Gandeng Habib Rizieq Syihab, SBY Mulai Jatuh Hati ke Prabowo

0
350

Jakarta, namalonews.com- Politikus Hanura yang menjabat sebagai Ketua DPP, Inas Nasrullah mengatakan bahwa koalisi Prabowo merasa panik sehingga bertemu dengan Rizieq di Mekkah, Arab Saudi. Pertemuan ini dilakukan untuk melobi dukungan politik pada Pilpres 2019 mendatang. Kepanikan itu dinilainya sebab alumni 212 sempat mengusulkan Rizieq jadi Capres.

“Beredarnya rekomendasi Alumni 212 tentang Capres dan Cawapres, dimana Rizieq berada di nomor urut 1 dan Prabowo di nomor urut 2 telah membuat Prabowo dan Amien Rais panik sehingga mereka perlu untuk melobi Rizieq di Mekah,” kata Inas, Rabu (6/6).

Pertemuan itu dinilainya dikarenakan Habib Rizieq telah menyerukan koalisi keumatan yakni PAN, Gerindra, PKS, dan PBB yang menurut Inas nantinya akan dikendalikan oleh pimpinan Front Pembela Islam tersebut.

“Terbaca dalam pertemuan tersebut bahwa Rizieq mengalah dalam pencapresan tapi dengan kompensasi menjadi pengendali koalisi 4 partai yang sudah dia tentukan,” kata Inas.

Apabila koalisi umat benar-benar terbentuk, Inas menyebut bahwa ketua umum yang berasal dari empat partai tersebut tak berkutik di bawah kendali Habib Rizieq.

“Artinya itu bahwa Ketum 4 partai koalisi tersebut tidak lagi menentukan arah partainya dalam Pilpres alias di bawah keteknya Rizieq,” kata Inas.

Sebelumnya, di sela ibadah umrah di Mekah, Prabowo beserta Ketua Dewan Kehormatan PAN Amien Rais, dan ditemani unsur Persaudaraan Alumni (PA) 212, menemui imam besar FPI Habib Rizieq Syihab.

Habib Rizieq Syihab yang menyerukan Partai Gerindra, PKS, PAN, dan PBB untuk bersatu membentuk Koalisi Keummatan memunculkan anggapan dari Hanura bahwa Prabowo Subianto seperti di bawah ketiak Habib Rizieq sebab mau diatur-atur.

Menurut Inas, jika Habib Rizieq yang mengendalikan, berarti di bawah ketiaknya. Bagi Inas, ketum partai kurang tepat jika diatur oleh orang lain yang non-partai. Tak elok apabila partai diatur oleh pihak luar. Menurutnya, partai harus bisa berdiri sendiri dalam hal mengambil keputusan.

“Parpol harus independen dan berdasarkan keputusan partai,” kata Inas.

Tanggapan Gerindra

Soal Prabowo Subianto ada di bawah ketiak Habib Rizieq Syihab (HRS) yang dilontarkan oleh Ketua DPP Hanura Inas Nasrullah Zubir langsung ditepis oleh Gerindra.

“Pernyataan Inas itu asbun (asal bunyi). Prabowo Subianto tentu tidak di bawah ketiak HRS,” kata anggota Badan Komunikasi DPP Gerindra Andre Rosiade, Rabu (6/6/2018).

Bagi Andre, apa yang dikatakan oleh Inas sama sekali tidak benar. Menurut Andre, Habib Rizieq sama sekali tidak berniat untuk mengurusi partai politik, tak terkecuali Gerindra.

“HRS tidak ada keinginan mengatur parpol. Hanya memberikan saran dan usul kepada parpol,” kata Andre.

Mengenai tudingan Inas, Andre memberi saran kepada Wakil Ketua Komisi VI DPR itu. Menurut Andre, ada baiknya jika Inas fokus ke Hanura, yang diprediksi bahwa sejumlah lembaga survei tidak akan lolos di DPR dalam periode mendatang.

“Mohon maaf ya, Pak Inas. Saran kami untuk Inas, daripada sibuk ngurusin Pak Prabowo, lebih baik urus parpol anda sendiri yang sekarang masih bersengketa di pengadilan dan diprediksi oleh berbagai lembaga survei tidak lolos ke DPR RI,” ucap Andre.

“Kan kasihan. Sibuk ngomentari parpol orang lain tapi gagal urus parpol sendiri sehingga sampai sekarang masih bersengketa di pengadilan,” tambah Andre.

Tanggapan Persaudaraan Alumni 212

Ketua Umum Persaudaraan Alumni 212 Slamet Maarif menganggap bahwa ungkapan Inas sebagai bahasa provokatif. Slamet juga mengatakan bahwa Habib Rizieq hanya memberikan nasihat dan dukungan.

“Siapa yang ngatur? HRS menasihati dan memberi dukungan untuk persatuan umat. Itu bahasa provokatif tuh yang mau adu domba umat,” kata Slamet.

Sebagaimana yang telah diketahui, Prabowo pernah bertemu dengan Rizieq di Mekah bersama Ketua Dewan Kehormatan PAN Amien Rais. Slamet, yang ikut dalam pertemuan tersebut, menganggap silaturahmi itu dilakukan demi saling menguatkan dan menyatukan umat.

Menurut Slamet, pernyataan Inas justru menunjukkan kepanikan dan kekhawatiran yang berlebih.

“Silaturahmi itu ajaran agama, mendatangi dan memberi semangat kepada saudaranya yang sedang kesusahan dan terzalimi itu akhlak mulia, mendengar nasihat ulama untuk menyatukan umat sungguh perbuatan luhur. Yang panik dan khawatir berlebih sampai mengeluarkan pernyataan yang tidak terpuji sesungguhnya sedang menunjukkan siapa diri dan harga dirinya,” ungkap Slamet.

Keperpihakan Susilo Bambang Yudhoyono

Calon presiden 2019 yang maju menjadi penantang Joko Widodo dari koalisi yang tidak mendukung pemerintah, masih samar-samar. Partai Gerindra sudah memberikan amanat kepada Prabowo Subianto sebagai calon presiden. Akan tetapi, hingga saat ini Prabowo belum mendeklarasikan diri, apakah mau maju dan bertarung kembali atau memajukan kandidat lain. Selain itu, Partai Demokrat yang tidak masuk dalam koalisi manapun tampaknya juga masih malu-malu.

Dalam rapat koordinasi nasional Partai Demokrat yang diadakan beberapa waktu lalu, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyatakan dengan tegas bahwa tidak akan mendukung Joko Widodo pada pertarungan politik 2019 mendatang.

Meski begitu, belum jelas kemana dukungan partai besutan SBY ini untuk maju sebagai calon pemimpin Indonesia nanti. Ketua Dewan Pimpinan Pusat Demokrat, Didik Mukrianto, pun menguak kisi-kisi baru untuk menentukan koalisi. Rencananya, SBY nantinya akan bertemu dengan Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto.

“Tidak ada sedikit pun hambatan politik maupun psikologis buat Demokrat membangun komunikasi, termasuk dengan Gerindra, PKS dan yang lainnya. Insya Allah setelah lebaran sudah direncanakan akan ada pertemuan antara Pak SBY dan Pak Prabowo,” kata Didik, Rabu, 6 Juni 218.

Didik begitu menghormati komunikasi politik yang dibangun oleh siapapun. Komunikasi politik memang menjadi sebuah kebutuhan, terlebih di tahun politik seperti sekarang ini.

“Demokrat membuka diri sepenuhnya untuk membangun komunikasi dan sinergi dengan siapapun termasuk Gerindra, PKS dan juga parpol sahabat yang lainnya.” imbuh Didik.

Hal sama juga dikatakan oleh Komandan Satuan Tugas Bersama (Kogasma) Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Menurut AHY, Demokrat terus melakukan komunikasi politik bersama partai politik lainnya, walaupun luput dari pantauan media massa.

“Untuk koalisi menjadi perhatian luas publik, saat ini kabutnya masih tebal. Pada waktunya sudah dekat. Karena, masing-masing partai politik masing-masing memegang kartunya. Karena, segala sesuatunya bisa terjadi,” kata AHY.

Bagi Agus, tiap partai politik memiliki kader unggulan yang akan diajukan sebagai calon Presiden serta calon Wakil Presiden. Masing-masing partai politik masih berhitung serta saling mengunci calonnya masing-masing guna Pilpres 2019 mendatang.

“Semuanya berhitung dan semuanya mengunci, boleh berkoalisi. Tapi, saya sebagai Capres ya atau Cawapres ya. Semakin ke sini semakin membingungkan apakah 2019 terjadi di 2014. Bisa ya dan bisa tidak,” kata AHY.

Sebagian besar masyarakat mulai berspekulasi bahwa Susilo Bambang Yudhoyono dengan membawa nama Partai Demokrat mulai tertarik dengan Prabowo. Meski begitu, nyatanya SBY belum menentukan pilihan hingga kini.

Penulis: Sulis Sutrisna/ Berbagai Sumber

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here