Asal Capresnya Jokowi, PDIP Buka Peluang Koalisi Dengan Gerindra

0
182

Jakarta, namalonews.com – Ketua Tim Pemenangan Partai Gerindra Sandiaga Uno mengatakan bahwa koalisi PDIP-Gerindra sangatlah mungkin terjadi. Menurutnya, apabila Gerindra dan PDIP memiliki satu dasar ekonomi yang sama, yakni pasal 33 Undang-Undang 1945.
“Sangat mungkin, saya pak Hasto dan PDIP kita punya yaitu satu ekonomi kerakyatan pasal 33 UU 1945 untuk membangun ekonomi yang sama-sama kita share perjuangan untuk rakyat itu jadi role,” kata Sandi saat berada di Rumah Dinas Wakil Gubernur DKI Jakarta, Denpasar Raya, Kuningan, Jakarta, Selasa (12/6/2018).
Sandi juga mengatakan bahwa jika Partai Gerindra dan PDIP mungkin saja bisa kembali reuni serta bersatu dalam Pilpres 2019 mendatang.
“Jadi kita di 2019 sama-sama bersama dan indahnya kalau kita reuni dan kembali lagi dalam satu kesatuan di 2019,” ujar Sandi.
Hanya saja, untuk calon presiden Gerindra akan tetap memilih Prabowo Subianto. Menurutnya, sekarang ini masyarakat menginginkan ekonomi yang terbangun. Sandi juga membandingkan kondisi ketika kepemimpinan Jokowi yang menurutnya masih susah untuk perihal mencari pekerjaan.
“Masyarakat menginginkan ekonomi yang terbangun. Siapa masyarakat yang lebih percaya, Saya sih 5 tahun sudah terlihatlah lapangan kerja belum tercipta, harga-harga masih bergejolak, kita menawarkaan sesuatu yang mudah-mudahan masyarakat lebih bisa menangkap tawaran kedepan dengan tawaran yang kami berikan nanti,” kata Sandi.
Koalisi PDIP dengan Partai Gerindra memang pernah terjadi pada tahun 2009 lalu. Saat ini opsi koalisi tersebut kembali dibuka walaupun kedua partai politik ini lebih dikenal berseberangan. Akan tetapi, PDIP mempunyai syarat khusus bagi Partai Gerindra jika sepakat berkongsi dalam Pilpres 2019 mendatang.
“Peluang kerja sama dengan Gerindra hanya dimungkinkan bila bersama-sama punya capres yang sama. Kalau terkait dengan pilpres. Itu hal yang prinsip kalau itu,” ujar Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto saat berada di Pasar Senen, Jakarta Pusat, Selasa (12/6/2018).
“Kalau Gerindra mengusung capres yang berbeda, sementara PDIP dengan Pak Jokowi ya tentu saja kerja sama tidak bisa dilakukan, tetapi dialog akan tetap bisa berjalan,” tambah Hasto.
Dialog yang disebut oleh Hasto tetap dapat dilakukan dengan Partai Gerindra berhubungan dengan bangsa. Adapun hal yang berkaitan dengan bangsa tersebut seperti halnya kesepakatan mengenai agenda-agenda besar. Menurut Hasto, hal tersebut sangat mungkin terjadi.
“Menyepakati berbagai agenda-agenda besar terhadap komitmen konsensus nasional terhadap Pancasila. Terhadap pendidikan Indonesia konstitusi kita. Itu kan bisa dilakukan dalam dialog itu,” ujar Hasto.
Pilihan mengenai reuni koalisi 2009 tersebut muncul usai Puan Maharani kembali menyampaikan soal pertemuannya dengan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto. Puan Maharani dan Prabowo Subianto mengaku sama-sama ingin menggelar pertemuan lagi.
“Sudah sama-sama menyampaikan ada keinginan dan niatan untuk bertemu,” ungkap Puan, Kamis (7/6).
Hasto mengatakan bahwa pertemuan Ketua DPP PDIP non-aktif Puan Maharani dan Prabowo merupakan pertemuan biasa. Serta tak harus membangun koalisi pilpres.
“Pertemuan kan tidak harus membangun koalisi pilpres. Pertemuan itu untuk dialog. Untuk sama-sama berbicara tentang bagaimana masa depan bangsa dan negara. Kalau namanya berkompetisi kan juga ada aturannya,” kata Puan.
Sebelumnya, Puan Maharani menuntaskan akan lolos Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto. Menurut Puan, pertemuan Puan dengan Prabowo hanya perlu menentukan waktu. Hal ini dikarenakan masing-masing tokoh politik tersebut mempunyai kesibukan.
Puan saat berada di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (7/5) mengatakan bahwa kendala pertemuan hanyalah masalah teknis waktu. Baik Puan maupun Prabowo Subianto sama-sama disibukkan dengan banyak kegiatan. Meski begitu, pertemuan kedua tokoh politik tersebut secepatnya akan dilakukan.
Calon yang Diusung PDIP dan Gerindra di 17 Provinsi
Tak hanya perbincangan hangat mengenai calon presiden 2019 mendatang, pemilihan gubernur yang dijadwalkan akan digelar di 17 provinsi pada Juni 2018 menjadi ajang pemanasan bagi PDIP dan Partai Gerindra menjelang pemilu 2019.
Dua rival utama dalam pemilihan presiden 2014 tersebut kemungkinan besar akan kembali berhadapan di 13 daerah pemilihan gubernur. Hal ini melanjutkan perkubuan dalam dua pilkada serentak terakhir. Mereka akan berkoalisi di empat daerah lainnya. Adapun para calon yang diusung oleh PDIP dan Gerindra pada pilkada 2018 ialah sebagai berikut.
1. Sumatera Utara
PDIP
Calon: Djarot Saiful Hidayat-Sihar Sitorus
Koalisi: PKPI, Partai Hanura, PPP
Gerindra
Calon: Letnan Jenderal Edy Rahmayadi-Musa Rajeckshah
Koalisi: Golkar, PKS, PAN, NasDem
2. Sumatera Selatan
PDIP
Calon: Dodi Reza Alex Noerdin-Giri Ramanda Kemas
Koalisi: Golkar
Gerindra
Calon: Aswari Rivai-Irwansyah
Koalisi: PKS
3. Riau
PDIP
Calon: Arsyadjuliandi Rachman-Suyatno
Rencana koalisi: Golkar, Hanura
Gerindra
Rencana pembahasan koalisi pencalonan gubernur dengan PKB belum rampung
4. Lampung
PDIP
Calon: Herman Hasanusi-Sutono
Koalisi: –
Gerindra
Calon: Ridho Ficardo-Helmi Hasan
Koalisi: Demokrat, PPP, PAN
5. Jawa Tengah
PDIP
Calon: Ganjar Pranowo-Taj Yasin Maimun
Koalisi: PPP, Demokrat.
Gerindra
Calon: Sudirman Said (Wakil belum ditetapkan)
Koalisi: PKS, PAN
6. Jawa Barat
PDIP
Calon: Mayor Jenderal (Purn) Tubagus Hasanuddin-Inspektur Jenderal Anton Charliyan
Koalisi: –
Gerindra
Calon: Mayor Jenderal (Purn) Sudrajat-Ahmad Syaikhu
Koalisi: PKS, PAN
7. Jawa Timur
PDIP
Calon: Saifullah Yusuf-Abdullah Azwar Anas (rencana wakil diganti)
Koalisi: PKB
Gerindra
Rencana koalisi dengan PKS dan Hanura belum tuntas
8. Kalimantan Timur
PDIP
Calon: Inspektur Jenderal Safaruddin (wakil belum diputuskan)
Gerindra
Calon: Isran Noor-Hadi Mulyadi
Koalisi: PKS, PAN
9. Kalimantan Barat
PDIP
Calon: Karolin Margaret Natasa-Suryadman Gidot
Koalisi: Demokrat, PKPI
GerindraCalon: Milton Crosby-Boyman Harun
Koalisi: PAN
10. Sulawesi Selatan
PDIP
Calon: Nurdin Abdullah-Andi Sudirman
Koalisi: PAN, PKS
Gerindra
Calon: Agus Arifin Numang-Tanribali Lamo
Koalisi: –
11. Nusa Tenggara Timur
PDIP
Calon: Marianus Sae-Emilia Nomleni
Koalisi: PKB
Gerindra
Calon: Esthon Foenay-Chris Rotok
Koalisi: PAN
12. Bali
PDIP
Calon: I Wayan Koster-Tjokorda Oka Artha Ardana
Koalisi: PKB, PAN, Hanura, PKPI
Gerindra
Calon: Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra-I Ketut Sudikerta
Koalisi: Golkar, PKS, Hanura, NasDem
13. Maluku Utara
PDIP
Calon: Abdul Ghani Kasuba-Al Yasin Ali
Koalisi: PKPI
Gerindra
Calon: Muhammad Kasuba-Abdul Madjid Husen
Koalisi: PKS, PAN
14. Nusa Tenggara Barat
PDIP-Gerindra
Calon: Ahyar Abduh-Mori Hanafi
Koalisi: PAN
15. Sulawesi Tenggara
PDIP-Gerindra
Calon: Asrun-HuguaKoalisi: PAN, PKS, Partai Hanura
16. Papua
PDIP-Gerindra
Calon: John Wempi Wetipo-Habel Melkias Suwae
17. Maluku
PDIP-Gerindra
Calon: Inspektur Jenderal Murad Ismail-Barnabas Orno
Koalisi: PAN, NasDem, Hanura, PKB, PPP, PKPI.
PDIP dan Partai Gerindra dikenal selalu bersaing ketat untuk menjadi pemimpin Republik Indonesia. Meski begitu, koalisi kedua partai politik besar ini bisa saja terjadi apabila keduanya sepakat dengan syarat diatas. Kabar mengenai koalisi antara PDIP dan Partai Gerindra selalu menarik untuk dibicarakan. Hal ini juga tak terlepas dari masa pemerintahan Presiden Jokowi, apakah akan berakhir atau lanjut ke periode 2019 mendatang.

Penulis: Sulis Sutrisna/ Berbagai Sumber

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here