Alasan Demokrat Belum Merapat ke Koalisi Jokowi

0
213

Jakarta, namalonews.com- Ferdinand Hutahaen membeberkan mengenai alasan bahwa partainya tersebut belum ingin merapat untuk ke koalisi Jokowi. Diakui oleh Ferdinand bahwa hubungan mereka belum cair antara SBY dan Megawati Soekarnoputri menjadi alasan utamanya.

Ferdinand mengatakan bahwa hubungan dari Mega dan SBY sendiri hingga saat ini masih belum cair juga. Hal tersebut menjadi dinding yang tinggi untuk partai tersebut.

Meskipun demikian, ia menuturkan bahwa pada awalnya, Demokrat sudah membangun sebuah komunikasi dengan PDIP. Dengan bertemunya SBY bersama dengan Jokowi.

Namun dia menceritakan mengenai bagaimana sebuah kondisi yang akan mungkin dapat terjadi jika kedua partai tersebut suatu hari akan benar-benar berkoalisi. Ferdinand juga mencontohkan bahwa diadakannya sebuah rapat pertemuan. Dia mengatakan jika tidak mungkin Megawati akan memimpin rapat dan SBY juga ditempatkan sebagai salah satu pengikut disana. Sebab menurutnya Ketua Umum partainya tersebut merupakan salah satu Presiden 10 tahun di Indonesia.

Ferdinand juga mengatakan bahwa konsep dari koalisi tersebut, Partai Demokrat juga harus ada saat mutual respect. Hal tersebut menjadi salah satu tembok hingga semua selesai.

Karena itu ia juga mengakui jika hubungan dari keduannya tersebut memang sangat berpengaruh terhadap terbentuk atau tidaknya sebuah koalisi diantara mereka berdua.

Ia juga menegaskan bahwa Partai Demokrat juga tidak dapat ditempatkan sebagai salah sato follower. Mereka merupakan partai besar, baru satu-satunya merupakan presiden 10 tahun saat pascareformasi. Tidak dapat disepelekan hal posisi partainya tersebut.

Ferdinand juga mengungkapkan bahwa partainya tersebut akan membuat sebuah koalisi kerakyatan atau nusantara. Kabar tersebut sekaligus dapat mengonfirmasi jika Partai Demokrat akan serius dalam memunculkan sebuah poros baru pada Pilpres 2019 mendatang.

Menurutnya bahwa koalisi tersebut menjadi salah satu pilihan alternatif bagi para masyarakat selain mengadakan koalisi para pendukung capres pertahanan Jokowi dan koalisi keumatan yang akan diidentikan bersama dengan Prabowo.

Ferdinand mengungkapkan bahwa Partai Demokrat saat ini memang serius dalam membangun sebuah poros kerakyatan dalam Pilpres 2019 mendatang. Hal tersebut membuat SBY angkat bicara mengenai koalisi kerakyatan, ia akan membantu rakyat terlebih dahulu.

Ferdinand memebeberkan bahwa dirinya telah berdiskusi bersama dengan SBY dan mendapatkan sebuah arahan mengenai berbagai hal wacana poros ketiga. Partai Demokrat akan berupaya dalam mewujudkan sebuah poros kerakyatan atau nusantara yang terlah di diskusikan tersebut.’

Ferdinand mengatakan jika namanya menyaingi atau mungkin akan menjadi sebuah kompetitor dari sebuah poros kekuasaan dan poros keumatan yang kemarin masih diklaim oleh beberapa pihak.

Namun ia juga belum dapat menyebutkan bahwa parpol mana saja yang akan mengusung poros besutan dari Demokrat tersebut. Partai Demokrat juga akan tetap menjalin sebuah komunikasi dengan berbagai partai yang belum menentukan sebuah sikap politik. Diantaranya seperti PKB dan PAN.

Dia menyatakan bahwa pada bulan Juli atau setelah pilkada serentak dilaksanan maka baru dapat dilihat akan berkoalisi dengan siapa saja. Ferdinand juga menyebutkan bahwa hingga saat ini masih dalam tahap penjajakan awal dari semua parpol.

Ia mengatakan bahwa jika orang ingin pacaran, seperti PDKT maka belum tentu akan jadi pacar. Nah hal tersebut masih dalam tahap PDKT. Nanti baru akan terlihat siapa yang PDKTnya tersebut akan mulai menjurus pada tahap pacaran.

Partai Demokrat akan menentukan sikap apakan mereka akan bergabung dengan koalisi Jokowi dalam Pilpres 2019 mendatang atau tidak. Namun, AHY menanggapi bahwa segala kemungkinan masih dapat terbuka lebar.

AHY menyebut bahwa segala kemungkinan koalisi tersebut masih dapat terbuka lebar. Menurutnya, dapat saja Pilpres 2019 mendatang sama seperti Pilpres 2014 silam dengan memiliki dua polos koalisi utama. Namun, AHY mengatakan bahwa tidak tertutup kemungkinan bahwa akan muncul kembali poros ketiga.

Ia mengatakan jika kemungkinan tersebut terus diolah. Tentu akan memang tidak mudah, tidak sederhana yang tidak dapat dibayangkan. Tidak banyak berbagai parpol yang cukup kuat untuk menjadi sebuah jangkat atau pemersatu dari para parpol lainnya.

Terlepas dari hal tersebut, sinyal dukungan terhadap AHY untuk dapat maju dari lingkup internal partainya tersebut dalam Pilpres 2019 menguat. Pada saat acara pelantikan pengurus DPC dan DPD Demokrat se-DIY berlangsung dan berbagai spanduk yang berisikan mengenai sebuah dukungan terhadap AHY terpadang dalam sejumlah gedung.

Bahkan ketua DPD Demokrat DIY yang bernama Heri Sebayang juga dihadapkan oleh kader Demokrat di Yogyakarta, menyatakan bahwa dukungan terhadap AHY. Menurutnya AHY merupakan seorang kader terbaik dari partai dan dinilai layak untuk maju dalam Pilpres 2019 mendatang.

Ubedilah Badrun melihat jika peluang terbentuknya sebuah poros ketiga dalam Pilpres 2019 mendatang terbuka lebar. Hal tersebut karena, Koalisi dari partai Jokowi maupun Prabowo belum juga solid.

Koalisi dari Jokowi belum dapat terlihat solid karena sebagian besar dari partai untuk menginginkan kadernya dapat menjadi cawapres atau cawapres Jokowi.

Jokowi diusung oleh Partai PDIP yang akan berkoalisi dengan beberapa partai diantaranya yaitu Golkar, NasDem, PPP dan Hanura. Sedangkan Prabowo akan diusung oleh PKS dan Gerindra. Partai lain seperti Demokrat, PKB dan PAN hingga saat ini belum menentukan sikapnya untuk siapa yang akan diusungnya tersebut.

PAN meskipun terlihat lebih denkat dengan Partai Gerindra, namun juga belum dapat dipastikan bahwa mereka akan merapat. Alasannya karena, PAN memunculkan ketua umumnya yaitu Zulkifli Hasan sebagai cawapres.

Menurut Ubedilah bahwa sejauh ini memang hanya terdapat dua koalisi besar yang dapat dilihat akan bertarung kembali dalam Pilpres 2019 mendatang. Namun, koalisi dua poros tersebut masih terlihat satu warna saja.

Keadaan hingga saat ini memang masih terlihat begitu cair. Namun beberapa manuver juga dapat telihat. Salah satunya yaitu langkah dari SBY. Dalam satu kesempatan, ia melontarkan sebuah pertanyaan akan menghadirkan sebuah pemimpin baru dalam Pilpres 2019 mendatang.

Pertanyaan tersebut dapat dianggap untuk membuka sebuah ruang agar dapat konsolidasi terjadi. Artinya dalam internal Jokowi belum dapat bersatu di kubu Prabowo yang juga masih terdapat masalah.

Namun, Fadil Zon meyakini bahwa PAN akan tetap bergabung bersama dengan Partai Gerindra dan PKS untuk dapat memenangkan Pilpres pada tahun 2019 mendatang. Terkait mengenai calon wakil presiden untuk mendampingi Prabowo akan menjadi mekanisme partai yang menentukan, meskipun PKS hingga saat ini telah menjaring hingga sembilan nama untuk dapat disodorkan.

Ahmad Basarah mengharapkan agar koalisinya tersebut tetap solid setelah Jokowi memutuskan siapa nama yang akan dipilih untuk mendampinginya dalam Pilpres tersebut. Jika Jokowi sudah menentukan siapa pendampingnya, diharapkan agar kompetisi cawapres tersebut dihentikan.

Ketua PPP yaitu Muhammad Romahurmuziy memprediksi bahwa Demokrat segera akan bergabung dengan koalisi pengusung Jokowi. Romi mengatakan bahwa ia sempat bertemu dengan SBY untuk membahas mengenai Pilpres 2019 mendatang.

Dalam pertemuan tersebut ia mengaku bahwa sempat membahas mengenai Pilpres 2019 mendatang diantaranya yaitu membahas mengenai poros ketiga dan mengajak Partai Demokrat untuk turut bergabung mendukung Jokowi.

Penulis: Sulis Sutrisna/ Berbagai Sumber

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here