Beri Kuliah Umum Tanpa Teks di Norwegia, Menteri Susi Disambut Meriah

0
99

Jakarta, namalonews.com- Pada hari Kamis, 7 Juni 2018, Menteri Kelautan dan Perikanan Indonesia, Susi Pudjiastuti, diminta untuk memberikan kuliah umum di Norwegian Institute of International Affairs (NUPI) di sela-seka kunjungannya ke Norwegia. Kuliah umum tersebut dilaksanakan pada pagi hari dengan dipenuhi oleh para peserta dari berbagai kalangan warga dan sejumlah negara.
Pagi itu, sejak pukul 09.00 waktu setempat, peserta yang ingin mengikuti kuliah umum bersama Menteri Susi sudah banyak berdatangan. Karena banyaknya peserta yang mengikuti kuliah umum, pada saat kuliah umum dimulai, yaitu sekitar pada pukul 09.10, banyak peserta yang berdiri dikarenakan kursi yang telah penuh. Melihat kondisi ini, panitia pelaksana kuliah umum kemudian menyediakan kursi tambahan bagi para peserta yang berdiri.
Kuliah umum di mana Menteri Susi sebagai narasumber utama ini dibuka oleh Kepala Komunikasi NUPI, Asmund Weltzien dengan memaparkan fakta panjangnya garis pantai yang ada di Indonesia, yang menempati posisi kedua di dunia. Weltzien juga menyampaikan bahwa terdapat sekitar 100 juta rakyat Indonesia yang hidup di sepanjang garis pantai itu.
Sebelum Menteri Susi menyampaikan kuliah umumnya, masih ada pengisi acara yaitu Direktur Kebijakan Kementerian Perikanan Norwegia, Gunnar Stolvik. Secara garis besar, ia menyampaikan upaya bersama antara Indonesia dan Norwegia dalam melawan illegal fishing yang sering dihadapi oleh kelautan suatau negara.
Kuliah Umum Menteri Susi Tanpa Teks
Setelah beberapa tokoh pemerintah kelautan dan perikanan Norwegia, selanjutnya adalah kesempatan bagi Menteri Susi untuk menyampaikan kuliah umumnya. Menteri Susi kemudian tampil menyampaikan kuliah umum dan tanpa menggunakan teks selama sekitar 1 jam. Topik yang diangkat oleh Menteri Susi pada kuliah umumny adalah mengenai “Three Pillars of Fisheries Resources Management: Sovereignty, Sustainability and Prosperity”.
Nampak ketika Menteri Susi menyampaikan kuliah umumnya, seluruh peserta mengikutinya dengan antusias. Dalam penyampaiannya tersebut, Menteri Susi hanya dibantu dngan tampilan di layar, yang berisi data dan gambar pendukung.
Pada kuliah umum ini, bahkan terdapat beberapa peserta yang membawa anak balitanya karena tidak ingin melewatkan kesempatan untuk bertemu sekaligus menggali ilmu dari Menteri Susi.
Pada kuliah umumnya, Menteri Susi sempat memaparkan awal perjalanannya di Kementerian Kelautan dan Perikanan yang penuh lika-liku dan tidak mudah. Akan tetapi, Menteri Susi menjelaskan, karena mendapat tugas khusus dari Presiden Jokowi, ia menerima dan penuh tanggung jawab mengembannya. Menteri Susi mendapatkan tugas untuk menjadikan Indonesia sebagai poros Maritim Dunia, serta menjadikan lautan sebagai masa depan bangsa Indonesia. Oleh karena itu, Menteri Susi mencoba mewujudkannya dengan menyelesaikan permasalahan yang ia hadapi dalam memajukan kelautan dan perikanan Indonesia.
Pada inti materi kuliah umum yang disampaikannya, Menteri Susi turut menyampaikan bahwa sebenarnya kelautan Indonesia itu sangat subur dan dapat menjadi sumber perekonomian Indonesia, namun karena adanya illegal fishing, unreported fishing, dan unregulated fishing (IUUF) menyebabkan kesuburan laut Indonesia menjadi hilang.
“Lautan Indonesia sangatlah subur. Akan tetapi, karena maraknya pencurian ikan, penangkapan ikan tanpa pelaporan, serta penangkapan ikan tanpa melihat pada aturan yang ada telah membuat kesuburan laut itu hilang,” jelas Menteri Susi.
Langkah Menteri Susi Hadapi Pencurian Ikan: Tenggelamkan Kapal Ilegal yang Masuk!
Menteri Susi juga menjelaskan langkah yang akan ia ambil untuk membenahi berbagai tindakan pencurian ikan itu dengan menetapkan aturan yang sesuai dengan undang-undang yang telah berlaku, yaitu dengan penenggelaman kapal-kapal ilegal yang masuk di wilayah perairan Indonesia.
Meskipun langkah yang diambilnya mendapatkan banyak tentangan dari sejumlah pihak, termasuk juga dari pemerintahan, Menteri Susi tetap konsisten pada prinsipnya, di mana ia harus menegakkan aturan yang telah ditetapkan tanpa pandang bulu dan tanpa adanya kompromi terhadap pelanggaran hukum.
Dampak dari langkah Menteri Susi dalam menghadapi tindakan pencurian ikan dapat dilihat secara nyata. Dari hasil tangkapan ikan, terjadi peningkatan stok ikan, di mana pada tahun 2015 di angka 6,5 juta ton, menjadi 12,5 juta ton di tahun 2016. Menteri Susi juga menyampaikan bahwa stok ikan pada tahun 2017 minimal berada di angka 13 juta ton.
“Tahun 2017, minimal angkanya 13.000.000 ton,” kata Menteri Susi menyampaikan target stok ikan Indonesia.
Dengan adanya perbaikan kondisi kelautan dan perikanan Indonesia yang terkenal dengan ungakpan “Tenggelamkan!” ini terbukti telah kembali memakmurkan para nelayan. Para nelayan kini dapat memperoleh hasil tangkapan yang jauh lebih besar dari pada biasanya. Bahkan, sejumlah jenis ikan yang selama beberapa tahun tidak lagi ditemui oleh nelayan dalam tangkapannya, kini jenis tersebut muncul lagi dengan ukuran yang besar. Walaupun demikian, karena upaya keras Kementerian Kelautan dan Perikanan dirasa bersinggungan dan mengganggu kepentingan beberapa pihak, langkah perbaikan yang dicanangkan oleh Menteri Susi dan ditampilkan hasilnya dalam data peningkatan pendapatan ikan tersebut banyak diragukan.
Kementrian Kelautan dan Perikanan kerap kali mendapatkan perlawanan terhadap kebijakan pelarangan kapal-kapal asing untuk beroperasi di perairan Indonesia, serta penenggelaman kapal yang terbukti melakukan IUUF dari berbagai pihak yang merasa terganggu dengan kebijakan tersebut.
Menteri Susi juga menyampaikan dan mengapresiasi dukungan dari berbagai pihak termasuk Uni Eropa dan badan pangan dunia FAO dalam hal perlawanan terhadap IUUF yang ada di perairan Indonesia.
“Di Eropa atau negara Norwegia, illegal fishing mungkin saja hanya terkait dengan pencurian ikan. Akan tetapi, di perairan Indonesia, hal itu bisa sekaligus menjadi pintu masuk bagi kejahatan transnasional,” jelas Menteri Susi.
Dalam kuliah umumnya tersebut, Menteri Susi juga memberikan contoh mengenai pelanggaran lain yang muncul dalam pelanggaran wilayah perairan Indonesia. Ia menyampaikan bahwa beberapa minggu lalu, aparatnya telah menangkap kapal ikan yang terbukti melakukan pelanggaran. Setelah diperiksa oleh aparat, di dalam kapal itu ditemukan banyak hewan hidup, di antaranya monyet, kakatua, cendrawasih, buaya, dan kura-kura. Kemungkinan hewan-hewan yang dilindungi ini akan diselundupkan ke negara lain.
“Tidak menutup kemungkinan, bahwa peredaran obat-obatan terlarang seperti narkoba juga menggunakan jalur illegal fishing seperti ini. Pasarnya pun sudah jelas, di Indonesia ada sekitar 5 juta pengguna dan pencandu narkoba,” jelas Menteri Susi.
Dukungan positif kepada Menteri Susi banyak diberikan oleh para peserta, terlihat dari akhir acara kuliah umum, di mana saat kuliah umum berakhir, Menteri Susi mendapatkan sambutan tepuk tangan yang meriah serta banyak yang mengantre untuk menyalami Menteri Susi.
Duta Besar Indonesia untuk Norwegia, Todung Mulya Lubis juga hadir dalam kuliah umum yang disampaikan oleh Menteri Susi. Todung mengatkan bahwa kuliah umum dari Menteri Susi di NUPI merupakan kuliah umum perdana dari pejabat Indonesia. Ia mengatakan bahwa tidak sembarang orang diminta untuk mengisi kuliah umum di NUPI, Norwegia.

Penulis: Sulis Sutrisna/ Berbagai Sumber

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here