Wow… Kini, Indonesia Tambah Utang Lagi Rp4 Triliun

0
159

Jakarta, namalonews.com- Banyak kritikan bukan berarti menjadi cemeti jera dalam melakukan suatu tindakan. Ya, negara Indonesi tercinta ini. Meskipun acapkali mendapat kritikan bahkan bisa dibilang terus menerus dikritik, namun tak menyurutkan hasrat pemerintah dalam melakukan pinjaman alias utang.

Sebagai informasi terkini, pemerintah akan mendapat pinjaman sebesar 300 juta dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp 4,2 triliun dari Bank Dunia. Informasi yang didapat, bahwasanya pinjaman sebesar itu akan digunakan untuk pembangunan di sektor pariwisata yang dirasa lebih dominan.

Informasi yang didapat menerangkan, Rodrigo Chaves, Direktur Bank Dunia untuk Indonesia dan Timor Leste, pemerintah Indonesia dipastikan akan mendapat pinjaman. Lebih lanjut, Dewan Direktur Eksekutif Bank Dunia sudah menyetujui pinjaman 300 juta dolar AS yang diajukan pemerintah. Utang rencananya digunakan untuk meningkatkan prasarana dan layanan dasar pariwisata, juga untuk memperkuat interaksi ekonomi dengan pariwisata maupun investasi swasta yang ada.

Disinyalir, lebih dari 2,8 juta penduduk Indonesia akan mendapat manfaat dari jalan dan akses ke layanan dasar yang lebih baik dari pengembangan sektor pariwisata.

“Jika direncanakan dan dikelola dengan baik, pariwisata dapat menghasilkan lapangan kerja yang besar dan melipatgandakan pendapatan. Infrastruktur dasar yang lebih baik dan belanja oleh para pengunjung dapat menghasilkan dampak ekonomi yang signifikan di daerah-daerah yang memiliki keterbatasan untuk pemerataan kemakmuran,” ujar Chaves pada media.

Lebih lanjut, pembiayaan ini akan dapat membantu pembagunan infrastruktur pariwisata nasional. Yakni di lokasi Pulau Lombok, Borobudur-Yogya, maupun Danau Toba, Sumatera.

Dipandang ketiga destinasi tersebut bakal meningkatkan jumlah pengunjung yang sekaligus mendorong investasi swasta yang terus melaju meningkat. Dengan begitu diharapkan proyek ini juga akan berusaha memperbaiki manajemen aset alam dan budaya, yang sangat penting bagi pertumbuhan sektor pariwisata.

“Proyek ini akan membantu meningkatkan koordinasi antara pemerintah pusat, provinsi dan daerah serta memobilisasi sumber daya menuju tujuan bersama yang berlandaskan rencana induk pariwisata terpadu yang disiapkan untuk setiap tujuan,” tambah World Bank Senior Private Sector Specialist Bertine Kamphuis.

Realitasnya, walaupun jumlah utang negara kian menambah para pendukung pemerintah tidak membela dana atau khawatir.

Wakil Ketua Umum Partai Hanura, Yus Usman Sumanegara mengatakan, dalam empat tahun terakhir rasio utang terhadap PDB masih cukup ideal, ada peningatakan sedikit dari tahun 2014-2017 tapi tetap di bawah 30 persen. Kalau mengacu pada UU Keuangan Negara, itu masih ideal, karena UU mengatur maksimal 60 persen. “Artinya, likuidas keuangan negara cukup bagus,” katanya, kemarin pada media.

Perbadingan ini masih normative. Negara masih mampu membayar pokok dan bunganya. “Yang perlu kita lihat, utang yang besar itu tidak mengganggu keberlangsungan fiskal. Karena itu pengelolaan utang harus akuntabel dan transparan. Bila perlu tiap tahun dicek benar nggak dimanfatkan untuk investasi yang dapat meningkatkan nilai keuangan negara. Jangan sampai terjadi distorsi, masuk ke kantong-kantong yang tak seharusnya. Itu yang bahaya,” jelasnya lebih detail lagi.

Sementara itu, Faisal Basri, pengamat ekonomi Universitas Indonesia mewanti agar pemeeintah hati-hati terhadap utang. Utang pemerintah saat ini memang rawan karena bentuknya sebagian besar adalah obligasi yang 50 persen dipegang asing. Ini akan membuat kedaulatan pemerintah berkurang, lebih parah lagi Indonesia sangat berpengaruh kondisi keuangan glonbal nantinya.

Penulis: Sulis Sutrisna

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here