Terpidana Mati Kasus Korupsi, Zulfiqar Ali Meninggal Dunia

0
444

Jakarta, namalonews.com- Zulfiqar Ali, merupakan seorang warga negara Pakistan yang terpidana mati atas kasus narkoba yang menjerat dirinya. Zulfiqar telah divonis bersalah, sehingga dijatuhi hukuman mati pada tahun 2005 silam di Pengadilan Negeri Tangerang.

Pada saat itu, dalam proses pengadilan, hakim menilai bahwa Zulfiqar telah terbukti terlibat dalam kasus penyelundupan barang haram berupa heroin. Heroin yang diselundupakan oleh Zulfiqar tidak hanya dalam jumlah yang kecil, melainkan heroin seberat 300 gram. Penankapan dirinya pun telah dilakukan di rumahnya di Villa Tugu Cisarua, Bogor, pada 21 November 2004, sekitar setahun sebelum divonis hukuman mati.

Selama ditangkap dan ditahan oleh pihak kepolisian, Zulfiqar menderita penyakit jantung, gagal ginjal serta komplikasi berbagai penyakit lain, sehingga ia harus dirawat di rumah sakit.

Pada tahun 2016 silam, nama Zulfiqar Ali sempat masuk ke dalam daftar narapidana yang akan dieksekusi mati. Karena hal ini, Zulfiqar pun sempat dipindahkan dan dibawa dari Rumah Sakit Umum Daerah Cilacap ke Lapas Batu Nusakambangan untuk menjalankan proses eksekusi. Pada saat itu, dinilai bahwa kondisi Zulfiqar sudah stabil dan siap untuk ikut dieksekusi bersama dengan terpidana mati lainnya.

Pemindahan Zulfiqar menuju Lapas Nusakambagan dilakukan pada hari Senin, 25 Juli 2016. Pada pemindahan Zulfiqar tersebut, nampak bahwa Zulfiqar dibawa dengan kursi roda dan dikawal ketat oleh anggota brimob dan petugas LP. Zulfiqar dibawa keluar dari RSUD Cilacap pada pukul 11.00 WIB. Ketika dibawa dan dikawal ketat oleh petugas keamanan, mata Zulfiqar nampak berkaca-kaca. Ia hanya diam dan tidak mengucapkan kata-kata apapun.

Saut Edward Rajagukguk selaku pengacara Zulfiqar Ali yang mendengar bahwa kliennya akan segera dieksekusi, ia langsung menuju Cilacap untuk membawa surat keterangan permohonan grasi yang tengah ia ajukan kepada Presiden Joko Widodo.

“Saya sedang menuju Cilacap untuk membawa selembar surat, di mana surat ini tertanggal 20 Juni 2016 dan menyatakan bahwa surat saya ke Presiden Jokowi, di situ dibalas melalui Mensesneg. Dalam surat ini dinyatakan bahwa klien saya itu sebenarnya masih mempunyai hak untuk mengajukan grasi,” jelas Pengacara Zulfiqar, Saut Edward.

Akan tetapi, singkat cerita, pada pertengahan tahun 2016, lebih tepatnya bulan Juli 2016, eksekusi mati Zulfiqar resmi ditunda. Hal ini menimbulkan munculnya berbagai spekulasi dari kalangan masyarakat seputar penundaan eksekusi tersebut. Salah satu spekulasi yang beredar di masyarakat adalah perihal surat dari Presiden RI ke-3, BJ Habibie yang ditujukan kepada Presiden Joko Widodo. Menurut kabar yang beredar, isi surat tersebut adalah peernyataan BJ Habibie yang menolak eksekusi mati atas Zulfiqar dan moratorium eksekusi mati. Pada saat itu, surat ini sempat beredar dan menghadirkan polemik di masyarakat.

Mendengar berbagai spekulasi dari warga, Jaksa Agung, HM Prasetyo turut memberikan tanggapan perihal penundaan eksekusi Zulfiqar. Agung mengatakan bahwa penundaan eksekusi Zulfiqar dilakukan berdasarkan pertimbangan dari berbagai pihak. Ia mengatakan semua keputusan harus berdasarkan hal yuridis dan non yuridis.

“Menjelang proses eksekusi, Jampidum selakut ketua tim lapangan menyatakan bahwa dari pembahasan dengan pihak-pihak yang terkait, ternyata dari hasil pembahasan itu, hanya 4 orang yang akan dieksekusi mati pada pagi itu, kemudian 10 terpidana mati lainnya akan ditentukan kemudian,” jelas Prasetyo.

Selain Jaksa Agung, Sekretaris Kabinet Pramono Anung juga memberikan tanggapan terkait dengan penundaan eksekusi Zulfiqar. Pramono mengatakan bahwa surat dari Habibie kepada Presiden Jokowi berisi agar Jokowi meninjau dan memperimbangkan kembali atas keputusan eksekusi mati yang dijatuhkan kepada terpidana Zulfiqar. Pramono juga menyatakan bahwa banyak surat lain yang masuk dan diterima oleh Presiden Joko Widodo yang berisi perihal permohonan pertimbangan kembali atas vonis hukuman mati Zulfiqar. Ia mengatakan juga banyak surat dari negara-negara lain yang masuk.

“Sebetulnya, surat tidak hanya dari Pak Habibie, Komnas Perempuan juga, serta dari berbagai negara turut serta memberikan masukan terhadap hal itu,” jelas Pramono Anung yang memberikan penjelasan di kantornya, di Gedung Sekretariat Negara, Jalan Veteran, Jakarta Pusat.

Kemudian, hingga tahun 2018 ini, belum diketahui kapan proses eksekusi Zulfiqar Ali akan dilaksanakan. Salah satu hal yang menyebabkan penundaan eksekusi zulfiqar adalah karena permohonan grasi atas Zulfiqar yang masih dalam tahap pemrosesan. Selain itu, penundaan ini juga disebabkan oleh Presiden Pakistan Mamnum Husaain yang meminta langsung kepada Presiden RI, Joko Widodo untuk memberikan pengampunan kepada warga negaranya yang tersangkut kasus penyelundupan heroin di Indonesia, Zulfiqar Ali.

“Kasus Zulfiqar ini juga telah masuk ke dalam KSP dan meminta sikap Presiden atas hal tersebut. Tentunya, kita sudah memberikan masukan secara spesifik untuk menjawab apa yang dituntut oleh pemerintah Pakistan,” jelas Ifdhal Kasim selaku Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Kepresidenan (KSP) ketika dimintai tanggapan di kantor KSP, kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta.

Akan tetapi, belum sampai proses eksekusi dilaksanakan, Zulfiqar telah meninggal dunia terlebih dahulu. Zulfiqar Ali, tersangka penyelundupan heroin seberat 300 gram yang ditangkap sejak 2004 silam, meninggal pada hari Kamis, 31 Mei 2018 di Rumah Sakit Medistra Kuningan. Kemudian rencananya, pemakaman jenazah Zulfiqar akan dilaksanakan setelah anaknya yang dari Pakistan tiba. Pemakaman tersebut direncanakan dilakukan pada hari Sabtu, 2 Juni 2018 di Bogor, Jawa Barat.

Kepala Bagian Humas Ditjen Permasyarakatan Kemenkum HAM, Ade Kusmanto, memberikan penejelasan bahwasannya terpidana mati atas tindak pidana penyelundupan heroin, Zulfiqar Ali telah meninggal dunia pada pukul 15.00 di RS Medistra Kuningan.

Diketahui, terpidana mati Zulfiqar Ali mengidap sakit keras sejak lama. Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia, Yasonna Laoly mengatakan bahwa pihaknya telah mengizinkan keluarga warga negara Pakistan untuk mendampingi Zulfiqar di rumah sakit.

Zulfiqar Ali juga sempat dirawat di Rumah Sakit Siloam, Jakarta untuk mendapatkan perawatan yang intensif atas penyakit yang dideritanya. Berdasarkan informasi, Zulfiqar mengidap penyakit kanker hati ganas. Penyakit lain yang diderita oleh Zulfiqar juga sudah banyak dan mengakibatkan komplikasi sejak penahanannya tahun 2004 silam. Penyakit yang diderita Zulfiqar di antaranya adalah jantung, hati, dan gagal ginjal.

“Jadi dia (zulfiqar) sudah mengidap sakit keras. Sekarang dia berada di RS Siloam,” kata Yasonna ketika ditemui dan dimintai keterangan di Istana Kepresidenan Jakarta.

Pada hari Selasa, 29 Mei 2018 yang lalu, Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Kepresidenan (KSP) Ifdhal Kasim juga menyampaikan persoalan Zulfiqar. Ia mengatakan bahwa Zulfiqar saat ini sedang berupaya meminta grasi kepada Presiden Joko Widodo, dan permohonan tersebut, menurutnya memang telah ditampung oleh KSP. Ifdhal juga menyampaikan bahwa pihaknya sudah mengetahui bahwa Presiden Pakistan, Mamnum Husaain telah memintakan pengampunan atas warga negaranya, Zulfiqar Ali kepada Presiden RI, Joko Widodo.

Penulis: Sulis Sutrisna/ Berbagai Sumber

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here