Jokowi Menyampaikan Duka yang Mendalam atas Tenggelamnya Kapal Motor Sinar Bangun

0
269

Jakarta, namalonews.com- Terkait dengan musibah yang sedang melanda warga Indonesia, yakni tenggelamnya Kapal Motor Sinar Bangun di Danau Toba, Kabupaten Simalungan, sumatera Utara pada hari Senin kemarin, 18 Juni 2018, Presiden Joko Widodo turut menyampaikan duka cita yang mendalam.

“Atas nama pribadi, besera seluruh warga Indonesia, kami menyampaikan duka cita yang mendalam, atas korban yang meninggal dunia pada musibah tersebut,” terang Presiden Jokowi ketika menyampaikan keterangannya dalam konferensi pers di Ruang Teratai, Istana Presiden, Bogor, pada hari Rabu, 20 Juni 2018.

Perihal penumpang kapal yang menjadi korban dan belum diketemukan, Presiden Jokowi telah menyampaikan bahwa dirinya sudah memberikan intruksi kepada Polri, TNI, Badan SAR Nasional (Basarnas), beserta Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), untuk terus berusaha mencari dan menemukannya.

“Untuk korban yang belum diketemukan, saya minta dari Polri, Basarnas, TNI, serta BNPB untuk segera bisa menemukan dan menyelamatkan korban,” jelas Presiden Jokowi.

Seperti yang telah diberitakan di kalangan masyarakat Indonesia, KM Sinar Bangun telah mengalami musibah, di mana kapal ini tenggelam di perairan Danau Toba, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, pada hari Senin 18 Juni 2018 kemarin ketika membawa sekitar 200 penumpang.

Sampai dengan hari Rabu kemarin, jumlah penumpang yang menjadi korban KM Sinar Bangun dan sudah diketemukan berjumlah 22 orang, di mana pada hari pertama telah diketemukan 19 orang yang terdiri dari 14 laki-laki dan 5 orang perempuan. Dari 19 penumpang yang diketemukan ini, satu orang diketemukan telah meninggal dunia. Kemudian, pada hari Rabu siang, pencarian korban oleh tim gabungan telah berhasil menemukan tiga korban lainnya dalam kondisi meninggal dunia.

Budi Karya Sumadi selaku Menteri Perhubungan RI (Menhub) menyampaiakan bahwa KM Sinar Bangun yang tenggelam di Danau Toba, Sumatera Utara, pada Senin petang, seharusnya hanya bisa diisi dengan 43 orang penumpang saja. Budi menyampaikan bahwa KM Sinar Bangun merupakan kapal layar dengan ukuran yang termasuk kecil, sehingga hanya bisa membawa sedikit penumpang dan sedikit muatan. Namun kenyataannya, KM Sinar Bangun melakukan pelayaran dengan mengangkut sekitar 200 penumpang, ditambah dengan sejumlah kendaraan bermotor, sehingga kapal menjadi penuh dan tidak sesuai dengan standar keselamatan yang ada.

“Kapal yang memiliki ukuran 35 GT (gross tonage), hanya berkapasitas 43 orang, termasuk kapal kecil,” jelas Budi ketika menyampaikan penjelasan pada konferensi pers di Posko Nasional Angkutan Lebaran 2018, di Kantor Kementerian Perhubungan, Jakarta, hari Rabu, 20 Juni 2018 kemarin.

 

Selain itu, dalam pemaparannya, Budi juga menjelaskan bahwa, ketika KM Sinar Bangun mulai melakukan perjalanan, hujan deras turun disertai angin kencang dan petir yang bergemuruh. Bukan hanya itu saja, pada saat itu kondisi perairan Danau Toba juga sedang banyak gelombang tinggi hingga mencapai ketinggian 2 meter. Budi juga menjelaskan, bahwa ketika melakukan pelayaran di peraiaran Danau Toba, KM Sinar Bangun tidak disertai dengan peralatan keamanan yang lengkap. Pada saat itu, KM Sinar Bangun hanya memiliki sedikit life jacket atau pelampung, yakni hanya sekitar 45 pelampung.

Life jacket pun hanya ada sekitar 45 jaket. Bayangkan saja, penumpang yang sebanyak itu, banyak yang tidak memakai life jacket,” kata Budi.

Berdasarkan laporan yang masuk dari berbagai keluarga yang melaporkan bahwa telah kehilangan anggota keluarganya setelah peristiwa tenggelamnya KM Sinar Bangun melalui Posko Simanindo, Kabupaten Samosir, terdapat sejumlah 189 orang penumpang yang belum diketemukan.

Budi juga menjelaskan terdapat kemungkinan bahwa ada potensi KM Sinar Bangun tersebut kelebihan muatan, sehingga mengalami musibah dan tenggelam di perairan Danau Toba.

“Saya tidak bisa mengatakannya secara langsung, namun potensi kelebihan penumpang itu ada,” tambah Budi.

Kemungkinan penyebab tenggelamnya KM Sinar Bangun akibat kelebihan muatan didukung oleh fakta di mana tidak adanya manifes dalam pelayaran tersebut. Bahkan juga diindikasikan bahwa terdapat kecurangan yang menyebabkan penumpang tidak dinyatakan dalam manifes dan Surat Izin Berlayar atau SIB.

Walaupun demikian, Budi menambahkan, segala kemungkinan yang ada akan dilakuakan penelitian yang lebih lanjut oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), untuk mendapatkan informasi yang akurat.

KM Sinar Bangun Tak Memiliki Manifes dan Surat Izin Berlayar

Pihak kepolisian menyampaikan bahwa jumlah penumpang Kapal Motor Sinar Bangun yang mengalami musibah tenggelam di wilayah perairan Danau Toba, Sumatera Utara, pada awal pekan ini belum bisa dipastikan. Hal ini disebabkan oleh kapal motor tersebut tidak memiliki manifes penumpang kapal.

Berdasarkan keterangan yang diberikan oleh Kombes Pol Yusri Yunus, selaku Kepala Bagian Penerangan Satuan (Kabag Pensat), Divisi Humas Polri, manifes penumpang itu sangat berkaitan erat dengan Surat Izin Berlayar atau SIB. Dua hal ini adalah syarat utama bagi sebuah kapal untuk dapat melakukan pelayaran sebagai sayarat kelaikan operasional kapal.

“Kapal Sinar Bangun memang tidak memiliki manifes pada saat itu. Jadi jelas, kalau manifes pun tidak ada, berarti SIBnya juga tidak ada,” tegas Kombes Pol Yusri di Mabes Polri, Jakarta, pada hari Kamis, 21 Juni 2018.

Kombes Pol Yusri juga menyampaikan bahwa manifes kapal itu menunjukkan berapa jumlah penumpang suatu kapal yang melakukan pelayaran. Selanjutnya, manifes kapal harus diserahkan kepada pihak pelabuhan sehingga surat izin berlayar (SIB) dapat diterbitkan, dan kapal pun bisa melakukan pelayarannya ke tujuan tertentu.

Dalam penyampaiannya itu, Kombes Pol Yusri menegaskan bahwa KM Sinar Bangun tidak memiliki manifes apalagi surat izin berlayar. Yusri menambahkan, terkait dengan hal ini, pihak kepolisian akan terus melakukan investigasi dengan bekerja sama dengan sejumlah pihak yang berwenang dan membentuk tim investigasi gabungan. Tim investigasi gabungan tersebut terdiri dari Polri, Kementerian Perhubungan, dan otoritas pelabuhan setempat.

Kapal Motor Sinar Bangun, dilaporkan tenggelam pada hari Senin, 18 Juni 2018 petang, tepatnya pada pukul 17.15 waktu setempat. Kapal Motor Sinar Bangun mengalami musibah dan tenggelam di perairan Danau Toba, Kabupaten Samosir setelah meninggalkan dermaga baru sekitar 500 meter.

Pada saat musibah menimpa KM Sinar Bangun dan ratusan penumpangnya, kondisi cuaca di Danau Toba memang sedang dalam kondisi hujan deras disertai angin kencang dan petir yang bergemuruh. Pada saat itu pun, gelombang di perairan danau tersebut sangat tinggi hingga mencapai 2 meter.

Dilaporkan, sebelum KM Sinar Bangun berlayar, pihak BMKG juga telah memberikan peringatan dini mengenai kondisi cuaca yang ada di perairan Danau Toba yang dalam keadaan kurang memungkinkan untuk melakukan pelayaran. Bahkan, BMKG mengaku telah memberikan peringatan sebanyak dua kali. Akan tetapi, pihak BMKG mengaku, pihaknya hanya bisa memantau dan melaporkan kondisi cuaca yang ada, sedangkan kewenangan memberikan izin kepada kapal untuk melakukan pelayaran bukanlah milik BMKG.

Penulis: Sulis Sutrisna/ Berbagai Sumber

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here