Kalau Merasa Gagal, Mundur Saja. Tidak Perlu Menyuap Rakyat Dengan Sembako

0
439

Jakarta, namalonews.com- Pembagian Sembilan Bahan Pokok (sembako) yang dilakukan oleh pihak  istana kepresidenan kembali terjadi. Kali ini pada Sabtu (2/6) malam di kawasan Jakarta Utara, salah satunya RW 04 Kelurahan  Ancol, Kecamatan Pademangan, Jakarta Utara.

Hasil informasi yag diperoleh, sembilan bahan pokok tersebut terdiri atas 1 kilogram gula pasir, 1 kilogram beras, 1 kotak, dan 3 bungkus mie instan.

Bahrun, Ketua Rukun Warga 04 Pademangan, Kelurahan Ancol dalam keterangannya menjelaskan tidak tahu menahu tentang rencana kegiatan di wilayahnya tersebut. Sekitar pukul 16.30 WIB mendapati panggilan telepon dari Istana. Dalam pembicaraan telepon tersebut memberitahukan bahwa Presiden Joko Widodo akan datang ke wilayahya untuk acara pembagian sembako kepada warganya.

“Karena sudah dapat informasi, saya langsung kumpulkan kurang lebih ada 300 warga di lapangan sebelah Pos Kamling”, tutur Bahrun.

Lebih lanjut Bahrun dalam penjelasannya, satu mobil truk yang mengangkut sembako tersebut tiba di wilayahnya sekitar pukul 17.00 WIB. Tanpa menunggu lama, sembako tersebut lantas disalurkan kepada warganya yang telah lama menunggu dan berkumpul. Dengan senang hati warganya menerima pemberian sembako tersebut apalagi di waktu menjelang hari raya Idul Fitri yang dirasa harus banyak memerlukan sembako.

“Sekitar tiga puluh menit, Pak Jokowi berada di sini. Hanya sekadar salaman dengan warga, terus pergi,” tutur Bahrun. Presiden Joko Widodo datang dan pergi meninggalkan wilayahnya dikawal dengan iring-iringan pengaman Pasukan Pengaman Presiden (Paspampres), maupun Kapolres, dan Dandim.

Informasi yang dihimpun, seorang warga wilayah di RW 04 sebut saja Yudi Setiawan, dia mendapat paket dari Presiden Joko Widodo tersebut menuturkan, paketnya berisi 1 botol minyak, 1 kg gula, 5 kg beras, dan 1 kotak teh celup. Dan di dalam paket tersebut hanya berisi seperti yang telah disebutkan. Dan tidak ada uang di dalam paket itu.

Presiden Gerakan Pribumi Indonesia (Geprindo) Bastian P Simanjuntak dalam keterangannya terkait hal tersebut, menilai aksi tersebut merupakan bentuk kepanikan Presiden Jokowi. Yakni kepanikan bayang-bayang kekalahan dalam kontestasi tahun pilpres mendatang. Dengan sendirinya maka teguran dari badan pengawas pemilu pun terabaikan.

Lebih lanjut Bastian menjelaskan, pada April bulan lalu pihaknya juga pernah menyampaikan teguran kepada Joko Widodo agar menghentikan kegiatan pembagian sembako ke daerah-daerah. Karena hal ini disinyalir Bawaslu sebagai ajang kampanye, dan bukan pemberian bantuan kepada warga. Namun anehnya, kegiatan ini kenapa terulang lagi.

“Tindakan tidak terpuji tersebut semakin membuktikan kepanikan luar biasa dari Istana menghadapi pilpres,” kata Bastian pada media di Jakarta, Minggu 03/06/2018. Jelas tindakan ini mencederai semangat demokrasi Indonesia. Dinilai perlakuan ini sangat memalukan seorang pemimpin bangsa yang mengampanyekan revolusi mental yang kurang sehat. Presiden Joko Widodo semestinya merasa malu melakukan hal tersebut. Karena bisa dinila hal ini merupakan kegagalannya dalam mengatasi kemiskinan di Indonesia.

Seyogianya pemerintah bisa mempergunakan cara-cara sehat dan jujur dalam berkompetisi, harus bisa komitmen dalam rencana seperti halnya menepati janji-janji di masa lalu yang hanya tinggal janji. Dan jika merasa dirinya gagal tidak dipilih lagi, sebaiknya mundur teratur tak perlu menyuap rakyat dengan sembako.

Melihat fenomena ini harusnya ada tindakan nyata dan tegas dari Bawaslu. Siapa pun itu pelakunya harus diberi sanksi. Indonesia merupakan negara hukum, semua sama kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan.

Penulis: Sulis Sutrisna

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here