Pak Djarot Ber-KTP Baru Sumut, Jadi Belum Banyak Tahu

0
38

Jakarta, namalonews.com- Pada acara debat kandidat pilgub Sumatera Utara tahun 2018, putaran ketiga berlangsung pada Selasa malam, 19 JUNI 2018. Pada debat kali ini mengusung tema tentang penegakan hukum dan hak azasi manusia. Pada debat tersebut dimanfaatkan untuk saling serang dan sindir antara pasangan calon Djarot Saiful Hidayat-Sihar Sitorus dan Edy Rahmayadi-Musa Rajashah. Debat berlangsung seru dan sangat menarik.

Dalam debat itu, Djarot mengakui persoalan hukum dan HAM masih banyak terjadi di provinsi itu. Pihaknya menilai penegakan hukum dan HAM di Sumut masih berpihak pada pemilik modal dan penguasa.

Lebih lanjut, tema yang diusung dalam debat tersebut sangat aktual dengan yang sedang dialami oleh kedua calon kandidat. Bakal calon gubernur dari pasangan calon nomor urut dua, Djarot Saiful Hidayat, lalu mempertanyakan tata kelola pemerintahan yang akan diterapkan pasangan calon yang merupakan versusnya.

Pertanyaan Djarot menyindir lawan kandidatnya, Musa Rajekshah yang ikut diperiksa sebagai saksi dalam kasus suap yang menjerat mantan Gubernur Gatot Pujo Nugroho dan sejumlah besar anggota parlemen setempat. Hal tersebut turut dipertanyakan Djarot sebagai bahan debat.

“Bagaimana Pak Musa menerapkan  tata kelola pemerintahan yang transparan?” tanya Djarot dalam debat.

Terlepas dari itu, Djarot juga sempat mengkritisi cara pengelolaan keuangan Provinsi Sumatera Utara selama ini. Menurutnya, Sumatera Utara rawan akan korupsi dana bantuan sosial. “Ada pula swasta meminjamkan uang kepada gubermur. Tentu itu salah dan jadi perhatian KPK,” tutur Djarot.

Jangankan untuk menjawab pertanyaan tersebut.  Musa menyebut Djarot tidak memahami masalah. “Pak Djarot ini baru punya KTP Sumut (Medan). Jadi belum banyak tahu,” kata Musa yang adalah pengusaha itu.

Sedangkan pasangannya, Edy Rahmayadi, menganggap remeh masalah yang diungkap Djarot. Edy meminta masalah itu dilupakan karena dianggapnya menjadi bagian dari masa lalu. “Jadi pejabat tidak boleh rakus dan menghalalkan segala cara,” katanya singkat tentang tata kelola pemerintahan yang transparan.

Selanjutnya Edy malah menyoroti janji-janji tentang izin keamanan kampanye. “Saya heran kenapa banyak sekali retorika,” kata dia sambil menambahkan, “Orang Sumut tak perlu banyak ‘ulok‘ (ular).”

Selain tentang hal tersebut di atas, debat keduanya juga menyinggung contoh penyelesaian konflik yang terjadi pada rakyat kecil terkait masalah agraria

Calon gubernur yang berpasangan dengan Sihar Sitorus tersebut juga memprogramkan mengenai penegakan hukum dan Ham. Yakni memberikan hak kepada masyarakat melaui tiga program yang berupa kartu. Kartu-kartu tersebut yaitu “Kartu Sumut Sehat”, “Kartu Sumut Sejahtera”, dan “Kartu Sumut Pintar”.

Fernanda Putra Adela, Pengamat Politik FISIP USU memprediksi pasangan Djarot Saiful Hidayat-Sihar Sitorus (Djoss) akan unggul dalam debat tersebut.

Dia memandang pengalaman Djarot yang pernah memimpin di Kota Blitar dua periode dan Gubernur DKI Jakarta, menjadi modal penting. Sehingga Djarot paham dengan istilah-istilah seperti stunting dan lainnya.

“Karena jam terbang itu ketika dia dikasih kata kunci dari Sihar. Kemudian Djarot bisa mengeksplorasi itu. Saya lihat karena mungkin pengalaman dia sebagai kepala daerah sehingga dia bisa menguasai bahan,” katanya.

Bukan itu saja, bahkan para penyandang disabilitas meyakini pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Sumatera Utara, Djarot Saiful Hidayat-Sihar Sitorus mampu memberikan harapan baru menciptakan inklusif.

Penulis: Sulis Sutrisna

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here