SBY Punya Bukti; BIN, TNI, dan Polri Tidak Netral!

0
143

Jakarta, namalonews.com- Belum lama ini, SBY membeberkan bukti-bukti ketidaknetralan  aparat dalam pelaksanaan pesta demokrasi di beberapa wiayah Idonesia.

Menurut dia, dugaan ketidaknetralan alat negara itu pernah terjadi dalam Pilkada DKI Jakarta 2017 lalu. Saat itu, Polri beberapa kali memeriksa mantan calon wakil gubernur DKI Jakarta, yang diusung Partai Demokrat, Sylviana Murni, dan juga suaminya Gde Sardjana.

Hal tersebut, disampaikan oleh SBY kepada awak media saat melakukan konferensi pers terkait kunjungannya dalam acara kampanye terbuka pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Jawa Barat 2018, Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi, Sabtu 23 Juni 2018.

“Yang saya sampaikan ini, cerita tentang ketidaknetralan  oknum dari BIN (Badan Intelejen Negara), Polri, TNI, bukan lembaganya,” kata SBY.

“Selama masa kampanye, calon wagub ibu Silviana rutin bahkan berkali-kali dipanggil kepolisian, suaminya juga,” kata SBY.

“Termasuk kurang sekian jam pemungutan suara, namanya Antasari mengeluarkan statmen yang merusak kredibilitas SBY,” kata dia dalam konferensi pers di Bogor,  tambahnya.

Bukan hanya di Jakarta, lanjut SBY. Dugaan ketidaknetralan aparat juga terjadi pada Pilgub Papua. Di Papua, calon gubernur Papua yang diusung Demokrat, Lukas Enembe diminta oleh petinggi Polri dan BIN melakukan sesuatu yang tidak sepatutnya.

SBY mengaku, sebelumnya ia juga sempat mengungkapkan ketidaknetralan beberapa oknum aparatur negara tersebut

Tidak hanya itu, saat hendak dilakukan penghitungan suara Pilkada DKI pun, lanjut SBY, namanya sempat disebut oleh mantan ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Antasari Azhar sebagai dalang yang membuat Antasari mendekam di bui.

“Kredibilitas saya dirusak, sudah saya adukan ke Polri, hingga hari ini tidak ada kelanjutannya. Kalau seorang mantan presiden menggunakan hak hukumnya tidak ditanggapi, apalagi dengan rakyat jelata,” kata SBY.

Selanjutntny, SBY mengatakan bahwaa saat Pilgub Papua juga terdapat kejanggalan, yakni Lucas Enembe, calon gubernur yang diusung Partai Demokrat, diminta untuk melakukan sesuatu yang tidak sepatutnya oleh petinggi BIN dan Polri.

“Seorang gubernur kebetulan ketua Partai Demokrat Papua diminta untuk menerima seorang jenderal polisi jadi wakilnya, cawagub. Dan memenangkan partai tertentu, dan bukan partai demokrat. Saya kira keterlaluan,” beber SBY.

Di Kalimantan Timur, lanjut SBY, calonnya hampir tidak bisa maju dalam Pilkada karena diperkarakan oleh pihak kepolisian lantaran tidak mau menerima cawagub dari Polri.

SBY juga mendapatkan laporan, dalam Pilkada Riau seorang petinggi TNI diminta oleh petinggi BIN untuk memenangkan pasangan tertentu.

“Di Maluku kejadian, di Aru, semua sudah dengar. Di Jabar, apa harus rumah dinas mantan wakil gubernur digeledah oleh pejabat gubernur,” seru SBY.

“Seorang gubernur kebetulan ketua Partai Demokrat Papua diminta untuk menerima seorang jenderal polisi jadi wakilnya, cawagub dan memenangkan partai tertentu dan bukan partai Demokrat. Saya kira keterlaluan,” jelasnya

SBY juga menerangkan bahwa Polri tidak netral dalam Pilgub Kalimantan Timur. Menurut SBY, calon yang diusung pihaknya hampir tak bisa maju karena diperkarakan oleh pihak kepolisian.

Masalah itu, masih menurut SBY terjadi karena adanya penolakan permintaan calon wakil gubernur dari kepolisian.

Menurut SBY, tidak hanya itu. Ketidaknetralan juga terjadi dalam Pilgub Jawa Timur, yakni serikat pekerja yang ingin mendukung pasangan Khofifah Indar Parawansa-Emil Dardak, para koordinatornya dipanggil pihak kepolisian.

“Yang bersangkutan akan berkunjung ke suatu pabrik di wilayah Jawa Timur batal sesaat karena menurut info yang saya terima yang punya (pabrik) ditelepon oleh pihak kepolisian,” kata SBY

“Di Maluku kejadian, di Aru semua sudah mengikuti. Di Jawa Barat yang baru saja saya dengar, apa harus rumah dinas mantan wakil gubernur, harus digeledah,” tambahnya.

“Saya mohon dengan segala kerendahan hati, netrallah negara, netrallah pemerintah, netrallah BIN, Polri, dan TNI,” pungkas SBY.

Penulis: Sulis Sutrisna

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here