Rezim Carut-Marut: Mempacasilakan Rakyat

0
143

Jakarta, namalonews.com- Suatu rezim akan jatuh, menurut analisis pengamat politik militer, Prof. Salim Said, adalah ketika sudah menafsirkan Pancasila sebagai alat  melanggengkan kekuasaan menurut versi rezim tersebut.

“Jadi kalau sudah mem-Pancasila-kan rakyat, berarti itu tandanya kalau di suatu rezim terjadi carut-marut,” ujar Said di Habibie Center, Kemang, Jakarta, Minggu, (24/6/2018).

Rezim Soekarno dan rezim Soeharto, tambah Salim, memeras Pancasila dan men-Jawakan Pancasila. Sementara itu, yang sekarang adalah melakukan penafsiran terhadap Pancasila dengan membentuk  Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP) yang kemudian berubah menjadi Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP).

“Harus diakui Soekarno dulu merusak Pancasila dengan memeras-meras Pancasila, Soeharto dengan men-Jawa-kan Pancasila, sekarang juga begitu dengan membentuk suatu badan,” bebernya.

Pernyataan Salim tersebut bukan tanpa dasar. Sebagaimana diketahui bahwa pada tanggal 1 Juni 1945 Ir. Soekarno menyampaikan usulan dasar negara Indonesia, yang berisikan lima dasar negara Indonesia. Atau yang dikenal dengan sebutan Pancasila. Namun, pada dasarnya, Soekarno tidak hanya menyampaikan satu usulan saja, melainkan tiga usulan yang dikenal dengan Pancasila, Trisila, dan Ekasila. Soekarno mengusulkan lima dasar negara diperas menjadi tiga (Trisila), yakni sebagai berikut.

  1. Sosionasionalisme- mengandung prinsip kebangsaan dan perikemanusiaan yang menegaskan pentingnya hubungan antarbangsa atau dasar kemerdekaan dan keadilan yang sesungguhnya;
  2. Sosiodemokrasi- menegaskan tegaknya keadilan sosial sebagai syarat terciptanya kesejahteraan sosial;
  3. Ketuhanan yang berkebudayaan- menegaskan tidak boleh ada deskriminasi antarumat beragama, baik agama yang diakui UUD 1945, maupun yang tidak diakui. Karena sebagai makhluk ciptaan Tuhan dan mengakui adanya tuhan, seharusnya untuk saling menghargai dan menghormati perbedaan agama satu dengan yang lain.

Dalam bentuk yang lebih sederhana lagi, Soekarno menawarkan memeras Trisila menjadi satu (Ekasila), yaitu gotong-royong. Gotong-royong mengandung arti bahwa hidup tolong menolong dalam tradisi masyarakat Indonesia, tidak hanya merupakan wujud keterikatan sosial antara yang satu dengan yang lain, tetapi lebih dari itu memiliki makna religius spiritual yang sakral.

Pada dasarnya Pancasila, Trisila, dan Ekasila memiliki esensi yang sama. Untuk menyederhanakan isi dari Pancasila, Soekarno menawarkan Trisila agar lebih mudah memahaminya, Soekarno menawarkan Ekasila (gotong royong), yang di dalamnya mengandung unsur-unsur dan makna yang sama dengan Pancasila dan Trisila.

Di era  rezim Soeharto, Pancasila menjadi ideologi tertutup. Hanya pemerintah yang berhak menafsirkan pengertian Pancasila. Termasuk mengklasifikasikan siapa yang dianggap sebagai ancaman dan lawan terhadap Pancasila. Bahkan, pihak yang kritis terhadap pemerintah pun dimasukkan sebagai musuh Pancasila dan bisa dianggap melakukan tindak pidana subversif.

Pemerintah rezim Soeharto menjadikan Pancasila sebagai asas tunggal untuk mewujudkan gaya kepemimpinan totalitarianisme.

Semasa rezim Soeharto berkuasa patut menjadi pelajaran yang berharga bagi kita semua. Rezim penguasa ketika itu begitu memengaruhi kebhinekaan politik Indonesia dengan mengatasnamakan Pancasila. Akibatnya, – atas nama Pancasila- semua kepentingan yang ada diseragamkan menjadi azas tunggal Pancasila. Terjadilah pemaksaan ideologi Pancasila. Pancasila telah disalahtafsirkan.

Berdasarkan perjalanan sejarah tersebut, kemudian Salim menyimpukan bahwa kejatuhan suatu rezim bermula pada upaya untuk menafsirkan Pancasila tersebut, sehingga cenderung menjadi alat kekuasaan.

“Ini jadi salah satu tanda rezim akan jatuh,” pungkasnya.

Penulis: Sulis Sutrisna

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here