Pandangan Cawapres Pemilu 2019

0
1295

Jakarta, namalonews.com- Dr. TGH. Muhammad Zainul Majdi, M.A. sebagai Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) atau yang kerap kali di panggil dengan sebutan Tuan Guru Bajang (TGB) ini dinilai lebih pantas untuk menjadi calon wakil presiden (cawapres) yang mendampingi Joko Widodo (Jokowi) pada Pemilihan Presiden (Pilpres) tahun 2019 mendatang.
Hal tersebut menurut pendapat dari Sekretariat Bersama degan Relawan Jokowi di Nusa Tenggara Barat, yaitu Seknas Jokowi NTB, Projo NTB, Gerakan Kemajuan (GK) NTB Jokowi NTB, serta ada pula Kawan Jokowi NTB yang sudah melakukan deklarasi dengan Jokowi-TGB sebagai pasangan capres-cawapres untuk pemilu tahun 2019 nantinya.

pada hari Sabtu (9 / 6 / 2018) pada malam di Mataram, NTB menyatakan pada pidato politiknya dalam deklarasi dari ketua Projo NTB, Imam Sofian, bahwa “Kami yakin dari TGB sangat layak apabila dampingi Pak Jokowidalam pilpres 2019 karena TGB sudah terbukti sebagai leader yang tangguh dan bersih. Beliau pro rakyat dan sudah terbukti dengan pesat pembangunan di NTB,”
Hal ini Senada dengan Imam, Ketua Seknas Jokowi NTB, Lalu Fatahillah pu demikian bahwa menyatakan hal sama “TGB adalah seorang leader yang ulung dan juga tangguh, sehingga dari ratusan prestasi maupun piagam penghargaan yang diberikan pemerintah pusat di era pemerintahan Jokowi ini,” tegasnya demikin.
Bahkan ini sama pula dengan pendapat menurut Iwan Harsono, Ketua GK NTB bahwa “Secara personifikasi akan sangat tepat apabila ada dukungan kami kepada TGB karena beliau yang juga adalah sosok akademisi yang cerdas, birokratnya pun bersih dan tangguh serta sosok ulama yang bisa menjadi pengayom bagi banyak kelompok bahkan dia memiliki jiwa toleransi yang kuat antarkelompok dan agama.”

Ir. HL Winengan sebagai Ketua Kawan Jokowi NTB pun memberikan tambahan bahwa dari pihaknya akan memperjuangkan pasangan Jokowi-TGB pada Pilpres 2019 yang akan datang. “Kami bertekad untuk memenangkan Dwi Tunggal Nasionalis Religius Jokowi-TGB dalam Pilpres tahun 2019 mendatang demi kemajuan dan kejayaan NKRI,” ujarnya bertekad.

Beberapa hasil suvei pun menerangkan bahwa dari TGB sudah masuk dalam bursa cawapres Pilpres 2019 yang akan datang. Salah satunya yakni dari survei yang digelar oleh lembaga KedaiKOPI pada 19-27 Maret 2018 yang lalu untuk menunjukkan elektabilitas TGB sebesar 6,2 persen.

Kemudian ada pula hasil survei yang dilakukan Median pada 24 Maret-6 April 2018 yang menunjukkan elektabilitas TGB yakni sebesar 2,5 persen dari total 1.200 responden yang sudah ditanya terkait dengan pilihan cawapres untuk Pilpres pada tahun 2019 mendatang.

Sedangkan pendangan lainnya untuk menjadi cawapres yakni dari Jusuf Kalla (JK) yang masih menjadi figur dan dianggap oleh sebagian besar masyarakat yang paling tepat menjadi calon wakil presiden untuk pemilu 2019 mendatang. Kesimpulan ini di ambil dari usai Charta Politica merilis hasil survei yang sudah mereka lakukan pada 13-19 April 2018.

Dalam survei tersebut melibatkan 2.000 responden, JK yakni mendapat 11,8 persen dari dukungan untuk menjadi cawapres. Tingkat keterpilihannya tersebut mengungguli nama-nama lain seperti Gatot Nurmantyo yakni (8,3 persen), Anies Baswedan yakni (8,2 persen), Agus Harimurti Yudhoyono yakni (8,2 persen), Basuki Tjahaja Purnama yakni (4,8 persen) dan Mahfud MD yakni (4,6 persen).

menurut fakta lapangan dalam survei dengan pertanyaan opsi cawapres yang paling pantas untuk mendampingi Joko Widodo (Jokowi) yakni nama JK juga masih menempati di posisi teratas. Elektabilitasnya yakni mencapai 10,3 persen lebih unggul dari Gatot yang (8,6 persen) dan AHY (7,6 persen).

Berdasarkan UUD 1945 hasil amandemen, memang menyatakan bahwa JK tidak bisa lagi menjadi cawapres di pemilu mendatang. Politikus senior Golkar tersebut dikarenakan sudah dua kali menjadi Wakil Presiden. Pertama, yakni ketika masih mendampingi Presiden keenam yakni Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada tahun 2004-2009. Kemudian kedua, yakni JK mendampingi Jokowi di periode 2014-2019.

Berdasarkan Pasal 7 UUD 1945, Presiden dan Wapres bahwa hanya dapat menjabat maksimal dua kali dalam posisi yang sama. Batasan tersebut tidak ada dalam UUD 1945 sebelum diamandemenkan.

apabila nama JK dihilangkan, maka elektabilitas yang tertinggi untuk menjadi cawapres pendamping Jokowi yakni nama AHY dengan angka 11,8 persen. Tingkat keterpilihan tersebut sudah berada di atas Gatot (11,5 persen) maupun Anies (9,1 persen).

sedangkan untuk opsi cawapres terpantas untuk Prabowo Subianto yakni 12,2 persen responden yang memilih Anies. Gubernur DKI Jakarta tersebut unggul dari Gatot (11,9 persen) dan AHY (8 persen).

Direktur Eksekutif Charta Politica Yunarto Wijaya menyatakan bahwa, berdasarkan hasil survei dari lembaganya ditemukan fakta bahwa dari responden tidak lagi menganggap penting sentimen daerah asal kandidat wapres untuk pemilu 2019 nantinya.

Yunarto di kawasan Melawai, Jakarta pada hari Senin (21 / 5 / 2018) menyaakan bahwa “Sentimen Jawa dan luar Jawa ternyata tidak ada. Padahal kita tahu di survei responden di Jawa lebih besar. Sentimen antardaerah sudah berkurang,” ujarnya.

sedangkan muncul kabar lain yakni dari Amien Rais yang secara mengejutkan menyatakan bahwa dirinya akan maju sebagai calon presiden (capres) dalam Pemilihan Umum Presiden (Pilpres) 2019 yang akan datang. Dari Partai Amanat Nasional (PAN) ini tampaknya tidak main-main lagi apabila dengan urusan ini dan membeberkan alasannya untuk mencapreskan Amien Rais.
Viva Yoga Mauladi yakni dari Wakil Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PAN, di Jakarta, pada hari Minggu (10/6/2018) menyatakan bahwa “PAN serius untuk mencalonkan Amien Rais running for President 2019, dan kami sudah memiliki alasan yang kuat untuk pencalonan tersebut,” tandasnya.
Menurut Viva bahwa Amien Rais selaku Dewan Kehormatan PAN ini masih menjadi sosok yang paling tepat apabila bersaing pada Pilpres 2019 yang akan datang untuk menantang Joko Widodo (Jokowi). Amien Rais ini dinilai punya integritas sebagai pemimpin nasional, cinta terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan tentunya ,memiliki cinta kepada rakyat Indonesia.
lanjut Viva, bahwa Amien Rais ini memiliki konsep dan kapasitas kepemimpinan dalam memimpin perjuangan bangsa Indonesia untuk menuju pada cita-cita nasional sesuai dengan berdirinya NKRI. Terkait faktor usia, maka Viva meyakiniitu bukanlah sebuah persoalan bagi tokoh reformasi dan mantan Ketua MPR tersebut.

Viva menegaskan bahwa “Amien Rais masih memiliki fisik yang kuat dan stamina prima dalam melakukan aktivitas sesuai tuntutan kerjanya. Usia ini tidak menghalangi dalam menjalankan tugas pokok pekerjaan,”.

kamudian bukan hanya itu, dari PAN juga mengusulkan beberapa nama lainnya sebagai capres, seperti Zulkifli Hasan yakni Ketua Umum PAN dan Ketua MPR, Soetrisno Bachir yakni Ketua Dewan Penasehat PAN, maupun Hatta Rajasa yakni mantan Ketua Umum PAN.

Isyarat untuk maju sebagai capres pada Pilpres 2019 ini diutarakan oleh Amien Rais setelah menghadiri acara buka bersama yakni di kediaman Zulkifli Hasan di Jakarta Selatan pada Sabtu malam (9/6/2018). Amien Rais sendirilah yang pernah maju di Pemilu 2004 berpasangan dengan Siswono Yudohusodo namun kalah.

Penulis: Sulis Sutrisna/ Berbagai Sumber

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here