Demokrat Tak Menghalangi Prabowo Untuk Jadi Capres 2019

0
134

Jakarta, namalonews.com- Mengenai pencalonan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto sebagai presiden dalam Pilpres 2019, Partai Demokrat membantah menolak hal itu.
Ferdinand Hutahaean Kepala Divisi Advokasi dan Bantuan Hukum Partai Demokrat (PD)mengatakan, apa yang disampaikan oleh politikus PKS, Mardani Ali Sera, terkait hal itu hanya dugaan sepihak Mardani saja.
“Apa yang disampaikan Pak Mardani Ali Sera itu saya pikir adalah raba-rabaan politik, yang tidak pernah disampaikan Partai Demokrat,” ucap Ferdinand, di DPP Partai Demokrat, Jl Proklamasi, Jakarta Pusat, Kamis (7/6/2018).
Sebelumnya, Mardani Ali Sera juga sempat mengatakan bahwa komunikasi dengan Partai Demokrat terjalin dengan baik. Namun kata Mardani, partai pimpinan SBY itu menginginkan Ketum Gerindra Prabowo Subianto tidak maju lagi di Pilpres 2019. Ini disebut Mardani, karena Demokrat menginginkan calon presiden dari kalangan muda.
Namun Ferdinand menepis akan hal itu. Dirinya menegaskan, bahwa Partai Demokrat tidak pernah menghalangi Prabowo untuk mencalonkan diri menjadi presiden.
“Partai Demokrat sangat menghormati hak konstitusional Pak Prabowo dan Gerindra untuk maju menjadi capres 2019 nanti,” kata Ferdinand.
Jikapun terdapat pembicaraan antara partai Demokrat dengan Gerindra belakangan ini, maka itu terkait soal penawaran antar keduanya. Akan tetapi, Ferdinand mengaku, pembicaraan itu masih ditataran ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai.
“Semuanya masih dalam tahap negosiasi dan belum mengerucut ke atas, tapi jelasnya, Partai Demokrat tidak pernah menghalangi Pak Prabowo maju nyapres,” ujarnya.
Partai Demokrat (PD) dituding PKS berusaha menghalangi Ketum Gerindra Prabowo Subianto maju di Pilpres 2019 dengan mengajaknya membentuk poros ketiga. PD menampik dan menyebut ajakan itu hanya merupakan tawaran biasa.
Dia kemudian menjelaskan PD sejak awal memang mencoba menghadirkan figur baru di Pilpres 2019. Ferdinand menyatakan, lewat cara itu, peluang untuk mengalahkan Presiden Joko Widodo menjadi lebih besar.
“Bagi partai Demokrat memang 2019 trennya yang lebih muda untuk maju. Peluangnya lebih besar untuk mengalahkan Jokowi,” tuturnya.
Mardani Ali Sera Ketua DPP PKS menyebut bahwa PD masih terus berupaya untuk mengajak partainya membentuk poros ketiga dalam Pilpres 2019. Dalam komunikasinya, Mardani mengaku bahwa Partai Demokrat ingin menghadirkan figur baru.
Mardani juga mengatakan, secara halus, PD berharap Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto tidak maju sebagai capres di Pilpres 2019. PD ingin menghadirkan capres muda.
Mardani menyebut,”Prabowo secara agak halus diharapkan agar tidak maju oleh Partai Demokrat. Ini proposal baru yang perlu dikaji.”
Atas tudingan itu Ferdinand mengibaratkan jika apa yang dilakukan oleh Mardani sebagai “raba-raba politik” yang tidak pernah disampaikan Partai Demokrat.
“Apa yang disampaikan Pak Mardani Ali Sera itu saya pikir adalah raba-rabaan politik yang tidak pernah disampaikan Partai Demokrat,” ujar Ferdinand.
Sebelumnya Mardani mengatakan, secara halus, Partai Demokrat berharap Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto untuk tidak maju sebagai capres di Pilpres 2019.
Dia mengatakan ada sejumlah nama figur muda yang ditawarkan PD, Namun Mardani enggan merincinya. “Ada banyak,” tutur Wakil Ketua Komisi II DPR itu.
“Pokoknya posisi PKS sekarang, PKS ingin kadernya jadi cawapres,” imbuhnya.
Untuk diketahui, hingga saat ini Demokrat masih meyakini kemungkinan adanya poros ketiga. Sedangkan PKS masih terus menunjukkan sinyal kuat merapat ke koalisi Gerindra, tapi belum mendeklarasikan sikapnya secara resmi.
Salah satu sebab belum pastinya sikap PKS ini karena partai tersebut menginginkan jabatan cawapres sebagai syarat koalisi. PKS bahkan sudah menyodorkan 9 nama kadernya kepada Gerindra. Namun, hingga kini, Gerindra belum menentukan apakah akan mengakomodasi syarat dari PKS tersebut.
PKS sendiri, kata Mardani, membuka semua opsi yang masuk ke partainya. Namun ia mengaku koalisi PKS dengan Gerindra akan lebih diutamakan dibanding tawaran yang lain.
“Posisinya di bawah koalisi dengan Gerindra. Karena dengan Gerindra kami sudah matang,” sebut Mardani.
Tak ingin dipandang sebagai ‘bawahan’ nya Habib Rizieq Shihab, Kadiv Advokasi dan Bantuan Hukum DPP Partai Demokrat Ferdinand Hutahean, tegaskan partainya enggan bergabung dengan koalisi keumatan besut Imam Besar Front pembela Islam (FPI) itu.
Dimana sebelumnya Habib Rizieq Shihab mendorong empat partai, yakni Partai Gerindra, Partai Keadilan Sejahtera, Partai Amanat Nasional, dan Partai Bulan Bintang, bergabung dan membentuk koalisi keumatan.
Rizieq menyampaikan hal ini setelah ditemui Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto, Ketua Dewan Kehormatan PAN Amien Rais, dan Ketua Majelis Syuro PKS Salim Segaf Al-Jufri di Mekah, beberapa waktu lalu.
“Kalau citranya jadi subordinat di bawah komando Habib Rizieq, Demokrat tentu tidak tertarik,” kata Ferdinand di temui di kantor DPP Partai Demokrat, Jakarta Pusat, kemarin.
Ferdinand mengungkapkan sebelumnya Demokrat melakukan komunikasi yang intens dengan Gerindra.
Namun trend positif itu merenggang lantaran Prabowo bertemu dengan Rizieq dan adanya bahasan mengenai koalisi keumatan.
“Kalau memang Prabowo bertahan di situ, di bawah komando Habib Rizieq, tentu Partai Demokrat urungkan niat bergabung,” ucap Ferdinand.
Ferdinand sendiri melihat koalisi keumatan tersebut, masih sebatas wacana dan klaim dari beberapa orang saja.
Demokrat pun menurut Ferdinad, menempatkan ulama sebagai penasihat atau pembina kehidupan sehari-hari, bukan penentu kebijakan politik.
Namun Ferdinand menegaskan sikap Demokrat yang seperti ini bukan berarti pihaknya tidak menghormati ulama.
“Bukan untuk menentukan siapa kami dan ke mana arah politik kami. Kami adalah partai politik yang diatur undang-undang,” ujar Ferdinan.
Pihaknya, kata Ferdinand, tidak ambil pusing dengan wacana koalisi keumatan.
“Dulu pas pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pernah memenjarakan Rizieq juga kan,” ujar Ferdinand.
Ferdinand juga mengungkap, partainya mengurungkan niat bergabung dengan Koalisi Keumatan setelah Ketum Partai Gerindra, Prabowo dan Ketua Dewan Kehormatan PAN Amien Rais bertemu dengan Pimpinan FPI Rizieq Shihab di Tanah Suci.
Sikap ini diambil seperti yang dinyataklan Ferdinad adalah karena partainya tidak mau berada di bawah bayang-bayang Rizieq Shihab.
“Orang-orang yang menyampaikan itu seolah-olah itu adalah komando Pak Habib Rizieq. Jadi kalau itu komando Rizieq, Demokrat akan mengurungkan niat bergabung di sana,” ungkap Ferdinand, di DPP Partai Demokrat, Jl Proklamasi, Jakarta Pusat, Kamis (7/6/2018).
Meskii menolak bergabung dalam koalisi keumatan, Ferdinand juga menegaskan partainya tetap menghormati posisi ulama, tak terkecuali pada Rizieq Shihab. Menurut Ferdinand, mereka menempatkan ulama sebagai pembimbing dalam keseharian. Tetapi tidak untuk menentukan ke mana arah politik Demokrat.
“Kita tempatkan Ulama sebagai pembimbing, kalau kita belok kiri harusnya ke kanan ditegur, tempatnya di khayangan lah, eh salah, nah kita menempatkan ulama seperti itu disitu, tetapi bukan untuk mementukan siapa kita dan kemana arah politik kita,” kata Ferdinand.
Sikap yang diambil partainya sekarang ini terhadap koalisi keumatan adalah sebuah bentuk penggunaan hak SBY dalam memimpin partai. Menurut Ferdinand Demokrat tetap menghargai politik meski dari kubu yang berseberangan.
Ferdinand juga membeberkan, sebelum ada pertemuan kedua tokoh parpol Koalisi Keumatan dengan Rizieq Shihab, Gerindra menjadi parpol yang paling intens berbicara dengan partainya. Posisi politik Demokrat terpengaruh hal itu.

Penulis: Sulis Sutrisna/ Berbagai Sumber

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here