Layanan SIM Keliling akan Dilengkapi dengan Gerai Tes Psikologi

0
51

Jakarta, namalonews.com- Kompol Fahri Siregar selaku Kasi SIM Ditlantas Polda Metro Jaya, telah menyampaikan bahwa  pihaknya akan segera menyediakan gerai-gerai untuk tes psikologi bagi layanan SIM keliling, serta gerai SIM yang ada di Mal Pelayanan Publik. Kompol Fahri menjelaskan bahwa gerai-gerai lembaga psikologi yang telah diverifikasi oleh bidang psikologi Polda Metro Jaya akan disediakan oleh pihak kepolisian dengan letak tidak jauh dari lokasi pelayanan pembuatan SIM tersebut.

“Jadi, nanti kami akan segera minta ke lembaga psikologi yang telah kami tunjuk untuk membuka gerai tes psikologinya, di dekat lokasi layanan pembuatan SIM”, jelas Kompol Fahri pada hari Kamis, 21 Juni 2018 ketika memberikan keterangan kepada wartawan.

Kombes Pol Fahri mengatakan, hal ini bertujuan agar memudahkan masyarakat dalam melakukan tes psikologi. Ke depannya, tes psikologi ini nantinya juga akan ditetapkan menjadi salah satu persyaratan dalam pembuatan dan perpanjangan surat izin mengemudi atau SIM, sehingga saat ini ditujukan agar masyarakat dapat ikut melakukan simulasi dan mengetahui proses barunya. Tes psikologi juga tidak hanya dijadikan sebagai persyaratan untuk SIM tertentu saja, melainkan untuk semua golongan SIM.

“Nantinya, untuk pelayanan di Satpas SIM, juga akan disediakan gerai di sekitar kawasan Satpas. Kami juga sudah menghimbau kepada lembaga-lembaga psikologi itu untuk menyewa tempat di sekitar kawasan layanan SIM kami,” tambah Kombes Pol Fahri.

Simulasi untuk penerapan tes psikologi bagi masyarakat yang ingin membuat atau memperpanjang  SIM, akan dimulai hari ini. Kombes Pol Fahri menyampaikan bahwa simulasi tes psikologi ini akan dilakukan sampai dengan tanggal 23 Juni 2018.

“Akan tetapi, dalam simulasi nanti, para pemohon SIM belum diwajibkan melampirkan hasil tes psikologi,” jelas Kombes Pol Fahri.

Pada kesempatan yang sama, Kombes Pol Fahri mengatakan bahwa dalam simulasi tes psikologi yang dilakukan oleh kepolisian, pihaknya ingin memastikan bagaimana kesiapan sarana dan pra sarana, materi tes psikologi, serta sumber daya manusia atau SDM dalam pengujian tes psikologi tersebut.

Menurut Kombes Pol Fahri, setelah simulasi tes psikologi tersebut dilakukan, penerapan tes psikologi sebagai persyaratan baru akan dimulai pada pekan depan, lebih tepatnya yaitu pada tanggal 25 Juni 2018. Kombes Pol Fahri juga mengatakan bahwa selama ini, tes psikologi yang telah dilakukan hanya diterapkan bagi pemohon SIM umum, yaitu tipe surat izin mengemudi yang harus dimiliki oleh pengemudi angkutan umum.

“Kami akan menyiimulasikan sistem ini pada tanggal 21 Juni sampai dengan tanggal 23 Juni 2018,” jelas Kombes Pol Fahri pada hari Selasa, 19 Juni 2018.

Pihak Kepolisian Diminta Bisa Konsisten dalam Menerapkan Tes Psikologi bagi Pemohon SIM

Terkait dengan rencana dari kepolisian untuk menerapkan tes psikologi sebagai salah satu syarat bagi para pemohon SIM, Tulus Abadi selaku Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), turut mendukung rencana kebijakan tes psikologi tersebut. Tulus Abadi menyampaikan bahwa aspek psikologis seseorang juga sangat berpengaruh terhadap cara seseorang dalam mengendarai alat trasnportasi di jalanan.

“Ide ini bisa diterima, sebab dalam mengemudi itu bukan hanya soal teknikal skil mengemudi saja, melainkan juga dengan aspek psikologis pengemudi sendiri,” jelas Tulus kepada para wartawan pada hari Rabu, 20 Juni 2018 kemarin.

Pada kesempatan itu, Tulus juga mengingatkan bahwa kemampuan teknis seorang pengemudi yang tidak diimbangi dengan aspek psikologis yang baik pula, dapat berpotensi menimbulkan bahaya bagi sesama pengendara, maupun bagi para pejalan kaki.

“Sangat boleh dilakukan. Jadi, meskipun seorang pengemudi secara teknis kemampuannya bagus, akan tetapi dari sisi psikologis bermasalah, bisa dinyatakan tidak layak untuk mengemudikan kendaraan di jalan,” jelas Tulus.

Tulus juga menyampaikan harapan baiknya bahwa apabila rencana penerapan tes psikologi yang diterapkan oleh kepolisian dapat dilaksanakan dengan baik, maka hal itu dapat menekan angka kecelakaan dalam berkendara. Maka dari itu, Tulus turut berharap bahwa pihak kepolisian bisa benar-benar menerapkan rencana tes psikologi ini secara konsisten, serta ada transparansi kepada masyarakat agar masyarakat juga dapat mengetahui informasi dan perkembangan dari pelaksanaan tes psikologi tersebut.

“Idealnya begitu, dan itu harus dilakukan secara konsisten, serta transparan,” imbuh Tulus.

Kombes Pol Fahri juga menambahkan, setelah simulasi tes psikologi berhasil diterapkan oleh pihak kepolisian, tes psikologi akan mulai diterapkan sebagai persayaratan baru bagi para pemohon SIM mulai pekan depan nanti, tepatnya pada tanggal 25 Juni 2018.

Ombudsman Minta Rencana Tes Psikologi dari Kepolisian Bisa Dimatangkan

Terkait dengan rencana penerapan tes psikologi bagi pemohon SIM dari pihak kepolisian, Adrianus Meliala selaku anggota Ombudsman RI turut mendukung kebijakan Polri tersebut.

Menurut Adrianus, persyaratan tes psikologi bagi pemohon surat izin mengemudi diharapkan dapat memperbaiki citra pembuatan SIM di Indonesia, di mana di Indonesia saat ini sistem pembuatan SIM masih memiliki citra yang kurang baik.

“Seperti halnya juga di berbagai negara, untuk proses perpanjangan dan pembuatan SIM memang tidaklah mudah, di mana syaratnya banyak. Di Indonesia, citra pengurusan SIM itu sangat mudah, dan dapat dengan mudah dibeli sudah terlanjur kuat di kalangan masyarakat,” terang Adrian kepada para wartawan, pada hari Rabu, 20 Juni 2018.

Hal seperti inilah yang dinilai oleh Adiranus sebagai hal yang mencoreng citra pembuatan SIM di Indonesia. Selain itu, menurut Adrianus, psikologi yang kurang baik dapat menyebabkan pengendara cenderung gegabah dan mengabaikan berbagai aspek keselamatan dalam berkendara di jalan raya.

Meskipun demikian, ia mengingatkan bahwa pihak kepolisian harus bisa menyiapkan berbagai aspek penunjang dalam pelaksanaan tes psikologis dengan lebih siap dan matang, sehingga bisa memberikan pelayanan kepada masyarakat dengan baik. Menurut Adrianus, pihak kepolisian seringkali melakukan kelalaian dalam implementasi kebijakan yang telah mereka terapkan sendiri.

“Ya tentu dong, biasanya kan pihak kepolisian sering kali kedodoran saat mengimplementasi kebijakannya sendiri,” jelas Adrianus ketika memberikan keterangan kepada wartawan.

Adrianus juga menambahkan bahwa pihak kepolisian harus memastikan berbagai kebutuhan untuk pelaksanaan simulasi sampai dengan penerapan tes psikologis bagi pemohon SIM. Adrianus mengatakan bahwa polisi harus memastikan ketersediaan lembar alat tes, penguji, materi tes, serta ruangan yang memadai, sehingga pelaksanaan tes psikologis dapat terlaksana dengan baik.

Pada beberapa waktu sebelumnya, Ksi SIM Ditlantas Polda Metro Jaya, menyampaikan bahwa uji coba atau simulasi tes psikologi bagi persyaratan tambahan bagi pemohon SIM di wilayah kawasan hukum Polda Metro Jaya akan dimulai pada pekan ini.

Dalam memberikan keterangannya kepada wartawan, Kombes Pol Fahri juga mengatakan bahwa simulasi dan penerapan persyaratan baru yaitu tes psikologi bagi pemohon SIM yang akan membuat atau memperpanjang SIM ini ditujukan untuk melihat kesiapan dari pihak kepolisian. Kombes Pol Fahri mengatakan bahwa pihaknya ingin menilai bagaimana kesiapan tes psikologi mulai dari materi, penguji, sarana dan pra sarana tes psikologi.

Penulis: Sulis Sutrisna/ Berbagai Sumber

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here