Pasangan Khofifah-Emil Perkuat Dukungan Menangkan Pilkada

0
185

Jakarta, namalonews.com- Salah satu yang menjadi perbincangan hangat saat ini yakni terkait dengan perhelatan Pemilihan Gubernur Jawa Timur 2018 dinilai menjadi persiapan adu strategi perang bagi semua partai untuk Pemilu serentak 2019. Pilgub Jatim inilah yang nantinya akan menjadi penentu suara untuk pemilihan presiden 2019 yang saat ini begitu ramai dibahas para petinggi politik.

Hal tersebut di harapkan bisa membuat keadaan dari Pemikihan Gubernur di Jawa Timur 2018 semakin dinamis dan tentunya aman sesuai rencana awal. Terlebih ketika dari Partai Gerindra dan PKS yang merupakan partai pendukung pasangan calon pilgub jatim 2018 nomor urut 2 yakni Saifullah Yusuf-Puti Guntur (Ipul-Puti) saat ini sudah semakin habis-habisan untuk meminta ganti presiden dengan kampanye #2019gantipresiden.

Walaupun demikian akan tetapi untuk saat ini dari Presiden RI keenam Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang juga ikut turun tangan dan rajin turun gunung untuk pasangan calon Gubernur-Wakil Gubernur nomor urut 1, Khofifah Indar Parawansa-Emil Elestianto Dardak (Khofifah-Emil). Kondisi dari pilgub jawa timur tahun 2018 saat ini diperkirakan akan tetap menggambarkan pembuka duel ulang yakni antara Joko Widodo dengan Prabowo Subianto untuk Pemilu Presiden 2019 mendatang.

Salah satu seorang Pengamat Politik Universitas Airlangga (Unair), Airlangga Pribadi Kusman Surabaya Jawa Timur, Selasa ( 19 Juni 2018 ) menyatakan bahwa “Pertarungan yang terjadi dalam pilgub Jatim kali ini tidak bisa digeneralisir. Hal ini apabila  kita melihat bahwa pertarungan keras 2014 dan kontinyuitasnya adalah pada Jokowi vs Prabowo bukan Jokowi vs SBY,” jelasnya meneruskan.

Skema yang saat ini terlihat dalam Pilgub Jatim tersebut bahwa Airlangga menjelaskan, dengan melihat variabel Gerindra dan PKS yang berada di kubu Ipul-Puti. Terlebih ada dua partai yang menolak mengusung Jokowi sebagai capres 2019 ini setia mendukung Gus Ipul sejak Pilgub Jatim seri 2008 dan 2013 yang lalu.

Sementara dari dari calon gubernur pasangan Khofifah-Emil ini memiliki historis kedekatan sebagai kubu Jokowi yang dipercaya sebagai Juru bicara pada Pilpres 2014 lalu. Ketua Umum Muslimat NU (Khofifah) ini pun kemungkinan besar akan dipercaya di kabinet kerja Jokowi sebagai Menteri Sosial.

Kemudian terkait dengan SBY yang turun gunung mengkampanyekan Khofifah memiliki massa yang sudah tidak perlu untuk diragukan lagi karena akan semakin menguatkan posisi Khofifah di Pilgub Jatim 2018. Mengingat dua tahun sebelumnya yakni dari Soekarwo yang merupakan kader partai Demokrat memimpin Jawa Timur.

“Posisi historis dari masing-masing kubu yaknia pada Pilpres 2014 dimana KIP adalah Jubir Jokowi-JK dan Gus Ipul (GI) Pendukung pasangan dari Prabowo-Hatta. Kemudian di Jelaskan kembali pada saat ini bahwa partai Gerindra dan PKS yakni berasal dari parpol pengusung GI. Artinya bahwa dari segi politik pihak GI-Puti memiliki kedekatan dengan kubu Prabowo. Sementara dari kubu Khofifah-Emil yakni dari aliansi kekuatan antara Jokowi dan SBY,” pungkasnya menambahkan.

Dukungan yang di berikan kepada pasangan Khofifah-Emil ini memang berasal dari berbagai kalangan terutama yaknai dari orang nomor satu Indonesia ini pun diamini para massa loyalis Jokowi yakni berasal dari Bara JP (Barisan Relawan Jokowi for President) dan Rumah Kreasi Indonesia Hebat (RKIH). Dukungan yang di berikan pada massa pendukung Jokowi ini pun ditegaskan langsung oleh Ketua Bara JP Jawa Timur yakni Giyanto Wijaya.

Ketua Bara JP DPD Jawa Timur, Giyanto Wijaya menyatakan bahwa “Kita DPD Bara JP bahwa di Jawa Timur mendukung Khofifah-Emil. Hasilnya dari mayoritas lebih mendukung bu Khofifah,” katanya.

Kedua massa ini merupakan salah satu dari pendapat dari masyarakat yang ikut sebagai pelopor yang mendorong Jokowi untuk terus maju sebagai calon Presiden pada pemilu 2014 lalu. Dukungan tersebut memang berasal darei RKIH ini diungkapkan Ketua RKIH Jawa Timur Erwin Silitonga.

Erwin menyatakan bahwa “Kami pun ikut mendukung penuh Ibu Khofifah dan saya sangat yakin bahwa kerja keras teman-teman pasti tidak akan sia-sia, dan insyaallah Ibu Khofifah tetap komitmen dengan program yang dicanangkan,” ungkapannya.

Seperti yang sudah kita diketahui bersama bahwa dari pasangan nomor 1 (satu) Khofifah-Emil yang diusung 6 partai politik. Beberapa diantaranya yakni dari partai Demokrat, Partai Golkar, PAN, PPP, Partai NasDem, Partai Hanura dan PKPI. Sementara itu dari pasangan Ipul-Puti juga di usung oleh beberapa partai diantaranya yakni dari partai PDIP, PKB, Gerindra, PKS.

sementara itu tidak lupa pula dilakukan berbagai survei untuk mengetahui sejauh mana perkembangannya yakni oleh Lembaga survei Populi Center merilis hasil survei terbaru terkait Pemilihan Gubernur-Wakil Gubernur Jawa Timur 2018. Hasil survei tersebut telah menyebutkan bahwa dari kader Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini ternyata lebih banyak mendukung pasangan calon Gubernur-Wakil Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa-Emil Elestianto Dardak.

Seperti yang sudah diketahui bersama bahwa dari PKB adalah partai utama yang mengusung pasangan calon gubernur-wakil gubernur nomor 2 Gus Ipul-Puti.

Berdasarkan data dari lembaga survei Populi Center tersebut yakni mendapatkan hasil dengan  sebanyak 49,8 persen pemilih PKB yang lebih memilih pasangan calon Khofifah-Emil dibanding dengan pasangan calon Gus Ipul-Puti yang didukung yakni sebesar 40,9 persen dengan 9,8 persen responden yang tidak ikut menjawab.

Survei yang di lakukan dalam Pilgub Jawa Timur ini dilakukan pada 22 April-28 April 2018 di 80 desa atau kelurahan yang berada di wilayah Jawa Timur. Sedangkan metode pengambilan data survei tersebut yang dilakukan melalui wawancara secara tatap muka kepada 800 responden yang dipilih dengan menggunakan metode acak bertingkat (multistage random sampling) dengan margin of error +/- 3,39% dan tingkat kepercayaan 95 persen.

Berdasarkan hasil yang sudah di dapatkan tersebut maka dari Pakar Politik Universitas Brawijaya, Ahmad Hasan Ubaid menilai wajar adanya perbedaan dukungan kader terhadap calon yang diusung oleh suatu partai. Hal tersebut juga membuktikan bahwa dari partai pengusung Gus Ipul-Puti tidak memiliki dukungan terhadap akar rumput yang kuat secara institusi sosial.

Hasan, Sabtu 5 Mei 2018, menyatakan bahwa “Itu perpindahan suara yang memang lazim ketika partai kemudian tidak atau belum memiliki kelembagaan yang kuat. Institusionalism belum terlalu kuat. Konsolidasi secara kelembagannya relatif lemah,” katanya menerangkan.

Selain itu, tedapat sebuah faktor figur lainnya yang tentunya akan menjadi penentu personal kader untuk memilih pasangan calon. Kondisi inlah yang diamini dari data survei Populi Center yang menyebutkan bahwa terdapat sebesar 50,5 persen dari masyarakat yang memilih berdasarkan sosok calon Gubernur tersebut.

“Apalagi apabila di lihat dalam pilgub ini konteksnya sebagai figur. Ini kan termasuk dalam lintas partai, sehingga akan ada banyak kader PKB jadi yang ikut memilih di luar PKB karena memang itulah yang merupakan sosok figur dinilai lebih mumpuni sehingga memungkinkan perpindahan suara,” ungkapnya menerangkan.

Penulis: Sulis Sutrisna/ Berbagai Sumber

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here