Chairul Tanjung Masuk Radar Kandidat Capres dan Cawapres Demokrat

0
182

Jakarta, namalonews.com- Partai Demokrat kini tengah mempertimbangkan sejumlah nama pontensial agar didukung untuk menjadi capres dan cawapres pada Pilpres 2019 mendatang. Di antara beberapa nama yang masuk menjadi radar yaitu bos CT Corps yang bernama Chairul Tanjung.

Wakil Ketua Umum Demokrat yang bernama Syarief Hasan menilai bahwa CT merupakan salah satu seorang pengusaha yang sukses. Pengalaman dalam bidang pemerintahan sangat baok ketika menjadi Menko Perekonomian.

Syarief mengatakan bahwa orang yang sangat berhasil dalam dunia usaha. Pernah menjadi Menko Perekonomian , diakademisi juga sangat bagus. Ia pikir sangat berpotensi menjadi salah satu pembahasan dalam capres dan cawapres.

Menurutnya, kajian nama CT tersebut muncul terkait adanya upaya untuk Demokrat membentu sebuah poros ketiga. Syarief sangat optimis jika pembentukan poros ketiga tersebut masih dimungkinkan.

Namun, terbentuknya poros ketika tersebut tergantung pada dukungan beberapa partai untuk mencapai syarat ambang batas pencalonan capres hingga 20 persen.

Syarief menerangkan mereka akan melihat, koalisi yang terbentuk tersebut bagaimana yang masing-masing ada berapa partai.

Meskipun demikian, Syarif mengatakan bahwa Demokrat pantang menyerah untuk melahirkan sebuah poros ketiga dalam Pilpres Serentak 2019 yang akan datang.

Syarief menjelaskan bahwa sepanjang segala sesuatu yang masih cair hingga saat ini. Sepanjang belum ada sebuah janur kunir yang berkibar masih ada kemungkinan banyak.

Syarief mengatakan bahwa Chairul Tanjung cocok menjadi capres dan cawapres yang akan diusung Partao Demokrat dalam Pilpres 2019 yang akan datang. Ia berfikir bahwa sangat berpotensi untuk menjadi salah satu dalam pembahasan capres dan cawapres.

Alasan Syarief menilai CT sangat cocok, karena ia merupakan salah satu pengusaha yang telah berhasil dalam mengembangkan usahanya tersebut. Bahkan ia pernah memberikan kontribusinya sebagai salah satu menteri dalam era Presiden SBY.

Wakil Ketua Dewan Pembina Demokrat yaitu Agus Hermanto telah memprediksi bahwa ada tiga calon yang akan maju dalam Pilpres 2019 mendatang. Sebab, ia mengatakan jika lebih dari tiga makan tidak memenuhi aturan dalam UU Pemilu yang terkait dengan ambang batas pencalonan capres yang harus 20 persen kursi dalam DPR atau dengan 25 persen suara sah nasional tersebut.

Agus mengatakan bahwa ia menyakini bahwa menurut hitungannya paling banyak terdapat 3 kadidat. Karena jika sudah melebihi 3 maka tidak akan mencukupi 20 persen dari kursi DPR tresebut.

Agus mengatakan bahwa Demokrat tetap menginginkan agar Agus Harimurti Yudhoyono dapat ikut maju dalam Pilpres 2019 mendatang. Baik sebagai capres atau cawapres.

Ia mengatakan bahwa proyeksinya seperti itu maka dari Partai Demokrat dalam berbagai pertemuan tentunya memiliki keinginan bahwa AHY tersebut menjadi next leader dalam capres maupun cawapres.

AHY juga telah melakukan berbagai sosialisasi kepada para masyarakat. Sebab, klaimnya, saat ini para masyarakat Indonesia telah menginginkan sosok pemimpin yang masih muda.

Agus juga mengatakan bahwa jika dipimpin oleh kawula muda tentu kawula muda harus memiliki kecerdasan yang cukup tinggi dan juga mempunyai kemampuan yang tinggi tidak salah juga memiliki kemampuan elektabilitas yang cukup tinggi.

Mengenai koalisi, partai besutan dari SBY tersebut belum dapat menentukan pilihan. Berbagai peluang koalisi juga masih sangat cair karena mengingat bahwa Pilpres tersebut akan dilaksanakan pada tahun 2019 mendatang.

Ia mengatakan bahwa semuanya tentu terbuka dengan berbagai partai mana saja karena saat ini koalisinya masih cair.

Moment pada saat Gatot Nurmantyo mencium tangan SBY dalam sebuah acara buka bersama di dalam kediaman Chairul Tanjung disebut bahwa Partai Demokrat menjadi cermin dalam ikatan moral atara kedua tokoh tersebut.

Syarief Hasan mengatakan bahwa ikatan tersebut sudah terjalin lantaran SBY dan Gatot mempunyai hubungan senior serta junior ketika masih berdinas dalam TNI.

Syarief mengatakan bahwa hal tersebut juga menanggapi sikap Gatit yang mencium tangan SBY beberapa waktu yang lalu.

Syarief juga mengatakan jika SBY dan Gatot mempunyai riwayat yang cukup dekat. Menurutnya, kedekatan tersebut sudah terjalin pada saat Gatot menjadi Kepala Staf AD TNI sedangkan SBY juga menjabat sebagai presiden.

Syarief mengatakan jika hubungan tersebut karena bagaimanapun juga Gatot pernah dibimbing oleh SBY pada saat menjadi KSAD dalam era SBY.

Syarief kemudian memuji Gatot, menurutnya, Gatot telah menjalankan sebagian dari tugasnya dengan baik ketika menjabat sebagai salah satu Panglima TNI.

Gatot pun disebut telah mempunyai beberapa potensi untuk menjadi capres atau cawapres. Namun, masih ada beberapa faktor lain yang harus dipertimbangkan. Tidak hanya riwayat Gatot selama menjadi seorang Panglima TNI. Namun, banyak berbagai faktor yang menjadi konsideran dari beberapa partai.

Gatot hingga saat ini memang masih digadang sebagai salah satu kadidat capres atau cawapres dalam acara Pilpres 2019 mendatang. Namun ia tidak mempunyai kendaraan politik untuk manju dalam Pilpres tersebut.

Syarief membantah jika Demokrat telah menjalin sebuah komunikasi yang intensif dengan Gatot dalam menghadapi acara Pilpres pada tahun 2019 mendatang. Syarief juga mengatakan bahwa pertemuan tersebut tidak membicarakan mengenai Pilpres 2019.

Gatot menegaskan bawa menurutnya moment tersebut hanyalah sebatas dari wujud emosional antara senior dan junior saja. Jangan diartikan yang lain.

Partai Demokrat kini dipredikasi bahwa akan mengusung nama CT menjadi cawapres dari Jokowi pada Pilpres 2019. Sedangkan AHY akan disiapkan untuk menjadi menteri. Karena figur dari CT dinilai lebih terbuka dibanding dengan AHY.

Adi Prayitno menilai bahwa AHY masih sulit untuk menembus istanya untuk menduduki kursi RI-2, sehingga Demokrat memutuskan untuk mengambil CT yang mempunyai kedekatan dengan Jokowi. Selain itu AHY akan disiapkan sebagai menteri.

Ia juga mengatakan jika AHY susah untuk maju, maka Demokrat akan mengambil orang kedua yang sudah dekat dengan Jokowi. Karena CT diterima dan kemungkinan AHY akan ditempatkan sebagai persiapkan dalam 2024 mendatang.

Untuk sementara ini, AHY akan ditempatkan sebagai menteri jika Jokowi menjadi presiden kembali.

Setelah menjajal dalam sebuah pemerintahan, AHY baru akan dimajukan untuk menjadi capres dari Demokrat pada tahun 2024 mendatang. Karena Demokrat harus dapat memoles AHY dahulu agar dapat mengerti mengenai permerintahan.

Salah satu kelebihan dari AHY adalah karena ia merupakan seorang putra mahkota saja, selebihnya tidak ada. Belum pernah menjadi kepala daerah atau menteri. Jadi hal tersebut yang membuat maju mundur untuk mendukung AHY sebagai capres.

Pengamat politik yaitu Ujang Komarudin juga memprediksi bahwa CT juga cenderung lebih baik diterima koalisi pendukung Jokowi daripada AHY.

Ia khawatir jika AHY akan menjadi calon yang kuat pada Pilpres 2024 jika maji untuk menjadi cawapres Jokowi.

Berbeda dengan CT yang diusulkan karena bukan menjadi trah dari SBY meski mereka mempunyai hubungan cukup dekat. Jadi, CT lebih dapat diterima. Apalagi ia merupakan seorang pengusaha perekonomian yang sukses.

Penulis: Sulis Sutrisna/ Berbagai Sumber

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here