Ekonomi Sulit Akibat Rupiah Terjepit

0
150

Jakarta, namalonews.com- Semakin terjepitnya nilai tukar rupiah oleh dollar AS menjadikan ekonomi Indonesia semakin sulit. Berbagai kalangan akan mengalami pengaruhnya, baik kalangan pengusaha, investor, pelaku indusrti, dan kebijakan negara. Namun, yang paling terpengaruh dan menderita dari dampak terjepitnya nilai tukar rupiah adalah rakyat kecil.

Hingga kini nilai tukar rupiah masih terjepit oleh dollar AS pada beberapa hari pascalebaan. Hal itu dimulai sejak tahun 2015 dan tidak mampu menembus angka Rp. 10.000 per dollar AS, sebagaimana yang pernah diramalkan dan dijanjikan pada saat kampanye oleh salah satu pasangan capres pada pemilihan presiden tahun 2014. Bahkan, kini nilai tukar rupiah  bertengger pada angka RP 14.000-an per dollar AS.

Dampak yang akan muncul akibat terjepit nilai tukar rupiah adalah mahalnya barang-barang yang mengandung komponen impor.

Kondisi ini akan membuat para pelaku usaha bingung karena membeli bahan dengan mata uang dollar AS, tetapi dalam penjualannya menggunakan mata uang rupiah. Pada akhirnya secara nasional pertumbuhan ekonomi Indonesia sulit bisa mencapai target.

Setelah mencatat pertumbuhan ekonomi 5 persen sepanjang 2017, Indonesia disebut-sebut bakal menghadapi masa-masa sulit di bidang ekonomi pada tahun depan. Setidaknya ada dua hal yang dianggap menghantui situasi ekonomi hingga tahun 2018.

Pertama, tahun 2018 adalah tahun politik karena di 17 provinsi dan 153 kota/kabupaten dilangsungkan pesta demokrasi pemilihan kepala daerah serentak pada 27 Juni 2018 yang diakhiri dengan pemilihan presiden pada tahun 2019. Situasi politik bakal memanas dan dikhawatirkan mengganggu pertumbuhan ekonomi atau berdampak negatif terhadap ekonomi Indonesia.

Kedua, ada kekhawatiran terjadi siklus krisis 10 tahunan setelah resesi melumpuhkan sebagian besar dunia pada 1998 dan krisis ekonomi 2008. Dunia pada 2018 pun dikhawatirkan akan jatuh pada krisis besar.

Pakar ekonomi, Prof. Dr. H. Edy Suandi Hamid, M.Ec, mantan rektor Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta,  yang kini menjabat sebagai Rektor Universitas Widya Mataram Yogyakarta, mengingatkan pemerintah bahwa target pertumbuhan ekonomi 2018 sebesar 5,4 persen bisa meleset. Diprediksi pertumbuhan ekonomi hanya 5,3 persen.

“Berat mencapai target. Tiga tahun terakhir kenaikannya hanya sekitar 0,1 persen,” kata Edy.

Sementara itu, menurut pengamat ekonomi, Mohammad Faisal, dari Core Indonsia, pertumbuhan ekonomi Indonesia bahkan bisa lebih rendah  daripada yang telah ditargetkan oleh pemerintah, alias bakal meleset.

“Melihat perkembangan ekonomi global dan domestik selama tiga bulan pertama tahun ini, CORE Indonesia memprediksi bahwa pertumbuhan ekonomi pada kuartal I masih berada pada kisaran 5 persen,” ujar Faisal belum lama ini di Jakarta.  Selanjutnya, Faisal mengungkapkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa saja akan sulit mencapai angka 5,2 persen.

Menurut Faisal, ada sejumlah tantangan besar yang harus dihadapi Indonesia untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi 5,1 hingga 5,2 persen. Salah satunya adalah potensi pelemahan kinerja ekspor-impor, yang mengakibatkan pelemahan kontribusi net-ekspor terhadap pertumbuhan eknomi tahun ini.

“Padahal net-ekspor berperan sangat besar dalam mempertahankan pertumbuhan ekonomi tetap di 5 persen pada 2017, saat pertumbuhan konsumsi rumah tangga melemah hingga di bawah 5 persen,” ungkap Faisal.

Terus terjepitnya nilai tukar rupiah terhadap dollar dapat menggangu kestabilan ekonomi, sehingga menjadi ekonomi Indonesia semakin sulit. Dampak yang akan muncul adalah mahalnya barang-barang yang mengandung komponen impor. Sementara itu,  di Indonesia banyak industri yang masih mengandalkan bahan baku dari luar negeri, termasuk industri kecil-menengah.

Adapun penyebab terus terjepitya nilai tukar rupiah, menurut Dr. Arim Nasim, dalam  tulisannya ‘Dibalik Gejolak Rupiah’, adalah merupakan konsekuensi logis atas penerapan sistem kapitalis yang menjadikan uang sebagai komoditas. Akibatnya, nilai mata uang naik-turun mengikuti hukum permintaan dan penawaran.

Terjepitnya nilai tukar ini akhirnya akan menambah jumlah kemiskinan dan pengangguran. Karena harga barang mengalami kenaikan, sementara penghasilan tetap atau bahkan berkurang. Ditambah lagi adanya pemutusan hubungan kerja (PHK).

Penulis: Sulis Sutrisna

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here