Kemenhub Akan bagikan 5000 Life Jacket Kepada Operator Kapal Danau Toba

0
210

Jakarta, namalonews.com- Kementerian Perhubungan berencana akan membagikan sejumlah 5.000 buah jaket keselamatan atau life jacket secara gratis yang dilakukan dengan bertahap. 5.000 jaket keselamatan ini akan diberikan kepada para operator kapal yang beroperasi di wilayah perairan Danau Toba, Kabupaten Sumatera Utara.

Pembagian jaket keselamatan pada tahap pertama akan dilaksanakan pada hari Minggu, 24 Juni 2018 di Dermaga Tigaras, Simalungun, Kabupaten Sumatera Utara. Pada pembagian tahap pertama ini, jaket keselamatan yang akan dibagikan adalah sejumlah 500 jaket.

Budi Setiyadi selaku Direktur Jenderal Perhubungan Darat menegaskan bahwa jaket keselamatan adalah salah satu unsur penting bagi keselamatan para penumpang maupun awak kapal dalam pelayaran dan penyeberangan kapal di wilayah perairan. Walaupun demikian, kapal yang beroperasi di wilayah Danau Toba seringkali tidak memiliki jaket keselamatan dengan jumlah yang sedikit, bahkan kualitasnya pun juga tidak memadai.

Budi juga menjelaskan pentingnya jaket keselamatan bagi pelayaran, di mana ia mengambil contoh Kapal Motor Sinar Bangun sebagai kejadian yang melalaikan pentingnya perlengkapan keselamatan dalam pelayaran suatu kapal.

“Sering sekali, kalau dalam kejadian seperti ini, akibat melupakan unsur-unsur keselamatan,” terang Budi dalam keterangan resmi yang disampaikannya pada hari Sabtu, 23 Juni 2018.

Maka dari itu, Budi menyampaikan bahwa dirinya berharap, pembagian jaket keselamatan ini dapat mendorong masyarakat maupun pihak penyedia jasa penyeberangan dapat lebih peduli terhadap peralatan keselamatan, salah satunya jaket keselamatan yang dibagikan secara gratis ini.

Dalam penyampaiannya, Budi juga menginstruksikan supaya seluruh dinas perhubungan mulai dari tingkat kota, kabupaten, maupun tingkat provinsi untuk meningkatkan  pengawasannya terhadap aspek keselamatan dalam memberikan pelayanan transportasi bagi masyarakat.

Sebelumnya, pihak Kementrian Perhubungan juga telah menyampaikan bahwa pihaknya akan mengeluarkan surat edaran kepada dinas perhubungan yang ada di kota, kabupaten, hingga tingkat provinsi.

Budi Karya Sumadi selaku Menteri Perhubungan menyampaikan bahwa tata laksana pelayaran sebenarnya sudah tersedia, namun memang sangat perlu untuk dilakukan sosialisasi dan penekanan agar semuanya dapat memahami tata laksana pelayaran tersebut.

“Sebetulnya, secara umum, tata laksana dalam pelayaran itu sudah ada, akan tetapi memang harus kita tekankan, sosialisasikan, dan mengajak seluruh stakeholder agar semuanya bisa paham,” kata Budi Karya Sumadi di Posko Terpadu Kecelakaan KM Sinar Bangun di Dermaga Tigaras, Simalungun, pada hari Kamis, 21 Juni 2018.

Budi juga mengakui bahwa baik Dinas Perhubungan setempat maupun pelaku pelayaran telah mengetahui tata laksana pelayaran, akan tetapi mereka sering kali enggan untuk mengikuti peraturan tersebut dengan baik.

Ia juga meminta kepada para pejabat pemerintah daerah beserta dinas perhubungan terkait, untuk semakin ketat dalam memperhatikan kelaikan dan berbagai aspek dalam keselamatan kapal, seperti manifes sampai dengan surat izin berlayar atau SIB.

“Proses pendaftaran, pembuatan manifes, serta keterangan tidak melampaui batas, menjadi salah satu bagian yang diharuskan bagi kapal. Selain itu, surat izin berlayar juga harus ada setiap pelayaran berlangsung,” jelas Budi terkait perlunya manifes beserta surat izin berlayar.

Kementrian Perhubungan juga menjelaskan bahwa pihaknya akan memperkuat pendidikan keselamatan, khusus bagi nahkoda sebagai kapten kapal dalam melakukan pelayaran. Sebab, dalam suatu pelayaran, nahkoda inilah yang merupakan orang yang paling bertanggungjawab atas keselamatan penumpang dan awak kapalnya.

Pemerintah juga sedang menunggu terealisasikannya pembangunan empat kapal layar dengan ukuran masing-masing sebesar 300 gross tonnage (GT). Pada saat ini, pemerintah sedang mengerjakan pembangunan 1 kapal. Sementara itu, satu kapal yang lain menyusul untuk digarap oleh pemerintah. Kemudian, PT. ASDP Indonesia Fery juga akan berpartisipasi untuk membangun 1 kapal lagi.

Pembangunan dua kapal lainnya didukung oleh sejumlah pelaku usaha yang berperan sebagai donatur melalui program corporate social responsibility (CSR) perusahaan.

Apabila seluruh kapal layar selesai dibangun, kelima kapal layar ini nantinya akan digunakan untuk mendukung operasional penyeberangan dan pariwisata di wilayah perairan Danau Toba. Dengan daya tampungnya yang lebih besar, kapal-kapal layar ini diharapkan dapat menggantikan kapal-kapal yang sering kali berlayar secara ilegal atau tanpa izin di sekitar danau. Kapal-kapal ilegal inilah yang dapat beresiko menyebabkan kecelakaan tenggelamnya kapal dan dapat menimbulkan musibah bagi masyarakat.

Peristiwa Tenggelamnya Kapal Motor Sinar Bangun di Wilayah Perairan Danau Toba

Seperti yang telah diberitakan di televisi maupun di berbagai media sosial, pada pekan lalu, tepatnya pada tanggal 18 Juni 2018 kemarin, telah terjadi sebuah musibah yang menimpa masyarakat Sumatera Selatan dan segenap bangsa Indonesia atas peristiwa tenggelamnya Kapal Motor Sinar Bangun di wilayah perairan Danau Toba.

Dalam peristiwa itu, KM Sinar Bangun melakukan pelayaran dengan membawa ratusan penumpang, sehingga mengakibatkan hampir seluruh penumpang tenggelam dan dinyatakan tidak diketemukan. Jumlah penumpang keseluruhan KM Sinar Bangun ini belum diketahui dengan pasti karena tidak adanya manifes kapal yang berisi informasi jumlah dan identitas penumpang kapal. Namun, berdasarkan laporan dari anggota keluarga yang melaporkan bahwa telah kehilangan anggota keluarganya setelah adanya peristiwa tersebut, terdapat sejumlah 192 penumpang yang belum diketemukan. Sedangkan terdapat 18 penumpang yang berhasil selamat dan hanya mengalami luka-luka.

Penyebab peristiwa tenggelamnya kapal ini masih dalam proses penelitian pihak yang berwenang. Namun demikian, sempat beredar informasi bahwa musibah tersebut disebabkan oleh kelebihan muatan, faktor cuaca, serta human error.

Pencarian Korban KM Sinar Bangun, TNI Terjunkan Pasukan Katak

Marsekal Hadi Tjahjanto selaku Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI) menyampaikan bahwa pihaknya telah menerjunkan sebanyak 25 personel Pasukan Katak untuk membantu proses pencarian korban hilang pada musibah tenggelamnya Kapal Motor Sinar Bangun di wilayah Perairan Danau Toba pada pekan lalu.

Marsekal Hadi menjelaskan bahwa pasukan katak memiliki keahlian khusus dalam bergerak dan melakukan aktivitas di dalam air, sehingga diharapkan dapat mengoptimalkan pencarian korban KM Sinar Bangun yang masih dinyatakan hilang.

Selain itu, Marsekal Hadi mengatakan bahwa pihak TNI juga telah membantu pencarian korban dengan mengirimkan alat khusus dari Pusat Hidro-Oseanografi TNI Angkatan Laut untuk mengamati dasar dan kontour permukaan yang ada di Danau Toba. Dengan menggunakan bantuan alat ini, pencarian korban akan dapat semakin mudah.

“Jadi alat ini berfungsi untuk memudahkan tim SAR dalam melakukan kegiatan pertolongan korban hilang,” jelas Marsekal Hadi di RSUD Tuan Rondahaim Pematang Raya, Simalungun, Sumatera Utara, pada hari Kamis, 21 Juni 2018 kemarin.

Apabila korban berada pada kedalaman lebih dari 50 meter, maka tim gabungan pencari korban hilang akan melakukan penyelamatan korban dengan alat khusus yang didasarkan pada hasil pengamatan dengan alat Hidro-Oseanografi tersebut.

“Tentu saja kita akan nilai ketika Hidro-Oseanografi telah berhasil menentukan posisi kapal di kedalaman berapa, lalu posisinya di mana, dan permukaan bawah danaunya bagaimana. Terdapat metode lain, yaitu dengan menggunakan jaring untuk mengambil korban,” jelas Marsekal Hadi.

Penulis: Sulis Sutrisna/ Berbagai Sumber

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here