Mbak Tutut Akan Jadikan Bekas Kediaman Soeharto Sebagai Museum

0
587

Jakarta, namalonews.com – Putri pertama mantan Presiden Republik Indonesia Soeharto, Siti Hardijanti Rukmana atau yang akrab disapa Tutut Soeharto, mengatakan bahwa keluarganya berencana untuk menjadikan bekas kediaman ayahnya yang berlokasi di Jalan Cendana, Jakarta, sebagai museum. Hal ini dengan tujuan supaya masyarakat mengetahui kehidupan sehari-hari Soeharto yang sederhana.
“Supaya masyarakat tahu Pak Harto itu seperti apa, tidak ada yang mewah-mewahan, tidak ada yang muluk-muluk, sederhana sesuai jiwa bapak dan ibu saya,” ujar Tutut saat berada di bekas kediaman Soeharto yang beralamat di Jalan Cendana, Jakarta Pusat, Senin, 4 Juni 2018.
Rumah yang dulunya ditinggali oleh Soeharto dan keluarganya itu terletak di Jalan Cendana 1, Menteng, Jakarta Pusat. Dikarenakan letaknya di Jalan Cendana menjadikan rumah itu sering disebut sebagai rumah Cendana. Adapun keluarga Soeharto juga sering disebut sebagai keluarga Cendana.
Rumah Cendana menempati sebanyak tiga kavling yang dijadikan satu. Tutut pun mengatakan rumah itu telah ditempati ayah dan ibunya sejak tahun 1969. “Sebenarnya saya lupa tahunnya,” kata Tutut.
Tutut mengatakan bahwa rencana menjadikan rumah itu sebagai museum sudah terpikirkan sejak tahun lalu. Rencananya pemilik tidak akan memungut biaya dari pengunjung. Tutut juga berujar akan segera merealisasikan ide itu. Menurut Tutut, banyak masyarakat yang berharap rencana itu bisa terealisasi. Tutut mengatakan selain museum, rumah itu juga akan digunakan untuk kegiatan sosial, seperti halnya pertemuan warga.
Tutut berharap rumah itu bisa mengingatkan masyarakat akan sosok mendiang bapaknya. Masyarakat diharapkan nantinya bisa menyaksikan kesederhanaan keluarganya dari rumah itu.
“Jadi enggak kayak orang bilang duitnya enggak entek-entek (habis-habis). Yang enggak habis-habis itu duitnya bank, sayangnya bank yang punya bukan Bapak,” kata Tutut.
Pernyataan Tutut mengenai kesederhanaan Soeharto justru berbanding terbalik dengan temuan Transparency International (TI). Di tahun 2004, lembaga itu telah menobatkan Soeharto sebagai koruptor paling kaya sedunia. TI mencatat kekayaan Soeharto yang didapat dari hasil korupsi sebesar US$ 15-35 miliar. Sebagian besar di antaranya diduga kuat adalah hasil jarahan selama 32 tahun lamanya saat berkuasa di Indonesia, yakni sejak 1967 sampai 1998.
Nama Soeharto pun bertengger di pucuk daftar koruptor di dunia, di atas bekas Presiden Filipina Ferdinand Marcos serta bekas diktator Zaire Mobutu Sese Seko, yang ada di peringkat kedua dan ketiga dengan nilai korupsi yang terpaut cukup jauh dari Soeharto.
Daftar para raja koruptor tersebut merupakan bagian dari Laporan Korupsi Global 2004 (Global Corruption Report) yang dikeluarkan oleh lembaga itu guna menunjukkan bagaimana korupsi serta praktek suap-menyuap yang berkaitan dengan kekuasaan politik sudah merusak habis proses pembangunan dalam banyak negara berkembang.
Ruang Kerja Soeharto di Cendana
Mbak Tutut mengajak para wartawan untuk berkunjung ke ruang kerja mendiang ayahnya saat tengah menerima wartawan untuk berbuka puasa bersama di kediaman Soeharto yang beralamat di Jalan Cendana nomor 6 Menteng Jakarta Pusat, Senin (4/6/2018).
Dalam kesempatan tersebut, Mbak Tutut mengajak para wartawan ke ruangan dimana mendiang Soeharto menggunakannya untuk menerima tamu-tamu kenegaraan seperti halnya para menteri orde baru.
Ruangan tersebut memiliki pintu berwarna cokelat yang masih terkunci dengan gembok saat Mbak Tutut dan para wartawan sampai di depannya. Mbak Tutut mengatakan bahwa ruangan tersebut sengaja digembok supaya tidak ada orang yang dapat keluar masuk ke dalamnya.
“Ini digembok biar nggak ada orang yang keluar masuk,” ujar Tutut.
Ruangan dengan ukuran sekitar 5 x 5 meter tersebut memiliki dinding bernuansa biru langit. Di ruangan ini terdapat sebuah foto mendiang Soeharto yang berukuran sekitar 1,5 meter x 1 meter. Foto tersebut terpampang jelas diatas sebuah pigura yang ada di belakang meja kayu berbentuk lingkaran.
Di belakang meja tersebut dilengkapi dengan lima buah sofa kulit yang berwarna hitam. Mbak Tutut mengatakan bahwa ruang kerja tersebut sengaja untuk dibiarkan dengan kondisi seperti pada saat mendiang ayahnya masih hidup.
“Ini nggak ada yang diubah sama sekali sejak dulu Bapak masih hidup. Di sini biasanya Bapak terima tamu kenegaraan seperti menteri-menteri,” ujar Tutut.
Biasanya, di dalam ruangan itu mendiang ayahnya menghabiskan waktu untuk menyelesaikan dokumen-dokumen kenegeraan mulai dari Subuh. Apabila kebetulan ada pekerjaan yang harus dibawa pulang, maka mendiang ayahnya akan mengerjakannya di ruang tersebut sampai jam 22.00 WIB.
“Biasanya sampai jam 10 (22.00), mulainya dari habis Subuh,” kata Tutut.
Di salah satu dinding ruangan itu tampak sebuah lukisan yang berukuran sekitar 2,5 meter x 1,5 meter dengan gambar tokoh pewayangan Hanoman. Tak hanya itu, terlihat juga sebuah bendera Merah Putih yang terpasang di sebuah tiang dan ditempatkan diantara dua tombak dengan nuansa kuno di salah satu sudut ruangan tersebut.
Di sudut lainnya ada dua buah patung dengan bentuk figur binatang bersayap yang berwarna kuning keemasan ukuran sekitar 1 meter x 0,5 meter yang ditaruh di kanan dan kiri sudut ruang tersebut. Ada juga dua buah jam yang masih aktif serta menunjukan jarum yang sama di dalam ruangan tersebut.
Jam pertama yang ada di dinding bagian atas memiliki bentuk persegi panjang dengan gambar seperti bangunan bertingkat dengan nuansa laut. Sementara jam kedua berbentuk setengah lingkaran yang memiliki ornamen kayu serta kuning keemasan yang ditempatkan di sebuah meja yang ada di sudut ruangan.
Di dinding bagian atas bagian tengah ruang tersebut tampak sebuah patung dengan bentuk Garuda yang membawa simbol Pancasila di dadanya. Di dinding bagian lainnya pun tampak foto Soeharto dengan Tien Soeharto yang berukuran sekitar 50 cm x 25 cm.
Mbak Tutut pun pernah menunjukan ruangan lain yang di dalam ruang kerja tersebut yang digunakan sebagai kamar mandi. Pintu kamar mandi tersebut didesain dengan nuansa kayu panel yang berwarna cokelat terang dan juga digembok. Saat gembok tersebut dibuka tampak cermin besar di depan wastafel dalam kamar mandi tersebut.
Di atas wastafel tampak tempat sabun cair berisi cairan berwarna cokelat dan hiasan kristal dengan bentuk tumbuhan berbunga. Lampu ruangan tersebut tampak menerangi dinding keramik yang didesain dengan warna biru kehijau-hijauan dan memiliki saklar yang warnanya kuning keemasan.
“Ini kamar mandi, Mbak,” kata Tutut saat menunjukkan ruangan tersebut.
Di sebelah ruangan tersebut tampak sebuah ruangan dengan pintu bernuansa sama dengan kamar mandi. Namun ruangan yang ada tepat diantara deretan sofa kulit berwarna hitam tersebut tak dibuka oleh Mbak Tutut. Mbak Tutut juga mengatakan bahwa tempat itu juga berfungsi untuk rapat menjelang mundurnya mendiang Presiden Kedua Republik Indonesia Soeharto beserta para menterinya.
“Iya ini dipakai waktu itu,” kata Tutut menjelaskan kepada para wartawan.

  • Penulis: Sulis Sutrisna/ Berbagai Sumber

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here