Koalis Pejalan Kaki: Anies-Sandi melempem Persoalan Trotoar

0
101

Jakarta, namalonews.com- Berkaitan dengan kondisi trotoar di sepanjang jalanan Kawasan Tanah Abang, Ketua Koalisi Pejalan Kaki, Alfred Sitorus mengatakan bahwa Anies Baswedan beserta Sandiaga Uno yang merupakan pasangan Gubernur dan Wakil gubernur DKI tidaklah serius dalam melakukan pembenahan fasilitas pejalan kaki di jalanan Jakarta.
Menurut Alfred, hal tersebut ditunjukkan dengan penampakan trotoar sepanjang jalanan DKI Jakarta yang terlihat bahwa kondisi trotoar jalanan semakin semrawut. Kesemrawutan trotoar sepanjang jalan Jakarta ini disebabkan oleh para pedagang kaki lima (PKL) yang berdagang di area trotoar Kawasan Tanah Abang. Terlebih lagi menjelang lebaran ini, banyak pedagang yang menjajakan dagangannya, membuka lapak, dan menggunakan gerobak dagang hingga berada di atas badan trotoar.
Alfred juga mengatakan bahwa dirinya memeberikan apresiasi kepada Anies-Sandi yang sangat serius dalam menyegel bangunan di pulau reklamasi. Akan tetapi, Alfred juga menyayangkan karena Anies-Sandi tidak berani menindak tegas para pedagang kaki lima yang berjualan dan mengganggu pengguna jalan trotoar di Jakarta.
“Saya memberikan apresiasi kepada Pak Gubernur, yang berani menyegel pulau reklamasi, namun demikian, untuk permasalahan trotoar, seakan-akan hal itu jauh dari sentuhan bahwa trotoar itu ada regulasinya, sehingga seperti tidak beraturan. Jadi, sangat bertimbal balik, ketika berbicara mengenai trotoar, Pak Gubernur dan Wakil Gubernur melempem seperti kerupuk yang sudah masuk angin,” jelas Alfred saat dihubungi pada hari Jumat, 8 Juni 2018.
Pada kesempatan yang sama, ia mengatakan bahwa semestinya Anies dan Sandi sama seriusnya ketika menata dan menertibkan fasilitas bagi para pejalan kaki, terlebih lagi, pada bulan Agustus mendatang, DKI Jakarta akan menjadi tuan rumah untuk ajang perhelatan Asian Games 2018.
Menurutnya, Anies memiliki kesempatan untuk melakukan perbaikan dan penertiban di sepanjang trotoar jalanan di Jakarta sebelum Asian Games mulai dilaksanakan.
“Dalam waktu dekat ini, kan akan jadi tuan rumah Asian Games. Apakah akan kita biarkan kota ini menjadi kota barbarian,” kata Alfred.
Diketahui, kondisi sejumlah trotoar jalanan di Jakarta menjelang lebaran menjadi semakin semrawut, seperti di kawasan Tanah Abang, Jatinegara, dan Stasiun Kebayoran. Para pedagang Kaki Lima sangat leluasa menjajakan barang dagangannya di atas trotoar. Hal ini menyebabkan para pejalan kaki terpaksa mengalah untuk berjalan di badan jalan yang beresiko karena tentunya harus berebutan dengan mobil dan sepeda motor. Jika seperti ini sampai terjadi, maka tentu membahayakan keselamatan para pejalan kaki yang melintas di kawasan tersebut.
Para Pedagang Kaki Lima Mengokupasi Trotoar Jalanan DKI Jakarta
Menjelang lebaran ini, sejumlah pedagang kaki lima (PKL) semakin leluasa mengokupasi trotoar di jalanan DKI Jakarta. Hal ini tentunya mengakibatkan beberapa kawasan di Jakarta menjadi semakin semrawut. Terlebih lagi para pejalan kaki juga terkena dampak okupasi trotoar oleh para pedagang kaki lima. Kesemrawutan trotoar jalanan Jakarta menyebabkan keselamatan para pejalan kaki menjadi terancam bahaya. Para pejalan kaki harus berjalan di aspal, berebutan dengan kendaraan yang melintas karena trotoar telah dipenuhi pedagang dan masyarakat yang ingin membeli dagangannya.
Kawasan Tanah Abang
Sepanjang Gedung Blok F Tanah Abang, sampai dengan simpang Jl. Jatibaru Raya, Jakarta Pusat, pada akhir bulan kemarin nampak banyak pedagang kaki lima yang mengokupasi trotoar jalanan. Para pedagang kaki lima dengan santainya menjual berbagai macam barang dagangan, seperti pakaian, sepatu, tas, kaca mata, serta sejumlah aksesoris tangan. Selain itu, di kawasan Tanah Abang ini juga banyak penjual pecel yang mayoritas penjualnya adalah ibu-ibu. Kemudian juga banyak pedagang makanan yang memakan trotoar karena menaikkan gerobak dagangannya hingga di atas trotoar.
Banyaknya PKL yang memenuhi trotoar jalanan jakarta mengakibatkan pengunjung Tanah Abang terpaksa harus berdesak-desakan, karena ruang yang tersisa untuk pejalan kaki hanya seukuran dua orang pejalan kaki saja.
Dari kawasan Tanah Abang yang semrawut itu, nampak terdapat sejumlah petugas Satpol PP yang berjaga, akan tetapi para petugas tersebut tidak melakukan penindakan apapun. Kesemrawutan yang ada di Kawasan Tanah Abang tersebut, sebenarnya telah terlihat sejak sepekan memasuki Ramadhan. Akan tetapi, hingga saat ini belum terlihat ada suatu tindakan yang tegas dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Hal ini ditunjukkan dengan kondisi trotoar kawasan Tanah Abang yang sampai beberapa hari terakhir masih semrawut oleh okupasi para pedagang kaki lima.
Camat Tanah Abang, Dedi Arif Darsono mengatakan bahwa pihaknya akan segera menindaklanjuti kesemrawutan kawasan Tanah Abang tersebut. Ia mengatakan bahwa para PKL tersebut mengokupasi trotoar karena ramainya pembeli menjelang Hari Raya Idul Fitri.
Pada kesempatan yang sama, Dedi juga menjelaskan bahwa pihaknya memiliki alasan mengapa Satpol PP yang berjaga di kawasan Tanah Abang tidak segera mengambil tindakan.
“Ohh, itu mungkin karena dipegang oleh Satpol PP Jakarta Selatan. Tetapi kami akan menindaklanjutinya,” terang Dedi perihal Satpol PP yang belum melakukan tindakan.
Untuk melakukan penataan kawasan Tanah Abang, Dedi menjelaskan bahwa memang kewenangan itu berada di bawah penanganan sejumlah Satpol PP dari wilayah lain. Hal tersebut dilakukan karena luasnya kawasan Pasar Tanah Abang, sehingga membutuhkan penanganan yang lebih luas pula. Selain itu, pihak kecamatan Tanah Abang juga memperkirakan bahwa penyebab kesemrawutan yang semakin meningkat ini disebabkan karena para PKL kemungkinan berpikir bahwa mereka bebas berjualan di trotoar seperti yang diberikan Pemprov DKI kepada PKL di Jalan Jatibaru Raya. Padahal untuk trotoar jalanan kawasan Tanah Abang, para pedagang kaki lima tidak diizinkan untuk berdagang.
Stasiun Kemayoran
Pada hari terakhir bulan kemarin, para pedagang barang bekas kembali memenuhi trotoar jalanan di kawasan Stasiun Kebayoran, Jakarta Selatan. Berdasarkan pantauan, terdapat setidaknya 12 penjual barang bekas yang berjalan di atas trotoar dan memenuhi badan trotoar. Berbagai jenis barang bekas dijual di atas trotoar itu, di antaranya adalah ponsel, radio bekas, sepatu bekas, serta barang elektronik bekas yang lain.
Akbiat adanya okupasi trotoar oleh para pedagang kaki lima, para pejalan terpaksa kesulitan melintasi kawasan trotoar, sehingga harus berjalan di atas aspal yang tentunya penuh resiko.
Kondisi kawasan Stasiun Kebayoran semakin diperparah karena adanya sejumlah kendaraan sepeda motor yang parkir sembarangan di badan jalan. Kemudian, kondisi juga semakin diperparah oleh angkot dan kopaja yang ngetem sembarangan. Banyak yang menyampaikan bahwa kawasan Stasiun Kebayoran ini memang sangat lumrah di kawasan itu.
Umumnya, kesemrawutan lalu lintas terjadi pada pagi hari, sedangkan para pedagang kaki lima mulai membuka lapak dan memenuhi trotoar pada siang harinya. Terlebih lagi, tidak setiap hari petugas Dinas Perhubungan Jakarta mengatur ketertiban di kawasan Stasiun Kebayoran. Hal ini mengakibatkan sopir angkot dan kopaja ngetem sembarangan, sepeda motor memarkirkan kendaraannya di badan jalan, sehingga kondisi kawasan tersebut menjadi semakin tidak karuan.

Penulis: Sulis Sutrisna/ Berbagai Sumber

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here