gunung Merapi didominasi oleh pelepasan gas-gas belerang.

“Aktivitas vulkanik Gunung Merapi, pada saat ini didominasi oleh pelepasan gas-gas. Hal ini ditunjukkan dengan adanya kegempaan multifase, guguran, serta hembusan yang cukup tinggi,” jelas Agus Budi.

Letusan Gunung Merapi Jumat Malam

Dua kali letusan pada Jumat malam yang berselisih waktu sangat dekat ini adalah letusan yang ketiga kalinya dalam satu hari. Pertama, letusan terjadi pada pagi hari, sekitar pukul 08.20 WIB. Letusan pertama ini memiliki tinggi kolom 6.000 meter.

Kepala BPPTKG Yogyakarta, Hanik Humaida menuturkan, dari hasil pengamatan yang dilakukan oleh petugas tidak ada morfologi yang mengalami perubahan di puncak Gunung Merapi. Akan tetapi, menurutnya, kemungkinan pelepasan gas yang serupa masih bisa terjadi.

“Untuk statusnya masih Waspada. Anjuran bagi masyarakat dengan jarak 3 km dari puncak Gunung Merapi supaya steril dari aktivitas. Kemudian, masyarakat yang beraktivitas di luar rumah dihimbau untuk menggunakan masker,” jelas Hanik.

Sebagaimana yang telah diberitakan kepada masyarakat, pada hari Jumat, 1 Juni 2018 pukul 20.24 WIB, Gunung Merapi kembali meletus dengan durasi selama 1,5 menit. Pada letusan ini, asap dan abu vulkanik mengarah ke Timur Laut. Selain itu, tinggi kolom mencapai 2.500 m dari puncak Merapi dengan amplitudo terbesar yaitu 64 mm.  Tidak lama kemudian, pada sekitar pukul 21.00 WIB, Gunung Merapi kembali meletus untuk yang ketiga kalinya dalam sehari. Letusan ini berdurasi selama 56 detik dengan tinggi kolom tegak 1.000 meter dari puncak Gunung Merapi serta amplitudo maksimum sebesar 29 mm.

Status Merapi Waspada, Warga Mengaktifkan Ronda Malam

Berhubung aktivitas vulkanik Gunung Merapi yang masih bergejolak, sebagian masyarakat yang dekat dengan Gunung Merapi mulai melakukan ronda malam, salah satunya adalah di Desa Krinjing. Untuk berjaga-jaga dan siap siaga dalam menghadapi erupsi Gunung Merapi, masyarakat Desa Krinjing, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, telah mulai mengaktifkan kembali kegiatan ronda malam.

“Seluruh desa telah mengaktifkan kegiatan ronda malam. Ronda malam dilakukan oleh warga, relawan, serta Organisai Pengurangan Risiko Bencana (OPRP),” kata Ismail selaku Kepala Desa Krinjing, pada hari Jumat. Ia juga menambahkan bahwa tujuan diadakannya ronda ini adalah untuk siap siaga apabila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

Sejak hari Senin, 21 Mei 2018 lalu, BPPTKG Yogyakarta telah menaikkan status aktivitas vulkanik Merapi dari level normal menjadi waspada. Desa Krinjing terletak sekitar 6 – 7 km dari puncak Gunung Merapi, dan termasuk dalam Kawasan Rawan Bencana (KRB) III, sehingga dinilai sebagai daerah paling rawan terkena dampak apabila erupsi sewaktu-waktu terjadi. Desa Krinjing merupakan salah satu desa di Kabupaten Magelang yang terdiri atas 10 dusun dengan jumlah penduduknya yang mencapai 2.198 jiwa.

Dalam upaya untuk menghadapi segala kemungkinan yang dapat terjadi terkait dengan aktivitas Gunung Merapi, pihak Desa Krinjing telah melakukan koordinasi, baik di tingkat desa maupun tingkat kabupaten. Kepala Desa Krinjing juga mengatakan bahwa pihaknya telah berkomunikasi dan melakukan koordinasi dengan perangkat Desa Deyangan, Kecamatan Mertoyudan, sebagai desa penyangga atau tempat pengungsian warga Desa Krinjing.

Ismail juga mengatakan bahwa Desa Krinjing telah memiliki sister village atau desa saudara yaitu Desa Deyangan. Apabila terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan, warga Desa Krinjing sudah tahu kemana harus mengungsi. Menurutnya, pada peristiwa letusan Gunung Merapi pada tahun 2010 silam, Desa Krinjing juga mengungsi di Desa Deyangan.

Menurut Ismail, dengan keberadaan sister village ini, akan lebih memberikan keuntungan bagi warga sebagai korban bencana. Di Desa Deyangan, lokasi pengungsian dinilai lebih layak dan nyaman. Pendidikan anak pun tetap terpenuhi, serta dapat meningkatkan rasa persaudaraan dengan warga Desa Deyangan sendiri.

Akibat Letusan Gunung Merapi pada Hari Jumat, 370 Warga Babadan Mengungsi

Pada sekitar pukul 22.30 WIB, ratusan warga Desa Babadan 2, Desa Paten, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah telah mengungsi setelah Gunung Merapi meletus sebanyak dua kali pada hari Jumat, 1 Mei 2018 malam. Diduga, ratusan warga Babadan ini ketakutan karena dua letusan Gunung Merapi, sehingga secara mandiri para warga melakukan evakuasi di balai desa setempat.

Edi Susanto selaku Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magelang menyampaikan bahwa terdapat kurang lebih 370 warga yang mengungsi ke balai desa. Menurutnya kemungkinan para warga panik karena memang pemukiman mereka hanya berjarak 4,5 km dari puncak Gunung Merapi.

“Mungkin mereka itu panik, kemudian mereka berinisiatif bergeser menginap di balai desa,” jelas Edi, pada Jumat malam. Menurutnya, sejumlah 370 warga yang mengungsi berasal dari 110 kepala keluarga, yang terdiri dari lansia 29 orang, balita 32 anak, penyandang difabel 2 orang, serta ibu hamil 3 orang. Pihka BPBD Kabupaten Magelang juga telah melakukan kajian cepat dengan mengirimkan sejumlah logistik dan kebutuhan lainnya ke pengungsian agar dapat dimanfaatkan oleh warga yang mengungsi.

BPBD Kabupaten Magelang juga terus melakukan pengawasan dan pemantauan aktivitas Gunung Merapi. Selain itu, pihak BPBD juga mengadakan sosialisasi terkait kondisi Gunung Merapi yang aktual kepada warga. Sepanjang hari Jumat, 1 Juni 2018, Gunung Merapi meletus sebanyak 3 kali, yakni pada pukul 08.20, 21.00, dan 21.24. Dari semua letusan tersebut, tidak ada awan panas yang terbentuk, hanya saja memberikan dampak hujan abu vulkanik yang menyelimuti berbagai daerah di sekitarnya.

Penulis: Sulis Sutrisna/ Berbagai Sumber

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here