Ekonomi Indonesia Diprediksi Tumbuh 5,2 Persen

0
183

Jakarta, namalonews.com- Pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini diprediksi 5,2 persen. Proyeksi tersebut berubah dari sebelumnya yang memperkirakan ekonomi Indonesia tumbuh 5,3 persen.

Demikian disampaikan oleh Country Director of The World Bank Indonesia-Rodrigo Chaves di Gedung Bursa Efek Indonesia Jakarta pada Rabu (6/6/2018).

Bank Dunia optimistis perumbuhan perekonomian Indonesia tahun ini masih berada pada kisaran positif. Namun, Bank Dunia mengingatkan akan adanya peningkatan resiko yang perlu dicermati dan diantisipasi.

“Sejalan dengan perkiraan pertumbuhan ekonomi global yang terus menunjukkan trend melambat dan juga arus perdagangan menurun dari tingkat tertingginya baru-baru ini, pertumbuhan produk domestik bruto Indonesia diperkirakan mencapai 5,2 persen pada 2018,” ujar Chaves.

Berdasarkan perkiraan Bank Dunia, konsumsi swasta atau investasi akan sedikit meningkat tahun ini. Sedangkan, pertumbuhan investasi diprediksi tetap melonjak, mengingat tingginya harga komoditas yang terus berlanjut.

Namun, Bank Dunia mengingatkan bahwa sifat investasi yang dibayangi impor, maka kinerja ekspor juga masih akan terus membebani pertumbuhan ekonomi. Hal ini disebabkan karena pertumbuhan ekspor masih akan melambat seriring dengan menurunnya perdagangan global.

“Resiko terhadap kondisi ekonomi yang terus meningkat dan timbulnya volatilitas keuangan yang berpusat di negara-negara berkembanga yang lebih rentan seperti Argentina dan Turki,” lanjutnya.

Selain itu, Indeks Harga Konsumen diprediksi masih berkisar di 3,5 persen. Sementara, neraca transaksi berlajan masih defisit -2 persen. Sedangkan, neraca anggaran pemerintah menurun -2,1 persen.

Perkiraan Bank Dunia menyebut defisit neraca transaksi akan meluas. Hal ini terjadi karena permintaan dalam negeri lebih tinggi, sementara kondisi perdagangan lemah dan pertumbuhan global terus melambat.

Bank Dunia melanjutkan dari sisi pasar uang dan saham juga masih rawan terhadap resiko dari normalisasi lanjutan kebijakan moneter Amerika Serikat. Hal ini membuat resiko yang signifikan dari volatilitas di pasar keuangan dan modal global.

Penulis: Boni Ogur

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here