Laporan Realisasi APBN Semester 1-2018 Digelar Akhir Juni

0
317

Jakarta, namalonews.com- Laporan realisasi Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) semester 1-2018 akan dilakukan pada akhir Juni kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Hal ini berimbas pada keterlambatan dalam mengambil keputusan pengajuan APBN-Perubahan 2018 karena pemerintah kesulitan mengukur kinerja pelaksanaan dan kondisi daya tahan APBN hingga akhir tahun.

Kita akan menyampaikan laporan semester kepada dewan pada akhir Juni ini,” ujar Menteri Keuangan Sri Mulyani di Jakarta pada Selasa (26/6/2018).

Menkeu menambahkan kinerja pelaksanaan APBN dan keputasan untuk pengajuan APBN-Perubahan tersebut juga sangat bergantung pada perkembangan kondisi ekonomi makro terkini. Dalam APBN 2018, lanjut Sri, pemerintah telah menentukan asumsi ekonomi makro yaitu pertumbuhan ekonomi 5,4 persen, laju inflasi 3,5 persen, dan tingkat bunga SPN dalam 3 bulan 5,2 persen.

Lebih lanjut, Sri menyebut nilai tukar rupiah terhadap dolar AS Rp 13.400 per dolar AS, harga minyak ICP 48 dolar AS per barel, lifting minyak 800 ribu barel per hari dan lifting gas 1.200 ribu barel setara minyak per hari.

Perkembangan asumsi ekonomi makro sampai akhir Mei 2018 adalah pertumbuhan ekonomi sebesar 5,06 persen atau sama dengan realisasi yang terjadi pada triwulan pertama 2018.

Sementara itu, laju inflasi year to date mencapai 1,67 persen. Sedangkan, Year on year tercatat 3,23 persen. Hal ini disebabkan harga pangan relatif terkendali terutama menjelang periode Hari Raya Idul Fitri.

Selain itu, pergerakan nilai tukar rupiah juga turut menyebabkan rata-rata kurs rupiah hingga 31 Mei 018 berada pada kisaran Rp 13.714 per dolar AS.

Rata-rata suku bunga SPN dalam 3 bulan yang tercatat 4,23 persen dapat terjaga dengan baik. Hal terjadi karena kebijakan front loading, peningkatan intensitas penerbitan SUN dan solidnya kondisi pemodal domestik. Sedangkan, rata-rata harga ICP minyak hingga Mei 2018 mencapai 65,8 dolar AS per barel. Lonjakan harga minyak tersebut disebabkan tren harga minyak mentah dunia terus meningkat.

Menkeu menyebut pergerakan harga minyak dalam periode tersebut cukup tinggi jika dibandingkan dengan harga rata-rata pada periode yang sama di 2017 yakni 50 dolar AS per barel.

Meski demikian, Menkeu memprediksi peningkatan harga minyak tersebut bisa memberikan dampak positif terhadap pendapatan negara dari sisi peneremiaan negara bukan pajak.

Penulis: Boni Ogur

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here