Diprediksi Harga Minyak Dunia Akan Terus Naik

0
177

Jakarta, namalonews.com- Harga minyak dunia kembali melambung tinggi hingga menembus 71 dollat Amerika Serikat per barel. Hal ini disebabkan oleh adanya kekhawatiran pasar terhadap rantai suplai minyak global.

Mengutip informasi dari Bloomberg, pada hari Rabu, 27 Juni 2018, pada pukul 17.30 WIB harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate atau WTI pada kontrak pengiriman bulan Agustus 2018 di Nymex-AS, mengalami kenaikan menjadi 71,11 dollar AS per barel atau sebesar 0,82 persen.

Sebagaimana dilansir oleh kontan.co.id pada hari kemarin, Rabu 27 Juni 2018, dalam jangka waktu sepekan, harga minyak terus menanjak hingga mencapai 8,22 persen. Sejumlah indikator teknikal  juga mengonfirmasi tren bullish harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate atau WTI.

Deddy Yusuf Siregar selaku Analis Asia Tradepoint Futures turut memaparkan bahwa saat ini, harga telah berhasil kembali bergerak di atas garis MA 50, 100, dan juga 200. Dari hal ini, Deddy mengatakan bahwa dalam jangka pendek maupun jangka panjang, harga minyak dunia masih akan mengalami kenaikan.

“Artinya, dalam jangka pendek maupun jangka panjang, harga minyak masih akan naik”, jelas Deddy terkait dengan pergerakan harga minyak dunia.

Sementara itu, indikator MACD masih berada di zona positif, di mana Relative Strength Index atau RSI masih menunjukkan indikasi penguatan dengan berada di level 62. Namun demikian, berbeda dengan RSI, indikator Stochastic saat ini telah berada di level 92. Hal ini menandakan kondisi yang overbought, sehingga harga rawan koreksi.

Tren Penguatan

Walaupun demikian, berdasarkan dari pengamatan Deddy, harga minyak cenderung akan terus mengalami penguatan. Terlebih lagi apabila data stok minyak Amerika Seriakt versi Energy Information Administrationatau EIA kembali dirilis menurun, maka harga minyak dunia dipastikan dapat terus menguat.

Cadangan minyak Amerika Serikat, berdasarkan pada perkiraan Konsensus, akan kembali turun sebanyak 2,4 juta barel per pekan lalu.

“Jika cadangan minyak Amerika Seriakt turun sesuai dengan yang telah diprediksikan, maka ini akan menjadi sentimen pendukung lagi untuk kenaikan harga minyak besok,” terang Deddy menjelaskan prediksinya.

Faisyal seorang Analis Monex Investindo Faisyal juga sependapat, bahwa harga minyak masih dalam tren penguatan. Pelaku pasar, tampaknya tidak khawatir akan terjadinya kelebihan suplai walaupun  OPEC memutuskan bahwa akan menaikkan produksi.

Faisyal memproyeksi harga minyak WTI, pada perdagangan hari Kamis, 28 Juni 2018, akan bergerak pada kisaran 70 sampai dengan 72,30 dollar Amerika Serikat per barel, dengan asumsi data investoris minyak mingguan Amerika Serikat mengalami penurunan. Sementara itu, harga minyak sepekan ke depan, diprediksikan oleh Deddy akan bergulir dalam rentang 69,30 sampai dengan 72,30 dollar Amerika Serikat per barelnya.

Harga Minyak Dunia Kembali Mengalami Kenaikan Sebesar 70 Dollar AS per Barel

Untuk pertama kalinya dalam bulan juni ini, pada perdagangan hari Selasa, 26 Juni 2018, harga minyak mentah Amerika Serikat kembali menyentuh angka 70 dollar Amerika Serikat per barrel. Hal dini dikarenakan, mulai dari bulan November mendatang, Amerika Serikat secara sepihak menginginkan negara-negara yang menjadi sekutunya untuk berhenti mengimpor minyak dari Iran.

Harga kontrak berjangka West Texas Intermediate, sebagaimana dikutip melalui Foxbusiness, telah mengalami peningkatan sebesar 3,6 persen atau 2,45 dollar Amerika Serikat menjadi 70,53 dollar Amerika Serikat per barrel.

Sementara itu, untuk Brent, mengalami peningkatan menjadi 76,70 dollar Amerika serikat per barel, yakni meningkat sebesar 0,29 dollar Amerika Serikat atau 0,38 persen.

“Negara-negara yang turut mengimpor minyak dari Iran, sudah harus mempersiapkan diri untuk mengentikan semua impor mulai bulan November mendatang, seiring dengan pemberlakuan sanksi oleh Amerika Serikat untuk Iran,” terang pejabat dari Kementerian Luar Negeri setempat.

Dirinya kembali menerangkan bahwa Amerika Serikat akan mengisolasi aliran dana yang masuk ke Iran. Selain itu, menurutnya, pada bulan November mendatang, Amerika Serikat akan mendorong negara-negara yang termasuk dalam sekutunya untuk benar-benar menghentikan impor minyak dari Iran.

Sementara itu, Andrew Lebow selaku Senior Partner Commodities Research Group turut menjelaskan bahwa kemungkinan nantinya tidak semua negara yang menjadi sekutu Amerika Serikat akan menuruti keinginan Amerika Serikat tersebut.

Menurut Andrew Lebow, sangat tidak mudah untuk dapat memenuhi keinginan sepihak dari Amerika Serikat, salah satunya adalah negara Cina. Kemungkinan besar, Cina tetap akan melakukan impor minyak mentah dari Iran.

“Ekspor minyak mentah Iran tidak akan menyetuh nol persen. Kemungkinan, Cina tidak akan mengurangi impor minyak mentah dari Iran,” terang Andrew Lebow.

Sebelumnya, pada hari Jumat, 22 Juni 2018 yang lalu, Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak Bumi atau OPEC, beserta negara produsen minyak selain OPEC, telah melakukan pertemuan untuk mendiskusikan kuota produksi minyak dunia.

Dalam perundingan tersebut, telah disepakati untuk meningkatkan produksi minyak sekitar 1 juta barrel per hari, untuk bulan Juli mendatang. Akan tetapi, realisasi peningkatan produksi minyak, kemungkinan akan lebih kecil dari target. Hal ini dikarenakan terdapat beberapa negara  yang kesulitan untuk memenuhi kuota produksi secara maksimal. Tingginya harga minyak pada perdagangan Selasa pekan ini pun, turut berpengaruh terhadap sektor energi, serta memacu kenaikan harga saham di sektor energi diperdagangan, sehingga akan lebih tinggi.

Brent, sebagai patokan harga minyak dunia, pada perdagangan hari Senin, telah jatuh sebesar 1,8 persen menjadi 74,15 dollar Amerika Serikat per barelnya. Sementara itu, harga perdagangan West Texas Intermediate turun menjadi 68,95 dollar AS per barrel atau mengalami penurunan sebesar 0,5 persen.

Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak Dunia, dalam pertemuan yang dilaksanakan di Vienna, Austria pada akhir pekan lalu telah mencapai kesepakatan untuk mengurangi jumlah pemotongan produksi, di mana sebelumnya mencapai 150 persen pada bulan Mei lalu, sehingga menjadi 100 persen di awal Juli mendatang.

Sebelumnya, telah diumumkan kepada publik bahwa produksi minyak dari Arab Saudi akan ditingkatkan hingga mencapai 1 juta barel per harinya. Akan tetapi, berdasarkan prediksi dari analis, dikarenakan adanya gangguan produksi di beberapa negara lain, mak jumlah yang akan terealisasi akan lebih kecil.

Jason Gammel seorang analis dari Jeffries menjelaskan bahwa berdarkan kesepakatan yang baru akan memutuskan untuk menambahkan hasil produksi minyak, yakni sebesar 700.000 barrel per hari. Menurutnya, pada kuartal ke 3 tahun ini, negara-negara pemroduksi minyak seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Rusia, dan Kuwait akan menambahkan suplai kepada pasar dalam jumlah yang cukup besar.

“Kami pikir, produsen minyak dunia tidak mungkin akan membanjiri pasar, dan membuat harga minyak menjadi anjlok. Akan tetapi, pada saat yang bersamaan, harga yang terlampau tinggi akibat permintaan serta temperamen dari Presiden Amerika Serikat, nampaknya akan menimbulkan dampak yang tak menyenangkan untuk organisasi ini,” terang Gammel, sebagai mana yang dikutip melalui BusinessInsider, pada hari Selasa, 26 Juni 2018.

Penulis: Sulis Sutrisna/ Berbagai Sumber

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here