Ini Kata PDIP yang Kalah di 11 Pilgub

0
255

Jakarta, namalonews.com- Indonesia menggelar pesta demokrasi rakyat berupa pemilihan gubernur dan pemilihan kepala daerah di sejumlah daerah yang ada di Indonesia pada hari kemarin, Rabu, 27 Juni 2018.

Pada pelaksanaan pemilihan umum tersebut, PDIP mengalami kekalahan di sejumlah 11 Pemilihan Gubernur tahun 2018 versi quick count yang telah dilakukan oleh sejumlah lembaga survei. Dalam menanggapi hal ini, PDIP memiliki alasan berupa hasiil analisis terkait dengan kekalahan tersebut.

“PDIP itu kan, saat ini sedang mengawal tentang data manual yah. Nah, misalkan data manual itu sangat lamban, maka kalau versi quick count memang seperti itu. Ya, tadi aku lihat juga di analisis beberapa media,” jelas Eva Kusuma Sundari selaku Sekretaris Badan Pendidikan dan Pelatihan, DPP PDIP, pada hari Rabu, 27 Juni 2018.

5 dari 11 provinsi yang tidak termasuk dimenangkan oleh PDIP di antaranya adalah Jawa Timur, Kalimantan Barat, Jawa Barat, Sumatera Utara, dan Sumatera Selatan. Faktor ketokohan dari calon yang diusung sampai dengan popularitas calon, menurut Eva Kusuma, menjadi penyebab kekalahan PDIP di beberapa Pilgub.

“Mungkin bisa karena ketokohan yang ga pas, atau mungkin strategi kampanye yang ga pas. Tapi ini berdasarkan dari kasus yah,” terang Eva.

Eva Kusuma menjelaskan bahwa kekalahan yang mereka alami di sejumlah provinsi tidak bisa secara langsung dikatakan sebagai kelemahan dari PDIP. Menurut Eva, memang di beberapa daerah, terdapat beberapa yang tidak berbasis PDIP. Meskipun demikian, mengingat mereka tak punya basis massa yang tetap, hasil Pilgub 2018 di wilayah tersebut dianggap Eva cukup baik.

“Kaya di Jabar. Yang kita kalah itu, kan bukan daerah kita. Pilgub selalu kalah ya di Jatim, jadi bukan kemudian ada orang yang menyimpulkan, “itu lihat PDIP calonnya rontok semua”. Ga bisa seperti itu, karena di Jatim itu kan daerahnya NU. Bukan daerahnya PDIP, tapi PDIP bisa ngangkat segitu, artinya kan lumayan bagus. Dan itu saya yakin, nanti kerja di pileg membaik, termasuk juga di Sumatera,” jelas Eva memberikan analisanya terkait dengan kekalahan yang dialami pihaknya di sejumlah daerah.

PDIP Raih Kemenangan di 6 Pilgub dan 91 Daerah di Pilkada Serentak 2018

Selain mengalami kekalahan di 11 Pemilihan Gubernur di Indonesia, PDIP telah berhasil memenangkan sejumlah 97 Pemilihan Kepala Daerah dari total 171 derah yang melaksanakan pemilihan umum tersebut. Hal ini dapat diketahui setelah PDIP melakukan rekapitulasi hasil pemilihan umum.

“Dari 17 Pilgub, PDI-Perjuangan memenangkan pada 6 provinsi, Maluku, Maluku Utara, Bali, Jateng, Papua dan Sulsel. Pada 6 provinsi tersebut, terdapat sebanyak 4 kader partai PDIP yang menjadi gubernur, kemudian sebanyak 3 kader yang menjadi wakil gubernur,” kata pihak PDIP yang disampaikan oleh Eva Kusuma pada hari Rabu, 27 Juni 2018.

Sementara itu, Eva Kusuma menjelaskan bahwa PDIP memperoleh hasil dengan memenangkan sebesar 60% daerah dari total 152 wilayah yang diikutinya (total terdapat sejumlah 154 tingkat kabupaten/kota). Dari 154 kabupaten atau kota, PDIP hanya mengikuti sejumlah 152 wilayah, dan memenangkannya di sejumlah 91 daerah dan kalah di 59 daerah.

Eva juga mengatakan, jumlah kader PDIP yang menjadi kepala daerah ada sebanyak 33 dan wakil kepala sebanyak 38, dari total 91 daerah yang dimenangi oleh PDIP. Eva mengatakan, semua kader yang telah terpilih pada Pilkada Serentak 2018 kemarin sudah mengikuti Sekolah Calon Kepala Daerah PDIP.

Analisis Kekalahan Sejumlah Jagoan PDIP di Berbagai Daerah

Pilkada Serentak yang dilaksanakan pada 2018, terdapat beberapa hasil mengejutkan Walaupun masih belum ada pengumuman perhitungan resmi Komisi Pemilihan Umum (KPU). Salah satunya kalahnya sejumlah pasangan calon yang diusung PDI Perjuangan dalam versi hitungan cepat alias quick count.

Hendri Satrio yang merupakan pengamat politik dari Universitas Paramadina, turut menganalis penyebab jagoan calon kepala daerah dari partai PDIP yang keok di pemilihan umum yang dilaksanakan kemarin. Hendri mengambil contoh kekalahan yang dialami oleh pasangan TB Hasanuddin dan Anton Charliyan pada Pemilihan Gubernur Jawa Barat. Hal ini berkaitan dengan partai PDIP yang merupakan partai politik denan elektoral kursi terbesar di Jawa Barat, sehingga seharusnya dapat mengusung pasangan calon kepala daerah tanpa adanya koalisi.

“Kekalahan yang ada di Jabar ini karena duet PDIP tidak kuat dan juga tidak dekat dengan warga pemilih. Akan berbeda hasilnya jika dekat dengan warga, seperti di Pilgub Bali dan Jateng, di sana PDIP menang,” jelas Hendri, pada hari Rabu, 27 Juni 2018 kemarin.

Pemilihan Gubernur di Sumatera Utara, menurut Hendri juga mengalami hal yang serupa dengan Pilgub di Jawa Barat. Menurutnya, interest eks gubernur DKI yang kurang dikenal oleh warga Sumut lah yang menjadi penyebab kekalahan Djarot Syaiful Hidayat dan Sihar Sitorus. Djarot dinilai masih sulit untuk merangkul warga Sumut walaupun secara kertas relatif imbang jika dibandingkan dengan duet Edy Rahmayadi-Musa Rajekshah alias Ijeck.

“Tidak mudah. Faktor kedekatan dengan warga pemilih lah yang utama, sehingga PDIP dalam seleksi, harus diperkuat,” terang Hendri.

Sementara itu, Syarif Hidayatullah Adi Prayitno selaku pengamat politik dari Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, menanggapi kekalahan pasangan calon Karolin Margret dan Suryadman Gidot yang bertarung di Pilgub Kalimantan Barat. Menurutnya, saat ini meskipun Karolin merupakan putri dari mantan Gubernur Kalbar yang menjabat selama dua periode yaitu Cornelis, namun hal ini tidak berpengaruh lagi, karena trah politik sudah tidak dapat dijadikan sebagai acuan lagi.

Saat ini, tanpa melihat trah dari calon pemimpin, masyarakat yang merupakan pemegang hak suara dapat menentukan suaranya. Menurutnya politik dinasti saat ini bukan lah jaminan bakal terpilihnya generasi penerus dari seorang yang memiliki jabatan pada periode sebelumnya. Lembaga survei dapat mengetahui kelemahan Karolin dari hasil analisis yang telah dilakukan, sehingga Karolin tidak dapat memenangkan pemilihan.

Kemudian, Adi turut menyoroti Pemilihan Gubernur yang ada di Jawa Timur. Adi melihat pada kekalahan yang dialami oleh pasangan Syaifullah Yusuf alias Gus Ipul dan Puti Guntur. Dari hasil analisis yang dilakukan oleh Adi, duet pasangan ini memiliki kelemahan dalam figur Puti. Menurutnya, Puti yang merupakan mantan anggota DPR, dinilai belum mengakar di Jatim, sehingga cenderung terkesan memaksakan.

Adi berpendapat bahwa kejadian yang dialami oleh Puti berbeda halnya dengan Abdullah Azwar Anas yang menyatakan mundur dari persaingan pemilihan umum. Dalam pemilihan umum ini, Puti cenderung memaksakan dengan langsung melaju ke Jawa Timur yang sebelumnya di Jawa Barat. Karena belum mengakar dan memiliki reputasi yang baik, Puti belum bisa mengimbangi Gus Ipul yang masih berhasil memimpin di pemilihan umum tahun 2018 ini.

Penulis: Sulis Sutrisna/ Berbagai Sumber

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here