Mahalnya Sebuah Rutinitas yang Fitri

0
136

Jakarta, namalonews.com- Setiap tahun sekali bangsa ini merayakan Lebaran. Lebaran telah menjadi tradisi tahunan budaya bangsa yang telah mengakar kuat. Itulah sebabnya, dalam kondisi sosial, ekonomi, dan politik Indonesia yang bagaimana pun, Lebaran tetap harus dirayakan dan dimeriahkan oleh masyarakat Indonesia. Lebaran berarti mudik. Jutaan rakyat Indonesia yang merantau berbondong-bondong mudik. Mudik selalu dinanti-nantikan, sekaligus merupakan salah satu kebahagiaan tersendiri bagi perantau. Mereka senantiasa rindu untuk pulang ke kampung halaman, tanah kelahiran, untuk bertemu dan bersilatuhami dengan orangtua, keluarga, atau handai tolan.

Kini, Lebaran dengan tradisinya yang berupa mudik sudah cenderung menjadi gaya hidup modern orang-orang yang bertempat tinggal di perkotaan. Tradisi mudik Lebaran lebih disebabkan oleh problem sosial.

Sebagian besar para pemudik itu adalah kelompok masyarakat kelas menengah ke bawah yang ingin menunjukkan kepada masyarakat tempat asal usulnya atas keberhasilannya di perantauannya.  Mereka ingin menunjukkan kesuksesannya setelah bertempat tinggal dan bekerja di tempat baru, terutama di kota besar dengan berbagai cara. Misalnya, membagikan uang saku, memperlihatkan motor atau mobil baru, dan kisah sukses lainnya.

Lebaran diawali ketika menjelang Idul Fitri, para pemudik pulang ke kampung halaman. Tidak peduli dengan kesulitan yang dihadapi ketika harus berdesak-desakan di kareta, berjubel di bus, dan kemacetan di sepanjang perjalanan. Begitu juga dengan mereka yang mudik mengendarai sepeda motor, yang menghadapi risiko kepanasan, kehujanan, dan kecelakaan. Pun pula pemudik yang mengendarai mobil pribadi, tak peduli menghadapi kemacetan berjam-jam di perjalanan.

Demikian juga pemudik yang menggunakan jasa angkutan udara dan laut, yang harus berjuang mendapatkan tiket disertai dengan harga tiket yang melambung tinggi. Itu baru  kesulitan dan kendala di perjalanan. Belum lagi kesulitan yang harus diatasi yang berupa penyediaan dana. Pemudik harus juga mempersiapkan sejumlah dana untuk biaya perjalanan pergi-pulang, biaya hidup selama di kampung, dana untuk orangtua-sanak saudara, dan lain-lain. Tentu saja cukup besar biaya yang harus disiapkan oleh para pemudik. Biaya itu akan lebih besar jika pemudik sudah berkeluarga.

Sepenuh hati dengan tebalnya kesigapan asa suci, semoga para pemudik bisa berkumpul dengan keluarga dan keluarga besar tercintanya dalam suatu kebahagiaan yang fitri. Kebahagiaan hakiki sarat toleransi penuh arti, sambut masa depan yang pasti.

Pembaca Namalonews.com yang budiman, dalam suasana Idul Fitri yang penuh kebahagiaan ini, kami seluruh jajaran Pimpinan, Redaksi, dan Staf PT Namalo Persada memohon dibukakan pintu maaf atas segala kesalahan dan kekhilafan dalam mengelola portal kesayangan kita ini. Tak lupa kami juga mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri, semoga di hari suci ini membawa kebahagian yang hakiki. Semoga amal kebajikan kita diterima oleh Allah SWT sehingga kita semua menjadi pemenang sejati dan meraih predikat manusia istimewa di hadapan Allah SWT…yakni Manusia yang Bertaqwa. Aamin.

Penulis: Sulis Sutrisna

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here