Menteri Susi Sontak Berdiri Melihat Pergerakan Kapal Mencurigakan

0
127

Jakarta, namalonews.com- Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia, Susi Pudjiastuti, kembali melanjutkan jadwal kunjungan kerjanya ke Norwegia pada hari Jumat, 8 Juni 2018. Kali ini, kunjungan kerja Menteri Susi yaitu melaksanakan kunjungan di Institute for Marine Reasarch (IMR) yang terletak di Kota Bergen, Norwegia. Sesampainya di IMR, Menteri Susi beserta rombongan lain yang datang dengan menaiki bus, selanjutnya disambut dan diterima oleh CEO IMR, Sissel Rogne. Untuk menghormati para tamu, Sissel Rogne nampak menyambut Menteri Susi beserta rombongan sejak bus tiba dan mendekat di jalan raya. Menteri Susi dan Sissel selanjutnya berjalan menuju salah satu ruang di IMR.
Pada pertemuan yang diagendakan dalam jadwal Menteri Susi di IMR, Sissel memaparkan data dan hasil penelitian terkait dengan produktivitas hasil tangkapan ikan di Norwegia. Dalam pemaparannya, Sissel menyampaikan bahwa pada akhir tahun 1980- an, penangkapan ikan di Norwegia dilakukan secara eksploratif dan kurang mempertimbangkan efek yang akan ditimbulkan dari hal ini.
Efek Jangka Panjang Eksploratif Perikanan
Kebijakan eksploitatif yang dilakukan oleh Norwegia tersebut dirasa merugikan kelautan dan perikanan, maupun juga dengan perekonomian negara dalam jangka panjang. Oleh karena itu, kebijakan ekdploratif dalam penangkapan ikan ini dikoreksi dan direvisi.
Koreksi kebijakan awal yang dilakukan oleh Norwegia adalah dengan membuat kebijakan pengaturan penangkapan ikan agar tidak eksploratif karena hal ini dapat mengakibatkan hasil tangkapan turun drastis dari hasil perolehan biasanya.
Setelah kebijakan awal tersebut ditetapkan oleh Norwegia, ternyata dapat memberikan hasil yang sangat baik bagi perikanan Norwegia. Secara perlahan produktivitas hasil tangkapan perikanan Norwegia meningkat dengan kualitas hasil tangakapan yang lebih baik. Selain itu, produktivitas hasil tangkapan juga dapat ditingkatkan dan dipertahankan.
Data dan hasil penelitian yang telah dilaksanakan oleh IMR menunjukkan dan sekaligus menguatkan ketepatan langkah atau kebijakan yang telah diputuskan oleh Kementrian Kelautan dan Perikanan (KPP) Norwegia. Hasil penelitian tersebut juga akan digunakan untuk meninjau ulang beberapa kebijakan yang telah ditetapkan oleh KKP, sehingga kebijakan dapat lebih tepat dan meningkatkan kualitas perikanan dan kelautan Norwegia.
Dalam melaksanakan kunjungan dan menghadiri pertemuan dengan IMR tersebut, Menteri Susi didampingi oleh sejumlah tokoh Kementrian Kelautan dan Perikanan, di antaranya adalah Sekretaris Jenderal KKP, Nilanto Perbowo, Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia KKP, Sjarief WIdjaja serta Koordinator Staf Khusus Satgas 115, Mas Achmad Santosa.

Menteri Susi Sontak Berdiri Melihat Pergerakan Kapal yang Dicurigai Ilegal
Seusai acara pemaparan sejumlah data dan hasil penelitian dari IMR, Menteri Susi diajak untuk melihat bagaimana Norwegia mengawasi dan memantau pergerakan kapal-kapal yang beroperasi di kawawasan perairan Norwegia maupun di seluruh perairan dunia dengan memanfaatkan teknologi satelit yang IMR miliki. Dengan memiliki dan menggunakan teknologi pengawas berbasis satelit ini, Norwegia dapat dengan mudah mengawasi pergerakan kapal ilegal yang masuk ke dalam wilayah perairan Norwegia.
Dalam acara pertunjukkan teknologi pengawas kapal yang dimiliki oleh Norwegia, Menteri Susi mendapatkan pemaparan dari Aksel Reidar Aikemo beserta timnya, yang merupakan pihak Direktur Pengelolaan Sumber Daya Direktorat Perikanan Norwegia.
Pada saat layar pemantauan satelit menampilkan hasil pantauannya di sekitar wilayah perairan Indonesia, Menteri Kelautan dan Perikanan Indonesia, Susi, sontak berdiri dari tempat duduknya.
Menteri Susi lantas berjalan mendekati layar pemantauan satelit dan kemudian meminta kepada operator supaya melakukan pelacakan terhadap aktivitas sejumlah kapal yang terpantau di sekitar Zona Ekonomi Eklusif (ZEE) Indonesia. Berdasarkan pemantauan yang dilakukan, diketahui terdapat aktivitas kapal ikan yang dicurigai terdaftar sebagai kapal ikan dari Jepang. Selain itu, kapal ikan ini diketahui telah melalui wilayah perairan Indonesia dengan kecepatan rendah.
Menteri Susi mencurigai bahwa kapal ikan tersebut tidak hanya sekedar melintasi wilayah perairan Indonesia, khususnya Bali.
“Di perairan sekitar Bali, sangat banyak terdapat ikan tuna. Melihat dari hasil pelacakan dan catatan kecepatan kapal itu kecurigaan kami muncul tentang aktivitas lain yang dilakukan selain melintasi perairan sekitar Bali,” kata Menteri Susi yang berdiri di depan layar pemantauan wilayah perairan.
Dari hasil pemantauan, di mana terdapat belasan kapal yang berada di sekitar ZEE Indonesia, menunjukkan bahwa masih ada kegiatan di perairan Indoensia yang tidak dilaporkan dan tidak tersentuh aturan yang telah ditetapkan.
Mengetahui kenyataan tersebut, Menteri Susi terdiam sejenak. Menteri Susi merasa kesal dengan hasil dan tindak lanjut yang dihasilkan dari pemantauan dan pelacakan pergerakan kapal yang ada di perairan Indonesia selama ini. Ia juga menyayangkan dengan kinerja petugas pemantau di Indonesia selama ini yang kurang baik.
“Para petugas pemantau perairan Indonesia diharapkan supaya lebih punya sikap yang curious, kemudian petugas juga harus menaruh curiga hingga kemudian terbukti bahwa sebaliknya,” terang Menteri Susi selanjutnya.
Sembari bergurau dalam acara tersebut, Menteri Susi menyampaikan bahwa dirinya ingin menempatkan seorang pegawai di Bergen dengan kinerja yang baik. Menteri Susi berkata bahwa para petugas harus bisa melakukan pemantauan pergerakan kapal secara lebih gigih, menentukan, serta menunjukkan kinerja yang konsisten.
Aktivitas Menteri Susi di Norwegia
Beberapa hari yang lalu, dalam kunjungan kerjanya, Menteri Susi juga menghadiri undangan yang diberikan oleh Norwegian Institute of International Affairs (NUPI) supaya Menteri Susi memberikan kuliah umum yang dihadiri oleh kalangan umum beserta beberapa tokoh kelautan dan perikanan Norwegia.
Tidak sembarangan orang yang dapat menjadi narasumber utama di NUPI, dan Menteri Susi lah yang menjadi perwakilan resmi pertama dari pemerintah Indonesia yang menjadi pembicara dalam kuliah umum yang diselenggarakan oleh NUPI.
Dalam kesempatan itu, Menteri Susi menyampaikan mengenai “Three Pillars of Fisheries Resources Management: Sovereignty, Sustainability and Prosperity”. Dalam pemaparan kuliah umumnya, Menteri susi hanya menggunakan tampilan presentasi yang hanya terdiri dari data dan gambar, tanpa teks. Nampak pada saat memberikan kuliah umum, para peserta mengikutinya dengan sangat antusias.
Menteri Susi turut menyampaikan mengenai perjuangan yang harus dilalui pada awal mulanya berkontribusi bagi Kementrian Kelautan dan Perikanan Indonesia yang tentunya tidaklah mudah. Menteri Susi mengaku bahwa dirinya mendapatkan amanah dari Presiden RI, Joko Widodo untuk membawa Indonesia sebagai poros Maritim Dunia serta menjadikan kelautan dan perikanan Indonesia sebagai masa depan bangsa Indonesia.
Pada materi kuliah umumnya, Menteri Susi juga mengatakan bahwa kelautan dan perikanan Indonesia sebenarnya sangatlah subur, sehingga berpotensi menjadi sumber perkonomian Indonesia. Akan tetapi, karena banyaknya illegal fishing, unreported fishing, serta unregulated fishing (IUUF), menjadikan kesuburan kelautan dan perikanan Indonesia menurun.
Menteri Susi juga memaparkan keberhasilan kebijakannya dalam menghadapi IUUF yang ada di Indonesia. Ia menampilkan data hasil tangkapan ikan dari sebelum adanya penanganan hingga setelah adanya penanganan yang dilakukan oleh Kementrian Kelautan dan Perikanan Indonesia.

Penulis: Sulis Sutrisna/ Berbagai Sumber

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here