Lebaran Usai, Masalah Ekonomi PR Jokowi

0
141

Jakarta, namalonews.com- Lebaran telah tiba. Liburan pun hampir usai. Kini berduyun-duyun para pemudik kembali ke kota yang akan memulai aktivitas barunya pascalebaran. Kebijakan pemerintah yang menambah masa libur lebaran selama tiga hari sehingga total menjadi sembilan hari, dinilai berpotensi menimbulkan beberapa permasalahan ekonomi.

Masalah ekonomi kini timbul dan mengggelayuti setelah usai libur lebaran. Fenomena ini harus bisa disikapi pemerintah secara tegas da nyata. Hal ini harus ditangani secara komprehensif. Mestinya pemerintah harus sigap dalam menangani beberapa permasalahan ekonomi yakni seperti menurunnya konsumsi rumah tangga dan inflasi. Ini penting untuk mempertahankan kehidupan ekonomi yang layak.

Bhima Yudistira, Pengamat ekonomi dari Institute for Development of Economic and Finance (Indef) menyebutkan, akan ada masalah ekonomi baru yang bakal dihadapi pemerintah usai lebaran. Di antaranya yakni produktivitas pangan yang akan menurun serta tingginya impor yang bakal terjadi. Hal ini biasanya akan terjadi usai lebaran seperti sekarang ini.

“Sekarang tugas pemerintah bagaimana tingkatkan daya beli petani, jangan impor beras ugal-ugalan saat petani panen raya. Kemudian bansos PKH(Program Keluarga Harapan), dana desa padat karya tunai itu efektifitasnya harus dievaluasi total,” ujar Bhima pada media kemarin di Jakarta.

Lebih lanjut dalam keterangannya, “Permasalahan ekonomi lainnya yaitu dana desa yang bisa disalahgunakan. Dikarenakan rumitnya birokrasi yang ditempuh dalam mencairkan dana desa tersebut. Dana desa kemungkinan problem di birokrasi yang berbelit, ini terlihat banyaknya kepala desa yang terlibat korupsi dana desa. Terlebih kemampuan pendamping desa terbatas. Dana di APBN sudah ada untuk stimulus konsumsi, tapi masalahnya ada di level implementasi,” jelasnya.

Oleh sebab itu, menurutnya pemerintah harus mengambil langkah tepat dalam menangani pelbagai kasus yang akan mengancam kondisi ini. Yakni masalah ekonomi yang kian terpuruk.

“Yang jelas tugas berat pemerintah menjaga konsumsi rumah tangga tetap tinggi pascalebaran. Menjaga inflasi khususnya dari harga energi dan pangan, stabilisasi kurs rupiah dan dongkrak kinerja ekspor,” paparnya pada insan media.

Sementara itu, terkait hal serupa, Roda Tiga Konsultan (RTK) merilis hasil survei terhadap tingkat keberhasilan kinerja pemerintah Presiden Joko Widodo (Jokowi). Yakni masalah ekonomi yang dipandang kurang berhasil dalam penuntasannya. Seperti mengacu pada hasil survei yang dilakukan pada 21 April-2 Mei 2018 di 34 provinsi.

Survei dilakukan kepada 1.610 responden. “Seberapa berhasilkah pemerintah dalam menyelesaikan masalah ekonomi?”

“Yang tidak berhasil, menyediakan lapangan kerja 62,2%, harga sembako agar terjangkau 54,5%, pemerataan kesejahteraan bagi warga pada umumnya 53,5%, kemudian ada memberantas korupsi, penegakan hukum yang adil, perumahan/hunian yang terjangkau,” ujar Direktur Riset Roda Tiga Konsultan Rikola Fedri, di  Jakarta pada media beberapa waktu lalu.

Secara garis besar ada 3 isu utama yang dianggap tidak berhasil terkait dengan ekonomi. Di antaranya penyediaan lapangan kerja, harga sembako, dan kesejahteraan rakyat.

“Ini kalau kita lihat dari tiga isu utama yang dianggap tidak berhasil adalah yang terkait dengan ekonomi. Jadi ini catatan juga buat Pak Jokowi bagaimana menyelesaikan permasalahan ekonomi,” paparnya.

Sedangkan masalah ekonomi yang dianggap berhasil ditangani Jokowi yaitu masalah listrik dan air bersih. Juga, perbaikan layanan aparat pemerintah dan birokrasi, serta ketersediaan sekolah dan perguruan tinggi. Kemudian pembangunan sarana transportasi umum, pembangunan infrastruktur, dan pelayanan kesehatan.

“Tiga isu yang berada di posisi atas yakni pelayanan kesehatan dengan 69,3%, pembangunan infrastruktur 61,8%, dan pembangunan sarana transportasi umum 59,4%,” ungkapnya.

Sebagai narasumber politikus PDIP Eva K Sundari, Wasekjen Partai Demokrat Rachland Nashidik, Poskapol UI Aditya Perdana, dan Waketum Partai Gerindra Ferry Juliantono hadir dalam acara tersebut.

Penulis: Sulis Sutrisna

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here