Bacakan Testimoni Pasien, Bimanesh: Kecelakaan Setya Novanto Drama

0
161

Jakarta, namalonews.com- Persidangan Bimanesh Sutarjo yang menjadi terdakwa perintangan penyidikan korupsi proyek e-KTP diselimuti dengan suasana haru.

Jelang sidang ditunda, Dr Bimanesh menyampaikan beberapa bundel kertas kepada majelis hakim dan jaksa penuntut umum yang berisikan testimoni dari beberapa pasien ataupun keluarga pasien yang merasa kehilangan anggotanya.

Bimanesh mengungkapkan kesedihannya dengan suara yang agak parau mengenai sejumlah pasiennya dari BPJS meninggal karena tak memperoleh penanganan secara tepat dikarenakan sekarang ini ia masih ditahan. Meski Bimanesh meyakini kematian seseorang adalah takdir Tuhan. Adanya hubungan emosional tersebut dinilai Bimanesh wajar terlebih saat menangani pasien yang mempunyai tingkat kerusakan ginjal serius.

Hampir tiap harinya, Bimanesh mengaku tersentuh melihat pasien yang penuh semangat di tengah-tengah keadaan harapan hidup yang tipis. Kisah dramatis tidak hanya berhenti disitu. Selama Bimanesh ditahan di rutan Guntur, bahkan ada beberapa perawat yang menyambanginya untuk mengabarkan bahwa pasiennya ada yang meninggal dunia.

Bimanesh mengatakan bahwa saat ia masuk 12 Januari lalu, ada perawat yang mengabarkan bahwa 4 pasiennya meninggal. Ia memiliki ikatan batin, prihatin emosional, dan sedih karena tak disana untuk menanganinya, “Majelis hakim lihat, pasien Lukman cuci darah 5 tahun,” kata Bimanesh, Kamis (7/6/2018).

Bimanesh menuturkan, unit pencucian darah yang ada di rumah sakit tempatnya praktik, tidak ada yang menandatangani BPJS. Hal ini mengakibatkan nyawa pasien melayang.

“Memang sifatnya dokter ginjal seperti itu, dateng Senin dan ketemu Kamis,” jelas Bimanesh.

Suasana haru semakin memuncak saat Bimanesh mengatakan ada satu pasiennya yang menawarkan diri sebagai saksi untuk meringankan. Akan tetapi, hal tersebut ditolak Bimanesh karena soal pertimbangan kesehatan. Permintaan pasien kepada Bimanesh tersebut rupanya menjadi permintaan sekaligus komunikasi terakhir. Selang beberapa hari sesudahnya si pasien meninggal.

“Saat ini dokter dipinjam dari rumah sakit dan masa kerjanya terbatas, dan jadi tidak terurus, saya memohon kiranya dapat dipertimbangkan asas manfaat bahwa tenaga saya masih mau didedikasikan untuk masyarakat,” tambah Bimanesh.

Ketua Majelis Hakim Mahfuddin pun merasa prihatin setelah mendengar pernyataan Bimanesh tersebut. Bahkan Hakim Mahfuddin juga menghaturkan doa berharap Bimanesh agar tak dituntut maksimal oleh jaksa.

“Kami prihatin melihat kondisi saudara, saudara aset sudah kerja puluhan tahun kita berdoa bersama-sama agar penuntutan jangan sampai maksima. Kita prihatin. Kita doa sama-sama,” kata Mahfudin.

Terkait Kecelakaan Setya Novanto
Mengenai kecelakaan Setya Novanto yang menjerat namanya, Dr Bimanesh Sutarjo mengaku ada kejanggalan. Selama 38 tahun, Bimanesh menjalani profesi sebagai dokter, baru pertama kalinya ia merasa kebingungan saat melihat pasien yang baru masuk ke rumah sakit. Pasien yang dimaksud ialah mantan Ketua DPR Setya Novanto.

“Sudah 38 tahun jadi dokter, tidak pernah saya alami seperti ini. Pasien ini membuat saya aneh dan bingung pada saat itu,” kata Bimanesh kepada majelis hakim.

Menurut Bimanesh, pada tanggal 16 November 2017, Bimanesh sedang menunggu kedatangan Setya Novanto yang sebelumnya telah direncanakan untuk dirawat di Rumah Sakit Medika Permata Hijau, Jakarta. Tidak berapa lama usai naik ke ruang perawatan, Bimanesh mengatakan mendengar suara bising yang ternyata ada sejumlah orang yang datang membawa pasien.

Menurut Bimanesh, pasien yang telah terbaring di atas brankar (tempat tidur) itu ialah Setya Novanto. Di sinilah, Bimanesh merasa ada hal yang janggal. Pertama, brankar tersebut didorong secara tergesa-gesa. Tak hanya itu, brankar tak didorong oleh perawat seperti kebiasaan di rumah sakit. Brankar yang membawa Novanto justru didorong oleh satpam, sopir ambulans, serta ajudan Novanto yang kala itu berbaju putih.

Tak berhenti disitu saja, kejanggalan lainnya juga terlihat pada kondisi pasien. Menurut Bimanesh, kala itu tubuh Novanto telah ditutup seluruhnya dengan menggunakan selimut. Hanya wajah Novanto saja yang terlihat. Selain itu, selimut tersebut juga dipasang melingkar sehingga membungkus bagian kepala dan leher Novanto.

Menurut Bimanesh, padahal pemakaian selimut tersebut tak wajar dikenakan pada pasien yang alami luka, terlebih usai kecelakaan.

“Mukanya dibebet kayak pakai jilbab. Karena pakai selimut, jadinya tebel banget. Saya enggak tahu apa tujuannya, siapa yang pasang?” ungkap Bimanesh.

Dr Bimanesh Sutarjo juga mengaku pernah dihubungi oleh sepupunya pada tanggal 18 November 2017 atau dua hari sesudah mantan Ketua DPR Setya Novanto dirawat di rumah sakit dikarenakan mengalami kecelakaan.

Kepada sepupunya tersebut, Bimanesh menyebutkan bahwa kecelakaan yang dialami oleh Novanto itu hanyalah sebuah rekayasa.

Percakapan antara Bimanesh dengan sepupunya tersebut dituangkan dalam surat pengajuan Dr Bimanesh sebagai justice collaborator. Surat tersebut dibacakan jaksa dalam persidangan pemeriksaan terdakwa dalam Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Kamis, 7 Juni 2018.

Dalam percakapan tersebut, Dr Bimanesh mengungkapkan bahwa kecelakaan Novanto memang disengaja. Mobil yang digunakan hanyalah mobil bekas yang baru dibeli pagi harinya. Bahkan Bimanesh menyebut Novanto melakukan skenario yang amatiran karena sangat terlihat jelas. Ucapan ini pun diamini oleh Bimanesh.

“Saya tahu dari media, itu mobil bekas baru dibeli paginya. Itu saja yang saya sampaikan ke dia,” ujar Bimanesh.

Bimanesh menyadari bahwa dirinya sudah diperdaya oleh Fredrich Yunadi. Bimanesh pun mengutarakan penyesalannya kepada majelis hakim dan jaksa.

Bimanesh sangat menyesal menerima permohonan Fredrich untuk merawat Novanto yang kala itu tengah bermasalah secara hukum. Sebelum melakukan perawatan, padahal Fredrich telah memberitahukan ada rekayasa mengenai kecelakaan.

Bimanesh juga menyesal tak memberitahukan kepada penyidik tentang hasil pengamatannya atas kondisi Novanto. Dalam pemeriksaan, Bimanesh hanya melihat ada luka lecet ringan di leher, kening, dan tangan Novanto.

Sebagai dokter, Dr Bimanesh Sutarjo tak yakin bahwa luka yang dialami oleh Setya Novanto itu benar-benar karena kecelakaan.

Bimanesh juga ungkapkan penyesalan karena memasang imbauan dalam selembar kertas yang ditempel pada pintu ruang rawat inap VIP 323. Ruangan tersebut tempat Setya Novanto dirawat. Kertas tersebut berisikan tulisan “Pasien butuh istirahat untuk penyakitnya dan belum dapat dibesuk”. Pada bagian bawahnya ada tanda tangan Bimanesh sebagai dokter penanggung jawab pasien.

Dr Bimanesh Sutarjo didakwa sudah melanggar Pasal 21 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana sudah diubah dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 mengenai Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
Bimanesh Sutarjo didakwa bersama-sama dengan Fredrich Yunadi karena melakukan upaya perintangan penyidikan atas Setya Novanto yang kala itu berstatus sebagai tersangka korupsi proyek e-KTP. Dalam kasus ini, Bimanesh disebut telah melakukan rekayasa diagnosis kepada Novanto.
Hal itu dilakukan supaya mantan Ketua DPR Setya Novanto bisa dirawat di Rumah Sakit Medika Permata Hijau. Dengan begitu, Novanto bisa menghindari pemeriksaan oleh penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Kala itu, Novanto menjadi tersangka dalam kasus korupsi pengadaan e-KTP, serta Fredrich Yunadi berperan sebagai pengacara Novanto.

Penulis: Sulis Sutrisna/ Berbagai Sumber

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here