Tanah Abang Semrawut, Sandiaga: Itu Potensi

0
142

Jakarta, namalonews.com- Wakil Gubernur DKI Jakarta, Sandiaga Uno mensyukuri dan melihat keramaian di kawasan Tanah Abang sebagai potensi yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat DKI Jakarta. Walaupun saat ini, pada saat menjelang lebaran 1439 H, kawasan Tanah Abang justru cenderung menjadi semrawut.
“Kalau saya, melihat hal itu sebagai potensi, saya melihatnya sebagai peluang. Ramai itu adalah berkah yang harus kita tata ke depannya nanti,” kata Sandiaga, pada hari Kamis, 7 Juni 2018.
Sandiaga mengatakan bahwa ketertiban lingkungan yang diidamkan oleh masyarakat tidak akan terwujud apabila hanya dengan penertiban yang kecil dan sepotong-sepotong. Ia menyebutkan, penataan lingkungan Tanah Abang yang akan dilakukan adalah penertiban berskala besar dengan merombak kawasan Tanah Abang.
“Kita tidak bisa kalau piecemeal, tidak bisa satu-satu untuk menyelesaikannya. Sekarang, yang akan kita selesaikan dulu adalah skybridge-nya itu,” jelas Sandiaga.
Sejak akhir bulan Mei sampai dengan awal Juni 2018 ini, kondisi Pasar Tanah Abang yang ada di Jakarta Pusat, semakin memprihatinkan. Pada kawasan tersebut terdapat ratusan pedagang kaki lima (PKL) yang memanfaatkan hampir seluruh trotoar jalan di kawasan pasar Tanah Abang di sana. Diketahui, tiap hari, mulai dari siang hari, sepanjang trotoar Jalan Jatibaru Raya sampai dengan depan pintu masuk Stasiun Tanah Abang, telah dipenuhi oleh para pedagang kaki lima yang mengais rezeki.
Di trotoar kawasan Pasar Tanah Abang tersebut, para pedagang kaki lima menjual berbagai jenis dagangan, seperti celana, kaca mata, pakaian dalam, dan berbagai produk fashion yang lain.
Trotoar jalan yang berada sejajar dengan stasiun, seharusnya tetap dijaga bersih dari aktivitas pedagang kaki lima, karena hal ini akan membuat kawasan menjadi semakin kumuh, dan tentunya mengganggu pengguna jalan. Sebenarnya, Pemrintah Provinsi DKI Jakarta hanya memanfaatkan sisi jalan yang sebaliknya sebagai lokasi untuk para pedagang menjajakan dagangannya, akan tetapi, banyak pedagang kaki lima yang justru semakin menumpuk dan memnuhi kawasan Pasar Tanah Abang.
Kawasan Tanah Abang yang Semakin Semrawut Karena PKL
Sejak akhir bulan Mei sampai dengan awal bulan Juni 2018 ini, kondisi kawasan Pasar Tanah Abang, di Jakarta Pusat, kian memprihatinkan. Ratusan pedagang kaki lima (PKL) telah menumpuk dan memenuhi hampir seluruh trotoar di jalanan kawasan Pasar Tanah Abang.
Lokasi tepat di samping tangga stasiun, banyak sekali pedagang siomay, bakso, dan makanan lainnya yang berjajar memenuhi trotoar, bahkan hingga menaikan gerobak dagangan mereka di trotoar. Tepat di samping para pedagang jajanan dengan menggunakan gerobak dagangan, terdapat penjual pecel yang mayoritas penjualnya adalah ibu-ibu. Padahal semestinya kawasan tersebut bersih dari para pedagang kaki lima.
Para petugas yang ada di Stasiun Tanah Abang tidak dapat mengambil tindakan atas keramaian tersebut dikarenakan pengawasan dan penindakan kawasan Tanah Abang berada di bawah Satpol PP, DKI Jakarta.
“Yaa, Satpol PPnya hanya bisa diam saja. Terus kami bisa apa Mas? Memang seperti inilah sekarang, semakin semrawut. Saya sudah meminta mereka untuk bergeser, jangan berjualan di situ. Tetapi mereka tetap berjualan juga,” kata salah satu petugas Stasiun Tanah Abang.
Berjarak sekitar 50 meter dari beberapa gerobak samping tangga stasiun, terdapat sebuah tenda jaga Satpol PP, di mana di dalam tenda tersebut terdapat 10 petugas Satpol PP sedang berteduh dan berjaga.
Meskipun demikian, sejumlah petugas Satpol PP yang bertugas tidak berhak mengatasi keramaian yang terjadi akibat banyak pedagang kaki lima yang membuka lapak di sepanjang trotoar Kawasan Tanah Abang.
Salah seorang penumpang KRL menyampaikan keluhannya atas kondisi Tanah Abang yang kian memprihatinkan, Ardianto mengatakan, sejak sebulan terakhir, kondisi Tanah Abang memang semakin semrawut oleh para pedagang kaki lima yang berjualan di atas trotoar. Dia juga mengaku kerap melihat petugas Satpol PP berjaga di sana, akan tetapi tidak melakukan apa-apa.
“Yaa beginilah, jalannya susah. Kalau dulu, ini semua bersih tidak ada ni gerobak yang sampai naik ke badan trotoar, mlempem ni petugasnya,” keluh Ardianto.
Adrian, penumpang KRL lainnya juga memberikan tanggapan terkait dengan kondisi Kawasan Tanah Abang menjelang lebaran. Ia menilai bahwa kondisi Tanah Abang yang seperti saat ini wajar, mengingat saat ini sudah akan memasuki Lebaran.
“Yaa, mungkin saja mereka mau mencari rezeki juga kalau lebaran, tetapi kalau bisa, kasih ruang yang lebih besar untuk para pejalan kaki,” tanggap Adrian.
Kondisi Kawasan Tanah Abang saat ini, hampir tidak mengalami perubahan, masih sama seperti saat dipantau akhir Mei kemarin, di mana banyak pedagang kaki lima yang menjajakan jajanannya di jalanan kawasan tersebut.
Pada akhir bulan Mei kemarin, Camat Tanah Abang, Dedi Arif Darsono menyampaikan bahwa jajarannya akan segera menindaklanjuti permasalahan kondisi kawasan Tanah Abang yang semakin semrawut. Akan tetapi, hingga saat ini, masih tidak ada perubahan, masih banyak pedagang yang memenuhi kawasan Tanah Abang.
Petugas Satpol PP yang Menunggu Instruksi Penertiban Kawasan Tanah Abang
Salah seorang petugas Satpol PP DKI Jakarta yang sedang melakukan pengawasan di Kawasan Pasar Tanah Abang menyampaikan aspirasinya atas kesemrawutan kawasan Tanah Abang. Petugas Satpol PP yang sedang berjaga ini menyampaikan kepada wartawan bahwa dia dan rekan Satpol PP lainnya belum mendapatkan perintah untuk melakukan penertiban pedagang kaki lima (PKL) yang memakan badan trotoar di sepanjang jalanan kawasan Tanah Abang.
Dia juga mengatakan bahwa para petugas Satpol PP Stasiun Tanah Abang hanya diminta untuk menjaga supaya jalur bus transjakarta explorer tetap steril, bersih dari pedagang kaki lima dan gerobak dagangannya.
“Tidak ada, hanya sebatas penghalauan saja, supaya jangan sampai ke jalan,” pengakuan salah seorang petugas Satpol PP di kawasan Jatibaru Raya, Tanah Abang, pada hari Rabu, 6 Juni 2018.
Dia juga menambahkan bahwa pihaknya tidak bisa sembarangan melakukan penertiban kepada para pedangan kaki lima yang memenuhi dan memakan badan jalan sepanjang kawasan Tanah Abang. Hal ini dikarenakan harus ada instruksi dari atas terlebih dahulu, baru kemudian bisa melaksanakan penertiban di kawasan Tanah Abang.
Selain itu, seorang petugas Satpol PP lainnya, juga menyampaikan tanggapannya terkait kondisi Tanah Abang. Ia meminta agar berbagai pertanyaan tentang kesemerawutan kawasan Tanah Abang bisa sampai kepada atasannya. Ia juga mengatakan bahwa para petugas Satpol PP yang bertugas hanya dapat bekerja apabila ada instruksi dari atasan.
Petugas Satpol PP ini juga mengatakan bahwa seminimal mungkin para petugas tetap menjaga kawasan Tanah Abang agar tetap masih ada ruang bagi para pejalan kaki yang akan melintasi trotoar.
“Kalau kami tidak ada di sini, sudah penuh nih trotoar, paling tidak, minimal bisa ada ruang lah,” kata seorang petugas Satpol PP yang menyampaikan aspirasinya.

Penulis: Sulis Sutrisna/ Berbagai Sumber

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here