Tweet SBY, Bambang DH dan PDIP Justru yang Panik

0
165

Jakarta, namalonews.com- Kenyataan harus diakui, para elite Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) tersinggung berat atas twitter pribadai Mantan Presiden Indonesia keenam, Susilo Bambang Yudhoyono.

@SBYudhoyono mengumbar pernyataan: Saya perhatikan, banyak penguasa yang lampaui batas sehingga cederai keadilan dan akal sehat. Mungkin rakyat tak berdaya, tapi apa tidak takut kpd Tuhan, Allah SWT ? *SBY* pada Senin, (18/06/2018)

Bambang D.H, selaku Ketua DPP PDI Perjuangan berpendapat bahwa pernyataan SBY itu mengarah ke pemerintahan Presiden Joko Widodo. Namun demikian beliau menegaskan bahwa pernyataan itu selain merendahkan hak rakyat yang berdaulat, juga merupakan  cermin kepanikan Presiden ke-6 RI itu sendiri.

“Pak Jokowi tidak pernah menyalahgunakan kekuasaan. Berbeda dengan yang sebelumnya. Siapa yang di belakang tim alpha, bravo dan delta? Siapa yang menggunakan KPU yang seharusnya netral dan dijadikan pengurus partainya? Siapa yang memanipulasi IT sehingga Antasari dipenjara? Siapa yang memanipulasi DPT sehingga kursi di Pacitan pada Pemilu 2014 berkurang drastis dibanding 2009? Siapa yang menjadi pelopor penggunaan dana Bansos?” ungkap Bambang DH melalui keterangan pers yang diterima insan media di Jakarta Rabu (20/6/2018).

Agar lebih kondusif dan berjalan baik, seyogianya Susilo Bambang Yudhoyono menahan diri untuk berintrospeksi. Ini dipandangnya lebih baik ketimbang menyalahkan orang lain tanpa dengan adanya bukti yang nyata.

“PDI Perjuangan bahkan punya pengalaman buruk di Pilkada Bali 5 tahun lalu. Saat itu alat negara diterjunkan hanya karena ambisi kekuasaan. Jadi, siapa yang punya sejarah gelap menggunakan kekuasaan? Pak SBY jangan lempar batu sembunyi tangan,” terangnya pada media.

Lebih lanjut Bambang berharap agar seluruh elemen bangsa ini untuk bersinergi membangun kondisi yang lebih kondusif. Di antaranya dengan membiarkan rakyat menjadi hakim tertinggi untu kmenentukan sang pemimpinnya yang dianggap mumpuni.

“Rakyat mencari pemimpin yang kuat secara kultural, berpengalaman serta tidak ambisius dalam mengejar jabatan,” terangnya.

Menanggapi informasi yang beredar, Jansen Sitindoan, Ketua DPP Partai Demokrat menyebut tudingan politikus PDI Perjuangan Bambang D H, panik tidak berdasar dan sumir.

“Mengingatkan hal yang benar kok disebut panik. Yang sekarang panik jangan-jangan justru Bambang DH dan PDIP,” kata Jansen via pesan elektronik kepada media di Jakarta ,Kamis (21/6/2018).

Sebaliknya, Jansen meninlai justru yang panik itu pihak Bambang D.H dan PDIP. Cuitan SBY tersebut bukanlah bentuk kepanikan melainkan sebagai peringatan yang harus diterima.

Lebih lanjut, menurut Jansen, anggapannya tersebut sangatlah berdasar. Misalnya menyinggung soal Wakapolda Maluku Brigjen Hasanuddin yang dicopot lantaran mendukung calon gubernur Irjen Murad Ismail dalam pilgub Maluku.

“Sekali lagi imbauan ini bukan karena panik, namun agar tidak ada lagi perwira-perwira terbaik TNI dan Polri yang menjadi korban di Pilkada seperti halnya kejadian di Maluku,” tegasnya.

Justru imbauan SBY tersebut merupakan komitmen agar TNI, Polri dan BIN bersikap netralitas dalam politik.

“Ketua umum kami, Pak SBY, selama 10 tahun memimpin negeri ini terbukti walaupun berlatar belakang jenderal militer, beliau selalu menjaga netralitas TNI, Polri, dan BIN. Legacy inilah yang harusnya diteruskan dalam pemerintahan sekarang, karena undang-undang pun masih mengatur demikian sampai saat ini,” tutupnya.

Penulis: Sulis Sutrisna

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here