Manuver Amien Rais Dekati Habib Rizieq dan Bumerang untuk PAN

0
280

Jakarta, namalonews.com- Amien Rais dianggap telah berupaya mendekati Imam Besar FPI Habib Rizieq Syihab dan kelompok 212. Manuver Amien Rais yang merapat ke Ketua Gerindra Prabowo Subianto memang menjadi hal yang wajar dalam politik. Akan tetapi tidak dengan Amien Rais-Habib Rizieq.

Bahkan muncul tanggapan dari Ketua Pusat Studi Politik dan Keamanan (PSPK) Universitas Padjajaran Muradi yang menilai bahwa aksi Amien Rais dalam membentuk koalisi Keumatan bersama Habib Rizieq Shihab setelah ibadah umrah sebagai langkah yang keliru.

Muradi juga menjelaskan dalam perspektif pemilih, pendekatan Amien Rais yang intens dengan kubu Habis Rizieq tidak akan banyak membantu PAN dalam pemilihan umum tahun depan. Manuver tersebut justru dianggap akan semakin membatasi jangkauan PAN untuk mendulang suara pemilih dalam pemilihan legislatif 2019 mendatang.

“Cara ini tidak efektif karena dengan mendatangi Habib Rizieq maka dia semakin melokalisir jangkauan partainya,” kata Muradi, Selasa (5/6).

Salah satu hal yang menjadi kekhawatiran Muradi dari langkah Amien Rais tadi ialah menjauhkan PAN dari basis pemilih mereka yang paling potensial, yakni Muhammadiyah.

“Karena Muhammadiyah itu enggak mengenal imam besar,” ujar Muradi.

Pertemuan Prabowo-Amien-Habib Rizieq

Selesai menjalankan ibadah umrah di Mekah akhir pekan lalu, Amien Rais dan Prabowo langsung menemui Habib Rizieq. Dari pertemuan itu, Rizieq Syihab meminta untuk segera membangun koalisi bersama PBB dan PKS guna persiapan menghadapi Pilpres 2019 mendatang kepada semua tamunya.

Muradi tidak menampik kedekatan Amien dan Rizieq bisa menjaring massa di lingkaran Rizieq untuk memilih PAN. Akan tetapi, jumlah suaranya belum tentu sepadan jika dibandingkan dengan potensi kehilangan suara karena manuver tersebut.

“Yakin FPI punya 7 juta pengikut? Dalam politik harus dihitung juga. Misalnya ada orang yang suka Pak Prabowo atau Pak Amien, tapi apa mereka juga suka Habib Rizieq?”

Angkat Pamor PAN

Direktur Eksekutif Voxpol Center Pangi Syarwi Chaniago memiliki pandangan tersendiri dalam manuver Amien Rais tersebut yang didasarkan pada posisi PAN sekarang ini. Menurut Pangi, sebagai partai papan tengah terdapat kebutuhan bagi PAN dalam membuat manuver khusus yang dapat mendongkrak popularitas partai. Hal ini memiliki tujuan untuk mendulang suara di pemilihan legislatif.

Melihat dari sejumlah hasil survei yang ada, apa yang dikatakan oleh Pangi memang ada benarnya. Dari survei LSI Denny JA pada tanggal 28 April hingga 5 Mei 2018, misalnya, memperoleh elektabilitas PAN hanya 2,5 persen. Sedangkan survei Litbang Kompas pada tanggal 21 Maret sampai 1 April 2018 memberikan elektabilitas PAN di angka 1,3 persen.

Dilihat dari dua survei tersebut, PAN diprediksi tidak akan lolos parliamentary treshold atau ambang batas parlemen yang diharuskan sebesar 4 persen. Pangi juga menduga Amien Rais sedang berupaya untuk membantu partai keluar dari masalah tersebut.

“Strategi Pak Amien ini, kan, mendongkrak partai lewat figur-figur tadi (Prabowo dan Rizieq), lalu memainkan peran oposisi,” ujar Pangi.

Menurut Pangi, apa yang dilakukan Amien Rais juga tidak lepas dari masih besarnya pengaruh Amien di partai. Sedangkan di sisi lain, para pengurus PAN belum semuanya yakin dengan manuver yang ditempuh oleh Amien Rais.

Pada akhirnya, hal itu mempengaruhi sikap atau kebijakan politik PAN sekarang ini. Pangi pun menyebut PAN sering memperlihatkan dua wajah politik. Yaitu sebagai partai pemerintah dan tidak jarang sebagai partai oposisi.

Sampai detik ini, PAN memang masih belum memutuskan dukungan dalam Pilpres 2019. Meskipun memperoleh jatah kursi kabinet, PAN masih menahan diri dalam menyatakan dukungan kepada Presiden Jokowi.

Di lain sisi, PAN juga tidak menegaskan dukungan kepada Prabowo Subianto walaupun dalam beberapa kesempatan hubungan sejumlah politikus PAN dengan Gerindra tampak cukup mesra. Situasi ini tentunya menjadi tantangan tersendiri bagi Ketua PAN Zulkifli Hasan, khususnya dalam upaya melepaskan diri dari pengaruh Amien Rais di dalam partai.

Tanggapan Wakil Presiden Jusuf Kalla

Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) menganggap pertemuan Prabowo Subianto dan Amien Rais yang juga mengajak Imam Besar FPI Habib Rizieq Syihab sebagai pembicaraan politik bertaraf tinggi. Akan tetapi JK mengaku tidak tahu secara pasti apa isi pembicaraan tersebut.

“Pertama kami tidak punya kewenangan itu. Saya memang tidak mengetahui apa yang dibicarakan. Itu pembicaraan politik tingkat tinggi. Apalagi di Mekah, di masjid memang itu sejak dulu boleh bicara apa saja,” kata JK di Istana Wapres, Jalan Medan Merdeka Selatan, Selasa (5/6/2018).

Menurut JK siapapun yang bertemu di Mekah boleh untuk membahas apa saja. Yang tak diperbolehkan ialah melakukan kegiatan kampanye.

“Tapi tidak boleh mengampanyekan orang. Tapi hanya pembicaraan antara dua teman ya silakan saja. Di mana saja boleh,” tutur JK.

JK juga menilai wajar apabila pertemuan tersebut melahirkan Koalisi Keummatan yang akan menjadi penantang Joko Widodo (Jokowi) dalam Pilpres 2019. Ia juga tidak mempermasalahkan hal tersebut.

“Bikin koalisi ya silahkan aja,” ucap JK.

Sebelumnya diberitakan bahwa Rizieq menyerukan PKS, Gerindra, PBB, dan PAN supaya bersama-sama membentuk Koalisi Keummatan dan mendukung Prabowo dalam Pilpres 2019. Seruan ini langsung disambut baik oleh keempat partai politik tersebut.

Tanggapan Partai Solidaritas Indonesia (PSI)

Partai Solidaritas Indonesia (PSI) kini tengah banyak dikritik dan dinasihati karena komentar Sekjen mereka, Raja Juli Antoni (Toni) yang mengatakan bahwa pertemuan Prabowo dan Amien dengan Habib Rizieq di Mekah gagal total.

Adapun salah satu nasihat untuk PSI berasal dari Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera yang meminta PSI untuk belajar lagi mengenai politik. Hanura, yang notabene sesama pendukung Joko Widodo dalam Pilpres 2019, melalui Ketua DPP Inas Nasrullah Zubir, juga menepis pernyataan dari Toni tersebut.

“Ya, sebagai partai baru, terima kasih masukannya, kami akan belajar,” kata Ketua Tim Komunikasi PSI Andy Budiman, Senin (4/6/2018) malam.

Walaupun menerima nasihat-nasihat tersebut, Andy menegaskan bahwa PSI mempunyai cara tersendiri dalam berpolitik. Mereka juga tetap berpegang pada komentar awalnya mengenai pertemuan Prabowo-Amien-Rizieq di Mekah itu.

Andy  juga mempertegas mereka tak anti masukan dari partai lama. Akan tetapi, Andy menegaskan bahwa PSI akan terus bersuara apa adanya, hal ini tak terkecuali tentang pertemuan Prabowo-Amien Rais dengan Habib Rizieq.

Tak hanya itu, Andy juga menegaskan bahwa PSI memang sering mengomentari urusan partai lain karena sebagai bentuk nyata dalam mengontrol kebijakan politik. Andy menegaskan PSI tetap akan mempertahankan cara berpolitiknya selama ini.

“Ini tugas partai politik, tidak terhindarkan. Kami akan bicara pada banyak hal, pada segala hal,” ujar Andy.

Tak berhenti di situ saja, Andy juga menilai bahwa pertemuan yang dilakukan oleh Prabowo dan Amien Rais dengan Rizieq yang terjadi di Mekah itu ialah taktik politik lama.

Penulis: Sulis Sutrisna/ Berbagai Sumber

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here