Woow…! Utang Luar Negeri Indonesia Tembus Rp5.000 T

0
139

Jakarta, namalonews.com- Berdasar perhitungan kurs acuan Jisdor yakni Rp14.090, utang pemerintah Indonesia hingga akhir April 2018 naik 7,6 persen secara tahunan (year on year/yoy) menjadi USD 356,9 miliar atau sekitar Rp 5.028 triliun.

Sebanyak tersebut, terdiri dari utang pemerintah dan bank sentral. Yakni  sebesar 183,8 miliar dolar Amerika Serikat, atau naik 9,5 persen (yoy), dan utang swasta termasuk BUMN sebesar 173,1 miliar dolar Amerika Serikat atau naik 5,6 persen (yoy). Keterangan tersebut valid berdasarkan dari Statistik ULN Bank Indonesia yang diumumkan di Jakarta, Kamis (21/6/2018).

“Dengan posisi utang Indonesia itu, rasio ULN terhadap PDB masih cenderung tetap di 34 persen,” rilis Bank Indonesia, dalam publikasi resminya pada media. Alih-alih, Bank Indonesia mensinyalir kondisi demikian masih lebih baik jika dibandingkan dengan rate dari negara tetangga.

Berdasar dari jumlah besaran utang, bisa dikelompokkan dalam golongan Surat Berharga Negara (SUN dan SBSN/Sukuk Negara) yang dimiliki bukan penduduk hingga mencapai 125,1 miliar dolar Amerika Serikat.

Selanjutnya pemerintah juga menarik utang dari kreditur asing sebesar 55,4 miliar dolar Amerika Serikat secara nyata.

“Pengelolaan ULN secara profesional dan bertanggung jawab dilakukan Pemerintah secara konsisten untuk menjaga sustainabilitas fiskal,” ujar Bank Indonesia pada media belum lama ini.

Sebaliknya masalah utang dari swasta termasuk di dalamnya BUMN, pinjaman di sektor pengadaan listrik, gas, dan uap/air panas (LGA) cenderung meningkat.

Diharapkan, pangsa ULN keempat sektor tersebut terhadap total ULN swasta mencapai 72,4 persen tidak kurang.

Sebagian besar untuk pengambilan tenor, ULN keseluruhan didominasi pinjaman berjangka panjang dengan total keseluruhan utang hingga 86,7 persen. Sementara itu, Bank Sentral mensinyalir utang luar negeri Indonesia masih dalam keadaan sehat. Kondisi yang demikian mengharuskan Bank Indonesia berjanji akan meningkatkan koordinasi dengan pemerintah untuk mengawasi ULN dan mengoptimalkan peran ULN dalam mendukung pembiayaan pembangunan. Sehingga terlaksana dengan tanpa menimbulkan risiko gangguan stabilitas perekonomian nasional.

Berdasar dari statistik utang luar negeri Indonesia (SULNI) per Mei 2018 utang luar negeri pemerintah kuartal I tercatat US$ 181,13 miliar atau sekitar Rp 2.535,8 triliun. Dibandingkan dengan dengan bulan-bulan sebelumnya mengalami peningkatan.

Jumlah ULN Pemerintah pada akhir kuartal I 2018 meningkat US$ 3,8 miliar dari kuartal sebelumnya. Hal ini isebabkan karena penerbitan Global Sukuk sebesar US$ 3 miliar, yang di dalamnya termasuk dalam bentuk Green Bond atau Green Sukuk Framework senilai US$ 1,25 miliar sejalan dengan komitmen pendanaan hijau yang ramah lingkungan.

Lana Soelistianingsih, Ekonom Samuel Asset Management, “Kalau untuk utang pemerintah itu karena dibebani oleh global bond ya, kan mereka menerbitkan Green Bond atau Green Sukuk Framework,” ujarnya pada media beberapa waktu lalu.

Penulis: Sulis Sutrisna

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here